Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, kesadaran umat Muslim kembali disegarkan melalui pemahaman mendalam mengenai syariat kurban yang bukan sekadar ritual tahunan. Suasana khidmat menyelimuti jamaah yang hadir dalam program Kajian Subuh Live di Masjid Nurul Iman, Komplek Margorejo Indah, Surabaya, yang diselenggarakan pada Minggu, 24 Mei 2026. Menghadirkan narasumber pakar filologi dan bahasa kuno, Ustadz Prof. Dr. Menachem Ali, kajian kali ini mengupas tuntas rahasia keotentikan Al-Qur’an secara tekstual serta membedah filosofi pengorbanan agung keluarga Nabi Ibrahim AS dari sudut pandang logika keimanan.
Al-Qur’anul Karim sebagai kitab suci penutup zaman senantiasa memancarkan daya tarik yang luar biasa, tidak hanya bagi umat Muslim tetapi juga di kalangan peneliti Barat. Salah satu bukti otentisitas mutlak Al-Qur’an termaktub pada kalimat dzalikal kitabu la raiba fih di awal surah Al-Baqarah, yang bermakna bahwa tidak ada celah keraguan sedikit pun di dalamnya. Prof. Menachem Ali mengibaratkan garansi Allah terhadap Al-Qur’an ini layaknya kemurnian emas Antam 24 karat yang dilengkapi surat jaminan. Jika emas itu diuji fisik atau dilebur oleh siapa pun, ia tidak akan berkurang satu gram pun; begitu pula Al-Qur’an yang tetap kokoh, benar, dan teruji secara ilmiah dari aspek diksi maupun struktur teksnya.
Salah satu mukjizat terbesar dalam menjaga keotentikan Al-Qur’an terletak pada konsistensi bentuk tulisan atau Rasm Usmani yang tidak boleh diubah sejak abad ke-7 hingga era digital abad ke-21 sekarang. Penyalinan mushaf Al-Qur’an sepanjang sejarah wajib merujuk langsung pada naskah induk (master), bukan sekadar mengandalkan pendengaran sang penulis. Melalui pendekatan filologi, Prof. Menachem menunjukkan keunikan penulisan nama “Ibrahim” dalam Al-Qur’an yang ditulis tanpa huruf alif setelah ra dan tanpa huruf ya setelah ha. Model penulisan ini sengaja dipertahankan agar teks tersebut secara luwes dapat diakomodasi untuk dibaca dalam dua cara yang sah, yakni “Ibrahim” maupun “Ibraham”, tanpa merubah satu huruf pun dalam naskah aslinya.
Keajaiban tekstual serupa juga dapat dijumpai pada penulisan nama “Ismail” yang di dalam mushaf ditulis tanpa menggunakan huruf alif setelah huruf mim. Ketatnya aturan ini membuat para penyalin Al-Qur’an di seluruh dunia tidak memiliki otoritas sedikit pun untuk menambahkan atau mengurangi alfabet asli Al-Qur’an, meskipun kaidah penulisan Arab umum di luar Al-Qur’an membolehkannya. Fenomena mukjizat matematis-linguistik lain yang dipaparkan dalam kajian ini adalah frasa Sab’a Samawat (tujuh lapis langit). Ketika Al-Qur’an berbicara mengenai rincian tujuh lapis langit, secara menakjubkan jumlah huruf Arab yang menyusun frasa tersebut di dalam teksnya juga berjumlah tepat tujuh huruf.
Melangkah lebih dalam pada substansi isi Al-Qur’an, Prof. Menachem mengajak jamaah menelisik kisah keluarga Nabi Ibrahim AS yang diabadikan sebagai pelajaran hidup yang valid. Melalui Surah Ibrahim ayat 39, sang nabi mengakui dengan tulus bahwa kedua putranya, Ismail dan Ishak, dianugerahkan oleh Allah di masa usianya yang sudah sangat tua renta (alal kibari). Fakta sejarah ini terkonfirmasi secara lintas kitab suci, di mana riwayat mencatat Nabi Ibrahim berusia 86 tahun saat Ismail lahir dan menginjak usia 100 tahun ketika Ishak lahir. Pengakuan ini pun diperkuat oleh sang istri, Sayidah Sarah, yang tercatat dalam Al-Qur’an melahirkan di usia 90 tahun setelah sebelumnya divonis mandul dan telah memasuki masa menopause.
Dari latar belakang kelahiran yang penuh mukjizat inilah, nama kedua putra nabi tersebut menyimpan arti filosofis yang sangat mendalam. Nama “Ismail” berakar dari makna “Allah telah mendengar” (Sami’al-lah), sebuah monumen pengingat atas munajat dan doa puluhan tahun Nabi Ibrahim yang tidak pernah kering meminta keturunan saleh hingga akhirnya diijabah di masa emergency. Sementara itu, nama “Ishak” memiliki arti “dia yang tertawa atau tersenyum”. Nama ini mengabadikan momen kemanusiaan ketika Sayidah Sarah sempat keheranan dan tertawa di balik tabir karena menganggap mustahil bagi perempuan senja sepertinya untuk mengandung, namun kuasa Allah membalikkan kemustahilan tersebut menjadi kebahagiaan nyata.
Kisah anugerah luar biasa di usia senja ini menjadi fondasi utama untuk memahami mengapa perintah kurban menjadi sebuah drama kolosal yang amat berat. Prof. Menachem Ali memaparkan bahwa ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim dirancang secara bertingkat oleh Allah SWT. Sebelum diuji dengan perintah menyembelih anak, Nabi Ibrahim telah lulus dalam ujian yang mengancam nyawanya sendiri, yaitu ketika beliau dengan penuh kepasrahan dilempar ke dalam kobaran api Raja Namrud. Ketika seseorang telah selesai dengan urusan keselamatan dirinya demi cinta kepada Sang Pencipta, maka tingkat ujian berikutnya dinaikkan pada sesuatu yang jauh lebih berharga dari nyawanya sendiri, yaitu nyawa anak kandungnya.
Secara rincian sejarah tafsir Jalalain, perintah penyembelihan itu datang ketika Nabi Ismail menginjak usia bighulamin halim, yakni sekitar 13 tahun—sebuah fase usia yang setara dengan anak sekolah menengah pertama (SMP). Usia 13 tahun adalah masa di mana seorang anak sedang menggemaskan, dinanti-nantikan, dan menjadi tumpuan harapan masa depan orang tuanya setelah hidup bersama selama belasan tahun. Di titik krusial inilah ego kemanusiaan Nabi Ibrahim diuji secara ekstrem: beliau diminta untuk berpisah secara tragis dengan memotong leher putra tercintanya sendiri, sebuah perintah yang secara logika kemanusiaan biasa pasti akan ditolak mentah-mentah.
Di sinilah iblis laknatullah masuk mengambil kesempatan dengan membisikkan narasi-narasi kemanusiaan yang sangat manis di tiga tempat berbeda untuk menggoyahkan iman Nabi Ibrahim. Iblis menghasut bahwa tindakan tersebut tidak masuk akal dan akan melenyapkan harta paling berharga yang dimiliki di masa tua, namun Nabi Ibrahim memilih menghalaunya dengan lemparan batu yang kini kita peringati sebagai syariat lempar jumrah dalam ibadah haji. Keagungan akhlak Nabi Ibrahim semakin tampak ketika komunikasi yang berat itu disampaikan kepada Nabi Ismail, yang secara menakjubkan justru dijawab dengan keteguhan iman sang anak: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu.”
Prof. Menachem Ali kemudian membedah alasan teologis di balik mengapa Allah tidak langsung memerintahkan penyembelihan hewan ternak sejak awal kepada Nabi Ibrahim. Jika sejak awal perintahnya adalah menyembelih domba atau sapi, Nabi Ibrahim tentu akan langsung taat tanpa beban karena beliau memiliki stok hewan ternak yang melimpah. Melalui perintah menyembelih anak satu-satunya itulah, Allah ingin mengikis habis rasa kepemilikan mutlak (sense of ownership) yang ada di dalam hati manusia. Ujian ini mengajari kita bahwa anak, harta, pasangan, dan jabatan pada hakikatnya bukanlah milik kita pribadi, melainkan murni titipan dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh Pemilik aslinya.
Menariknya, kajian ini menekankan adanya perbedaan mendasar antara cara pandang materialistik dan logika keimanan dalam hal memberi atau berkorban. Dalam kacamata materialistik, mengeluarkan harta atau sedekah dinilai sebagai sebuah kehilangan materi yang mengurangi jumlah kekayaan. Namun, drama kurban membuktikan sebaliknya; ketika Nabi Ibrahim secara totalitas memasrahkan hak kepemilikannya atas Ismail kepada Allah, Allah justru tidak membiarkan Ismail mati, melainkan menggantinya dengan seekor domba yang agung. Apa yang dikira akan hilang dari genggaman justru dikembalikan utuh oleh Allah, bahkan ditambah dengan keberkahan lahirnya putra kedua, Nabi Ishak.

Sebagai penutup kajian yang sarat makna ini, Prof. Menachem Ali berpesan kepada seluruh jamaah untuk mulai menata hati secara total jelang pelaksanaan ibadah kurban. Kata kurban yang berasal dari bahasa Arab taqarrub memiliki esensi dasar untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Oleh karena itu, hewan kurban yang disembelih kelak jangan sampai dikotori oleh motivasi terselubung seperti ingin dipuji orang lain, gengsi sosial antarkeluarga, atau sekadar menggugurkan kewajiban tahunan. Ibadah kurban harus dijadikan momentum untuk menyembelih ego pribadi, kesombongan, dan rasa memiliki dunia secara berlebihan agar jiwa kita yang semula jauh dapat semakin didekatkan pada ridha Allah SWT.
Sumber: Kajian Subuh bersama Ustadz Prof. Dr. Menachem Ali di Masjid Nurul Iman, Komplek Margorejo Indah, Surabaya, pada Minggu 24 Mei 2026.