Kabarmasjid.id, Surabaya -Hari Raya Idul Adha dan ibadah kurban selalu menjadi momen yang dinanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Bau khas sembelihan, deretan hewan kurban di sudut-sudut kota, hingga kesibukan membagikan kantong-kantong daging menjadi pemandangan yang lazim kita saksikan. Namun, di balik riuhnya rutinitas tahunan ini, sudahkah kita benar-benar merenungkan apa esensi terdalam dari ritual penyembelihan yang kita lakukan? Jangan-jangan, selama ini kita terjebak pada dimensi lahiriah semata tanpa menyentuh esensi spiritual yang sesungguhnya.
Tepat pada hari Selasa, 26 Mei 2026, yang bertepatan dengan Hari Arafah 9 Zulhijah, Masjid Al Falah Surabaya menyelenggarakan kajian mimbar zuhur bersama narasumber Ustadz Isa Shaleh Kuddeh, M.Pd.I. Dalam tausiah mendalam bertajuk “Dagingnya untuk Manusia, Taqwanya untuk Allah”, beliau mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk membedah kembali Surah Al-Hajj ayat 37. Ayat ini menjadi fondasi penting untuk memahami bahwa nilai sebuah ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diukur dari aspek fisik yang kasat mata.
Dalam pembukaannya, Ustadz Isa mengingatkan bahwa ketaatan adalah nikmat terbesar yang sering kali dilupakan manusia. Kesempatan hidup untuk bisa beribadah, melangkah ke masjid, dan duduk di majelis ilmu merupakan karunia yang sangat didambakan oleh orang-orang yang telah mendahului kita di alam kubur. Oleh karena itu, bulan Zulhijah, terutama sepuluh hari pertamanya, harus dioptimalkan dengan maksimal untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Sang Pencipta.
Inti dari kajian ini berputar pada tafsir Surah Al-Hajj ayat 37, di mana Allah berfirman bahwa daging dan darah hewan kurban sama sekali tidak akan mencapai keridaan-Nya, melainkan ketakwaan dari manusialah yang akan sampai. Pesan kuat dari ayat ini menegaskan bahwa nilai sebuah ibadah tidak terletak pada bentuk lahiriahnya semata. Ritual zahir seperti kurban barulah dianggap memiliki nilai yang sah apabila didorong oleh roh batiniah yang bersih, yakni keikhlasan penuh kepada Allah.
Lebih lanjut, Ustadz Isa menjabarkan empat pelajaran besar yang dapat dipetik dari ibadah kurban. Pelajaran pertama adalah bahwa Allah tidak menilai seberapa besar atau seberapa mahal hewan yang kita korbankan, melainkan seberapa besar ketakwaan di dalam hati. Siapa pun yang berkurban harus memastikan bahwa motif utamanya adalah mengharap pahala dan rida Allah semata, bukan untuk memburu pujian, sanjungan, ataupun demi menaikkan status sosial di mata tetangga.
Terkait menjaga keikhlasan ini, sang ustadz memberikan sentilan keras terhadap fenomena pamer di era digital. Beliau mengimbau jamaah agar tidak perlu sibuk membuat status di media sosial yang memamerkan foto diri bersama hewan kurban yang mahal. Jiwa manusia pada hakikatnya sangat lemah dan mudah goyah oleh pujian. Memamerkan ibadah kurban dikhawatirkan dapat mengikis pahala keikhlasan, padahal cukuplah Allah saja yang menjadi saksi atas pengorbanan kita.
Pelajaran kedua dari kurban adalah sebuah latihan spiritual untuk menyembelih rasa cinta dunia dan sifat kikir. Hewan kurban sejatinya adalah simbol dari harta dan kesenangan duniawi yang kita miliki. Ibadah ini menguji kemampuan kita: mampukan kita melepaskan sebagian kesenangan dunia demi ketaatan kepada Allah, atau justru sebaliknya, kita kerap mengorbankan perintah Allah demi mengejar materi duniawi yang fana?
Beliau menekankan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk menyukai dunia karena kita memang hidup di dalamnya. Namun, yang menjadi masalah besar adalah ketika dunia telah mengikat hati dan merasuki jiwa secara berlebihan, sehingga mengaburkan tujuan akhirat. Dunia seharusnya diletakkan di tangan sebagai sarana ibadah, bukan diletakkan di dalam hati sebagai tujuan hidup utama yang membuat seseorang menjadi enggan berbagi.
Pelajaran ketiga yang dipetik dari ibadah kurban adalah sebagai sarana untuk mengagungkan Allah atas segala hidayah yang telah diberikan. Inilah alasan mengapa umat Muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid sepanjang bulan Zulhijah. Lantunan takbir yang kita ucapkan, baik secara mutlak di perjalanan maupun secara terikat selepas shalat fardhu, merupakan bentuk nyata dari pengakuan kita atas kebesaran Allah.
Sementara itu, pelajaran keempat atau yang terakhir adalah bahwa kurban harus mampu melahirkan sikap ihsan. Di akhir Surah Al-Hajj ayat 37, Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik (muhsinin). Sikap ihsan ini terbagi menjadi dua dimensi yang saling berkesinambungan, yaitu hubungan vertikal kepada Sang Pencipta dan hubungan horizontal sesama makhluk hidup.
Dimensi pertama adalah ihsan kepada Allah, di mana seorang hamba senantiasa mengkondisikan hatinya agar merasa selalu diawasi oleh Allah dalam setiap helai napas dan amalannya. Dimensi kedua adalah ihsan kepada makhluk, yang diwujudkan melalui kesediaan untuk berbagi kebaikan, menyebarkan manfaat, serta menyantuni sesama manusia lewat daging kurban yang didistribusikan.

Sebagai penutup kajian, Ustadz Isa Shaleh Kuddeh mengajak jamaah untuk merefleksikan kembali bahwa manusia akan menjadi mulia apabila ia mampu mengagungkan Allah sekaligus memberi manfaat bagi orang lain. Beliau berdoa agar Allah berkenan membersihkan hati kita dari penyakit riya dan mengisinya dengan rasa cinta yang tulus. Sebab, pada akhirnya, seluruh shalat, ibadah, sembelihan, serta hidup dan mati kita sejatinya hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam.
Sumber: Mimbar Dzuhur dengan tema “Dagingnya Untuk Manusia, Taqwanya untuk Allah” Bersama Ustadz Isa Shaleh Kuddeh, M.Pd.I. pada Selasa 26 Mei 2026 di Masjid Al Falah Surabaya