Kabarmasjid.id, Surabaya – Ibadah qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan ternak yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan Zulhijah. Lebih dari itu, ia merupakan manifestasi ketaatan hamba kepada Sang Pencipta yang menyimpan dimensi spiritual mendalam. Sebagaimana disampaikan oleh KH. Ahsanul Haq dalam kajian yang berlangsung di Masjid Al Akbar Surabaya pada tanggal 29 Mei 2026, ibadah ini memiliki kedudukan istimewa dalam membentuk karakter dan ketakwaan seorang Muslim.
Dalam esensi terdalamnya, qurban adalah ujian keimanan yang mampu mengikis sifat egoisme serta kecintaan berlebihan terhadap duniawi. Ketika seseorang bersedia melepaskan sebagian hartanya untuk berkurban, ia sejatinya sedang melepaskan keterikatan hatinya pada harta tersebut. Proses ini merupakan latihan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan setulus-tulusnya.
KH. Ahsanul Haq menegaskan bahwa setiap tetes darah hewan qurban yang mengalir ke bumi memiliki nilai pahala yang sangat besar di sisi Allah. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bersedia menjalankan perintah-Nya dengan penuh kerelaan. Ibadah ini menjadi bukti nyata bahwa seorang hamba mendahulukan perintah Ilahi di atas kepentingan pribadi.
Lebih jauh, semangat berbagi kepada sesama yang muncul melalui pembagian daging qurban menjadi jembatan persaudaraan. Di tengah realitas sosial yang masih banyak dihuni oleh kaum dhuafa, qurban menjadi oase bagi mereka yang jarang menikmati kemewahan. Kehadiran daging qurban di meja makan keluarga kurang mampu adalah wujud nyata kepedulian sosial yang diajarkan Islam.
Di dunia, hikmah qurban terpancar melalui terciptanya keharmonisan dan rasa syukur di tengah masyarakat. Perasaan saling berbagi ini mampu meredam kesenjangan dan menumbuhkan rasa empati yang mendalam antar sesama manusia. Inilah modal utama dalam membangun masyarakat yang madani dan penuh kasih sayang.
Namun, manfaat qurban tidak berhenti di ranah sosial duniawi semata. Dalam dimensi eskatologis atau akhirat, ibadah qurban diyakini memiliki kedudukan yang sangat vital. Banyak riwayat menyebutkan bahwa hewan qurban akan menjadi saksi keimanan pemiliknya di hadapan Allah SWT pada hari perhitungan nanti.
Pada hari kiamat yang penuh dengan ketakutan, setiap perbuatan baik akan menjadi penyelamat bagi pelakunya. Hewan yang dikurbankan dengan niat yang benar, akan menjadi kendaraan atau syafaat yang mendampingi pemiliknya menuju surga. Hal ini memberikan penghiburan bagi orang mukmin bahwa ketaatan mereka selama di dunia akan berbuah manis di akhirat.
Kunci utama dari keberhasilan ibadah qurban terletak pada keikhlasan hati sang pengkurban. Tanpa niat yang tulus semata-mata mengharap rida Allah, qurban hanyalah menjadi kegiatan menyembelih hewan biasa. Keikhlasan itulah yang akan menjadi timbangan berat bagi amal perbuatan seseorang di akhirat kelak.
Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya mempersiapkan diri untuk berqurban dengan kesadaran penuh. Persiapan tidak hanya terbatas pada pemilihan hewan yang terbaik dan sehat, tetapi juga pada penyucian niat di dalam hati. Memilih hewan yang paling dicintai untuk dikurbankan adalah bentuk pengabdian tertinggi yang sangat dianjurkan.
Melalui ibadah qurban, kita juga diajak untuk merefleksikan kembali keteladanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Keikhlasan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan apa yang paling dicintainya adalah standar tertinggi dari sebuah ketaatan. Kita mungkin tidak diminta untuk melakukan ujian yang sama, namun semangat pengorbanan itu harus selalu ada dalam diri kita.
Mari kita jadikan momen qurban sebagai momentum untuk melakukan muhasabah diri. Apakah ibadah qurban yang kita lakukan selama ini sudah mampu mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah? Jika belum, maka jadikanlah qurban tahun ini sebagai titik balik perubahan dalam hidup kita.
Di era modern yang penuh dengan distraksi ini, tantangan dalam berqurban tidak hanya terletak pada kemampuan finansial, tetapi juga pada godaan untuk sekadar ikut-ikutan atau mencari pengakuan sosial (riya). Penting bagi setiap Muslim untuk tetap menjaga niat agar ibadah qurban ini tetap murni, tidak terkotori oleh keinginan untuk dipuji sebagai orang dermawan. Keikhlasan yang terjaga dalam kesendirian justru memiliki nilai lebih tinggi di mata Allah daripada sedekah yang dipamerkan di hadapan khalayak ramai.

Selain itu, edukasi mengenai tata cara dan hikmah qurban perlu terus digaungkan agar generasi muda memahami esensi pengorbanan ini. Qurban bukan sekadar membagikan daging, melainkan tentang menanamkan nilai-nilai ketauhidan dan kesabaran dalam diri. Ketika generasi muda memahami bahwa qurban adalah investasi ukhrawi, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepedulian tinggi serta memiliki sandaran iman yang kokoh dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Sebagai penutup, semoga Allah SWT menerima setiap kurban yang kita tunaikan dan menjadikannya sebagai wasilah keselamatan bagi kita di dunia maupun di akhirat. Dengan berqurban, kita tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga sedang menabung investasi besar untuk kehidupan yang kekal abadi di surga nanti.
Sumber: Khutbah Jum’at bertajuk “Hewan Qurban Mampu Menyelamatkan Kita di Dunia dan di Akhirat,” yang disampaikan KH. Ahsanul Haq pada 29 Mei 2026 di Masjid Al Akbar Surabaya