Belajar Keteladanan Keluarga dari Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Ustadz Djauhari Ibrahim, S.Ag
Ustadz Djauhari Ibrahim, S.Ag

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia yang bergerak begitu cepat sering kali melenakan manusia dari esensi nilai-nilai spiritualitas yang mendasar. Kesibukan mengejar materi dan tuntutan kehidupan modern tidak jarang membuat kita melupakan makna sejati dari sebuah ketulusan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Momentum ibadah di bulan Dzulhijjah hadir kembali sebagai alarm spiritual yang ampuh, mengetuk pintu hati setiap insan untuk merenungkan kembali tujuan hakiki dari kehidupan ini di tengah hiruk-pikuk keduniawian.

Pada hari Jumat, 29 Mei 2026, yang bertepatan dengan tanggal 12 Dzulhijjah 1447 H, suasana khidmat menyelimuti ibadah shalat Jumat di Masjid Taqwa, Surabaya. Bertindak sebagai khatib, Ustadz Djauhari Ibrahim, S.Ag., menyampaikan khutbah yang mendalam mengenai refleksi hari tasyrik dan esensi keteladanan Nabi Ibrahim AS. Di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid, ia mengajak umat Islam untuk menarik pelajaran penting dari sejarah pengorbanan agung yang melandasi hari raya Idul Adha.

Dalam pemaparannya, khatib menekankan bahwa hari tasyrik yang sedang dijalani umat Muslim bukan sekadar waktu untuk menikmati hidangan daging kurban. Hari-hari ini merupakan ruang waktu istimewa yang dipenuhi oleh pancaran energi spiritual, di mana takbir dan zikir terus dikumandangkan sebagai bentuk pengakuan atas keagungan Allah SWT. Melalui momentum ini, umat diajak untuk membersihkan hati dari sifat egois dan keserakahan yang sering kali mengotori jiwa manusia.

Ustadz Djauhari menguraikan kisah monumental Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai representasi dari puncak ketaatan seorang hamba kepada penciptanya. Perintah penyembelihan yang diterima melalui mimpi diuji bukan untuk mengalirkan darah, melainkan untuk membuktikan sejauh mana cinta makhluk kepada Khalik-nya mampu melampaui cinta duniawi. Keteguhan hati ayah dan anak dalam menjalankan perintah tersebut menjadi potret abadi dari sebuah keimanan yang tanpa syarat.

Khatib juga menyelipkan pesan penting mengenai keteladanan dalam institusi keluarga yang tercermin dari dialog kedua nabi tersebut. Nabi Ibrahim tidak memaksakan perintah itu secara otoriter, melainkan membicarakannya dengan santun, sementara Nabi Ismail menjawabnya dengan penuh keikhlasan dan kepatuhan. Harmonisasi hubungan bapak dan anak ini menjadi cetak biru bagi orang tua modern dalam mendidik generasi penerus yang memiliki mentalitas tangguh serta landasan tauhid yang tidak mudah goyah oleh badai zaman.

Dari kisah tersebut, Ustadz Djauhari memandang bahwa esensi kurban sesungguhnya adalah proses menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia. Egoisme, ketamakan, kesombongan, dan ketidakpedulian terhadap sesama adalah “hewan kurban” internal yang harus ditundukkan agar jiwa manusia kembali suci. Pengorbanan harta dalam bentuk hewan ternak hanyalah simbol lahiriah dari kerelaan kita melepaskan apa yang kita cintai demi meraih rida-Nya.

Lebih lanjut, khutbah tersebut juga menyentuh aspek sosial yang sangat kental dalam ibadah kurban, di mana pembagian daging menjadi jembatan pengikat ukhuwah antarsesama. Umat Islam diajak untuk memperkuat solidaritas sosial dengan memperhatikan nasib kaum duafa dan mereka yang membutuhkan di sekitar lingkungan tempat tinggal. Kepedulian yang nyata ini menjadi bukti bahwa kesalehan ritual harus selalu berjalan beriringan dengan kesalehan sosial di tengah masyarakat.

Di era kontemporer seperti sekarang, tantangan dalam mengimplementasikan nilai pengorbanan tentu mewujud dalam bentuk yang berbeda dibanding masa lalu. Meneladani Nabi Ibrahim di masa kini berarti berani mengorbankan waktu, tenaga, dan ego pribadi demi kemaslahatan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Nilai ketaatan ini menjadi sangat relevan ketika kita diperhadapkan pada pilihan moral antara kepentingan pribadi yang sesaat atau kemanfaatan yang lebih luas.

Ustadz Djauhari juga mengingatkan jemaah akan pentingnya menjaga konsistensi takwa setelah bulan Dzulhijjah dan hari tasyrik ini berlalu. Transformasi spiritual yang dirasakan selama hari raya harus membekas dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar menjadi ritual tahunan yang datang dan pergi tanpa makna. Karakter tangguh, jujur, dan penuh empati yang ditempa melalui ibadah kurban diharapkan mampu menjadi fondasi moral dalam menghadapi dinamika zaman.

Tantangan moral ini menjadi kian nyata, terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah gempuran arus informasi digital yang individualistis. Melalui mimbar Jumat ini, terselip harapan besar agar nilai-nilai pengorbanan dan keikhlasan yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim dapat diadopsi menjadi gaya hidup digital yang positif. Pemuda Muslim diharapkan mampu mengorbankan waktu senggang mereka demi memproduksi konten yang mengedukasi serta menyebarkan pesan kedamaian, alih-alih terjebak dalam pusaran hoaks dan ujaran kebencian.

Melalui pesan khutbah, Ustadz Djauhari menggambarkan dengan jelas bahwa penguatan karakter bangsa harus dimulai dari penguatan spiritualitas individu yang kokoh. Ketika setiap anggota masyarakat memiliki kesadaran untuk saling berbagi dan mengedepankan sifat amanah, maka tatanan sosial yang harmonis akan tercipta dengan sendirinya. Semangat pengorbanan ini menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam membangun peradaban yang beradab dan berkemajuan.

Sebagai penutup khutbah Jumat, Ustadz Djauhari mengingatkan dengan sejuk sekaligus tegas bahwa kedekatan kepada Allah SWT hanya bisa dicapai melalui ketulusan niat dan keikhlasan dalam beramal. Hidup adalah rangkaian ujian, dan sebagaimana Nabi Ibrahim yang keluar sebagai pemenang lewat ujian pengorbanan, kita pun diharapkan mampu melewati ujian hidup kita masing-masing. Hari tasyrik ini melabuhkan sebuah pesan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kelapangan hati untuk memberi dan berserah diri sepenuhnya.

Sumber: khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Djauhari Ibrahim, S.Ag. pada 29 Mei 2026 di Masjid Taqwa Surabaya

E-Buletin