Kabarmasijid.id, Surabaya – Keluarga dalam Islam bukan sekadar unit sosial, melainkan pondasi utama dalam membangun peradaban yang berlandaskan tauhid. Dalam khutbah Jum’at yang diselenggarakan di Masjid Taqwa Surabaya pada Jum’at 22 Mei 2026, Ustadz Fuadi Abu Uwais memberikan ulasan mendalam mengenai urgensi meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim AS. Khutbah ini menjadi pengingat relevan bagi setiap muslim untuk merefleksikan kembali dinamika rumah tangga yang mampu bertahan dalam berbagai ujian iman.
Ustadz Fuadi mengawali pesannya dengan menekankan bahwa kisah keluarga Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail bukanlah sekadar cerita masa lalu yang sudah usang, melainkan teladan yang terus hidup dan layak dikaji sepanjang masa. Allah SWT telah mengabadikan mereka dalam Al-Qur’an agar umat manusia memiliki panduan nyata dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tantangan.
Figur pertama yang disorot adalah Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah prototipe hamba yang memegang teguh prinsip tauhid. Dalam masa mudanya, Ibrahim telah menunjukkan kesungguhan dalam mencari kebenaran, menolak segala bentuk sesembahan selain Allah, dan berani menentang arus kesyirikan yang dilakukan kaumnya, bahkan hingga berhadapan langsung dengan penguasa tirani pada masanya.
Kegigihan Ibrahim dalam berdakwah bukanlah tanpa risiko. Beliau harus berhadapan dengan murka penguasa yang zalim karena berani membongkar kedok kebatilan. Namun, sikap Ibrahim tetap tenang, sebab beliau yakin bahwa pemilik segala urusan adalah Allah SWT. Keikhlasan inilah yang menjadi pelindung baginya di saat-saat kritis, seperti ketika beliau dibakar namun Allah menjadikan api itu dingin sebagai bentuk pertolongan-Nya.
Selanjutnya, khutbah beralih pada sosok Hajar, istri Nabi Ibrahim yang menunjukkan kualitas iman luar biasa. Saat harus ditinggalkan di padang tandus bersama bayi Ismail, Hajar tidak meratap atau mengeluh secara berlebihan. Beliau memahami bahwa keputusan tersebut diambil atas perintah Allah, bukan atas dasar kebencian atau keinginan pribadi suaminya.
Jawaban Hajar yang legendaris, “Jika Allah yang memerintahkan hal ini, maka Dia tidak akan menelantarkan kami,” menjadi cerminan tawakkal yang sempurna. Sikap ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap istri muslimah tentang bagaimana bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi kesulitan hidup, daripada menggantungkan harapan kepada sesama manusia.
Ustadz Fuadi pun mengingatkan para jamaah bahwa sosok Hajar adalah standar istri shalehah yang mampu mendukung dakwah suaminya. Beliau menegaskan bahwa seorang aktivis dakwah belum bisa dikatakan berhasil jika gagal membangun rumah tangga yang sakinah dan penuh ketaatan, sebagaimana yang dicontohkan dalam rumah tangga nabi-nabi Allah.
Selain memuji keteguhan Hajar, Ustadz Fuadi juga memberikan pengingat penting mengenai realitas dinamika rumah tangga yang beragam. Beliau menyitir bahwa Al-Qur’an merekam kisah-kisah pasangan yang kontradiktif, baik yang saling mendukung dalam ketaatan maupun yang berada dalam perbedaan prinsip yang tajam. Hal ini menjadi peringatan bagi jamaah bahwa menjaga keharmonisan rumah tangga di atas landasan iman bukanlah perkara mudah, melainkan perjuangan berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan komitmen dari kedua belah pihak.
Memasuki pembahasan tentang Nabi Ismail AS, khatib menekankan peran krusial ibu dalam mendidik anak. Ismail tumbuh menjadi pribadi yang shalih berkat tarbiyah yang kokoh dari ibunya selama bertahun-tahun ketika Ibrahim tidak berada di sisi mereka. Ungkapan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya terbukti nyata dalam pembentukan karakter Ismail.
Puncak ujian bagi Ismail adalah ketika ia menerima perintah penyembelihan melalui mimpi ayahnya. Alih-alih memberontak atau ketakutan, Ismail justru menunjukkan ketundukan yang luar biasa kepada perintah Allah. Kalimatnya, “Kerjakan apa yang diperintahkan Allah padamu, wahai ayahku,” adalah buah dari pendidikan iman yang mendalam.
Ustadz Fuadi membandingkan keteguhan Ismail dengan generasi muda saat ini. Ia mengajak jamaah untuk bercermin pada ketangguhan anak-anak di Gaza yang mampu menghadapi musuh dengan iman yang membaja. Hal ini menjadi sindiran halus sekaligus motivasi agar kita tidak lalai dalam mendidik generasi penerus kita menjadi pejuang kebenaran yang tangguh.

Di bagian akhir, khatib memberikan pesan penutup yang menyentuh hati. Beliau mengajak para jamaah untuk menata kembali keluarga masing-masing. Jangan sampai harta duniawi membuat kita lupa menanamkan benih iman kepada istri dan anak-anak, sebab kebahagiaan sejati bukanlah seberapa mewah rumah yang kita huni, melainkan seberapa taat keluarga kita di hadapan Allah.
Di samping itu, khatib menegaskan pentingnya upaya internal sebelum menuntut perubahan eksternal pada keluarga. Beliau mengingatkan kewajiban setiap Muslim untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Artinya, seorang pemimpin rumah tangga harus menjadi teladan pertama; sebelum mengharapkan istri dan anak-anak memiliki karakter seperti Hajar atau Ismail, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa diri kita sendiri telah berada di jalan yang benar dan pantas untuk diikuti.
Sebagai kesimpulan, mari kita pantaskan diri di hadapan Allah sebelum menuntut kebaikan pada keluarga. Dengan terus menimba ilmu dan memperbaiki diri di majelis-majelis kebaikan, semoga Allah SWT menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah dan mengumpulkan kita kembali bersama keluarga tercinta di jannah-Nya kelak.
Sumber: Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Fuadi Abu Uwais di Masjid Taqwa Surabaya pada 22 Mei 2026.