Menjaga Amanah Sang Pencipta Lewat Senyum Sehat Buah Hati

drg. Gigih Triwijayanti, Sp.KGA
drg. Gigih Triwijayanti, Sp.KGA

Bagikan postingan :

Kabarmasjid, Surabaya – Kesehatan anak bukan hanya soal nutrisi harian, namun juga mencakup perawatan mendasar yang sering kali terabaikan oleh para orang tua. Pada tanggal 21 Mei 2026, Masjid Al Akbar TV menggelar program “Ngaji Sehat” yang menghadirkan narasumber utama drg. Gigih Triwijayanti, Sp.KGA. Dalam kajian yang berlangsung di lingkungan Masjid Al Akbar tersebut, ia menekankan bahwa gigi anak adalah amanah titipan Sang Pencipta yang wajib dirawat dengan penuh kasih sayang sebagai bentuk syukur dan tanggung jawab orang tua.

Banyak orang tua yang masih keliru menganggap bahwa gigi susu hanyalah gigi sementara yang akan tanggal dengan sendirinya, sehingga kerusakan pada gigi susu sering kali dibiarkan. Padahal, gigi susu memiliki fungsi krusial dalam membantu proses mengunyah, mendukung perkembangan bicara, serta menjadi penunjuk arah bagi pertumbuhan gigi permanen. Mengabaikan perawatan gigi susu berarti mengabaikan fondasi kesehatan mulut anak di masa depan.

Dampak buruk dari penelantaran gigi susu sangatlah nyata, mulai dari rasa sakit yang mengganggu nafsu makan hingga risiko pertumbuhan gigi permanen yang tidak rapi. Ketika gigi susu rusak dan dicabut sebelum waktunya, gigi di sebelahnya akan bergeser menempati ruang kosong tersebut. Akibatnya, gigi permanen tidak mendapatkan tempat yang cukup untuk tumbuh secara normal dan akhirnya tumbuh dalam kondisi yang tidak rapi atau gingsul.

Prinsip dasar merawat gigi anak dapat dilakukan dengan dua cara, yakni perawatan di rumah dan tindakan medis di dokter gigi. Peningkatan kebersihan rongga mulut atau oral hygiene adalah langkah utama yang sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya bersiwak atau menjaga kebersihan mulut. Menjaga kebersihan gigi anak pun harus disesuaikan dengan tahapan usia mereka.

Pada usia 0 hingga 1 tahun, orang tua cukup membersihkan gusi bayi menggunakan kain atau handuk bersih yang dibasahi air hangat secara perlahan. Memasuki usia 1 hingga 3 tahun, penggunaan sikat gigi khusus anak mulai diperlukan dengan pendampingan penuh dari orang tua. Metode knee-to-knee atau posisi berhadapan dengan lutut menjadi teknik yang disarankan agar proses penyikatan gigi lebih efektif dan aman.

Menginjak usia 3 hingga 6 tahun, anak mulai bisa diajarkan metode fons dengan gerakan memutar sambil didampingi di depan cermin. Sementara itu, untuk usia 6 hingga 12 tahun, teknik roll yang menyapu dari gusi ke arah gigi adalah yang paling tepat diterapkan. Bantuan orang tua masih sangat diperlukan pada fase ini, terutama untuk menjangkau area geraham yang sering kali terlewat oleh anak.

Selain kebersihan fisik, pengaturan pola makan juga memegang peran vital dalam kesehatan gigi anak. Orang tua perlu waspada terhadap sugar clock, yakni pola konsumsi makanan manis yang salah. Makanan manis sebaiknya tidak diberikan sebagai camilan di antara waktu makan utama karena dapat memicu kerusakan gigi lebih cepat. Pilihlah camilan sehat seperti buah, sayur, atau keju yang dapat menstimulasi air liur.

Di sisi lain, tindakan medis seperti pemberian topikal aplikasi fluor dan pit and fissure sealant di dokter gigi sangat disarankan untuk proteksi maksimal. Fluor berfungsi memperkuat enamel gigi agar lebih tahan terhadap asam, sementara sealant menutup ceruk dalam pada gigi geraham agar tidak menjadi sarang bakteri. Langkah preventif ini terbukti efektif dalam mencegah karies gigi sejak dini.

Terkait penggunaan pasta gigi, drg. Gigih memberikan pedoman takaran yang presisi sesuai usia anak. Untuk usia 0-3 tahun, gunakan pasta gigi seukuran biji beras karena anak belum mahir berkumur. Usia 3-6 tahun disarankan seukuran biji kacang polong, dan bagi anak di atas 6 tahun, takaran boleh disesuaikan sepanjang bulu sikat gigi. Ketepatan takaran ini penting untuk menghindari tertelannya bahan kimia pasta gigi.

Sesi diskusi dalam kajian tersebut juga mengupas mitos tentang gigi tonggos yang sering dianggap akibat pola makan. Faktanya, kondisi gigi tonggos lebih banyak dipicu oleh faktor keturunan atau kebiasaan buruk seperti menghisap jempol dan bernapas lewat mulut. Orang tua diminta untuk lebih peka dan segera menghentikan kebiasaan tersebut agar tidak berujung pada perawatan ortodonsia yang lebih kompleks.

Bagi orang tua yang cemas saat anak demam di masa pertumbuhan gigi, hal tersebut sebenarnya adalah reaksi tubuh terhadap peradangan pada gusi. Solusi yang diberikan adalah tetap menjaga kebersihan rongga mulut dengan rutin mengusap gusi menggunakan kain bersih setelah anak minum susu. Kebersihan mulut yang terjaga akan membantu mengurangi risiko infeksi selama proses pertumbuhan gigi berlangsung.

Lebih jauh lagi, drg. Gigih juga menyoroti pentingnya peran proaktif orang tua dalam memantau kesehatan gigi anak secara berkala, bahkan ketika anak sudah beranjak remaja. Beliau menyarankan agar orang tua tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan rontgen panoramik jika ada kekhawatiran mengenai pertumbuhan gigi yang tidak kunjung tanggal, guna memastikan benih gigi permanen berada dalam posisi yang benar dan tidak mengalami impaksi. Langkah ini merupakan bentuk kewaspadaan orang tua agar masalah gigi di masa depan dapat dideteksi sejak dini.

Selain aspek medis, drg. Gigih mengingatkan bahwa kesabaran orang tua dalam mendampingi anak menyikat gigi setiap hari juga bernilai ibadah. Tantangan saat mengajak anak untuk disiplin menyikat gigi sering kali menguras energi, namun keteguhan orang tua dalam membimbing kebiasaan ini akan membentuk karakter anak yang peduli pada kebersihan. Pada akhirnya, kesehatan gigi adalah cerminan dari bagaimana orang tua menjalankan tugasnya dalam merawat “permata” yang dititipkan oleh Sang Khalik.

Sebagai simpulan, merawat gigi anak adalah wujud nyata kasih sayang dan menjaga amanah Ilahi. Dengan memahami tahapan perawatan yang tepat dan konsisten, para orang tua sedang membangun masa depan kesehatan anak-anak mereka. Mari jadikan aktivitas menyikat gigi sebagai momen edukasi dan kasih sayang yang mendatangkan rida Allah SWT bagi keluarga.

Sumber: Sesi “Ngaji Sehat”  dengan judul “Menjaga Amanah: Merawat Gigi Anak Titipan Ilahi” yang disampaikan oleh drg. Gigih Triwijayanti, Sp.KGA, di Masjid Al Akbar Surabaya pada 21 Mei 2026..

E-Buletin