Kabarmasjid.id, Surabaya Di tengah kesibukan dunia modern yang sering kali menyita seluruh perhatian dan energi, manusia kerap terjebak dalam rutinitas yang melalaikan tujuan hakiki penciptaan. Menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan hidup dan persiapan spiritual menuju keabadian merupakan tantangan besar bagi setiap individu. Melalui momentum majelis ilmu, umat Islam diajak untuk sejenak berhenti, merenung, dan menata ulang prioritas hidup agar tidak tersesat dalam gemerlap duniawi yang semu.
Esensi penting mengenai orientasi hidup ini dikupas secara mendalam dalam Kajian Rutin Sabtu Ba’da Shubuh yang berlangsung di Masjid Agung Jami Malang pada Sabtu, 16 Mei 2026. Menghadirkan narasumber terkemuka, Habib Hadi bin Alwy Al Kaff, kajian yang disiarkan secara langsung tersebut mengangkat tema krusial mengenai hakikat zuhud, pengelolaan fokus pikiran antara dunia dan akhirat, serta pembekalan spiritual menyambut bulan suci Zulhijah.
Mengawali penyampaian materinya, Habib Hadi bin Alwy Al Kaff mengibaratkan keberadaan manusia di dunia tak ubahnya seorang musafir atau perantau (gharib) yang sedang menyeberang jalan (abir sabil). Sifat mendasar dari seorang perantau adalah kesadaran penuh bahwa tempat yang dipijaknya saat ini hanyalah persinggahan sementara, dan suatu saat ia pasti akan melangkah pulang ke rumah asalnya yang sejati. Pemahaman ini menjadi fondasi awal agar manusia tidak menaruh harapan dan cinta yang berlebihan pada dunia.
Layaknya seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh ke luar negeri, ia tentu hanya akan membawa perbekalan yang benar-benar berharga, ringkas, dan langsung dapat digunakan di tempat tujuan. Dalam konteks perjalanan panjang menuju akhirat, Habib Hadi menegaskan bahwa harta benda materi seperti rumah mewah atau kendaraan tidak akan bisa ikut dibawa. Satu-satunya bekal praktis dan mutlak yang dibutuhkan serta akan setia menemani manusia di dalam alam kubur adalah akumulasi amal saleh selama hidup.
Terkait dengan kenyataan tersebut, jemaah diajak untuk senantiasa menanamkan kesadaran mawas diri dengan menganggap diri sebagai bagian dari ahli kubur (udda nafsaka min ahlil kubur). Habib Hadi mengingatkan bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang tidak mengenal kompromi waktu. Berapa pun panjangnya usia yang dianugerahkan oleh Allah SWT di dunia, bahkan jika manusia diberikan umur hingga ribuan tahun sekalipun, pada akhirnya ia tetap akan melangkah masuk ke dalam liang lahat yang sunyi.
Lebih lanjut, Beliau mengulas bagaimana arah fokus pikiran manusia pada pagi hari sangat menentukan kualitas hidup dan ketenangan batinnya. Barang siapa yang mengawali hari saat terbangun dengan memusatkan perhatian pada urusan akhirat—seperti memperbaiki salat, memperbanyak ibadah, dan merenungi dosa-dosa—maka Allah SWT akan mengambil alih urusannya. Allah akan menjaga kehidupan rumah tangganya, menyatukan urusannya, dan yang luar biasa, dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya dalam keadaan patuh.
Sebaliknya, fenomena yang sering terjadi adalah manusia yang bangun di pagi hari dengan hati dan pikiran yang telah dipenuhi ketakutan akan kemiskinan dan ambisi duniawi semata. Habib Hadi menjelaskan bahwa bagi mereka yang hanya berfokus pada dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya sehingga hidupnya terasa kocar-kacir dan penuh kecemasan. Nilai rezeki yang mereka dapatkan pun tidak akan pernah bertambah dari apa yang telah ditakdirkan, meskipun mereka telah memeras keringat dan membanting tulang dari pagi hingga larut malam.
Dalam kesempatan tersebut, Habib Hadi juga meluruskan persepsi mengenai hakikat sifat zuhud yang sering kali disalahpahami. Secara batin, zuhud bukanlah sekadar miskin harta, melainkan hilangnya keterikatan dan rasa cinta terhadap duniawi dari dalam lubuk hati (khuruju hubbid dunya). Seorang yang zahid memandang dunia dengan pandangan yang remeh dan enteng, sehingga hilangnya materi tidak membuatnya bersedih, dan datangnya kemewahan tidak membuat hatinya berpaling dari Allah.
Secara lahiriah atau zahir, sifat zuhud tecermin dari sikap seseorang yang menahan diri dan menjauhi kemegahan duniawi secara sukarela (ikhtiaran), padahal ia memiliki kemampuan finansial atau kekuasaan untuk menikmatinya. Mereka memilih untuk membatasi diri dalam hal konsumsi makanan, kesederhanaan pakaian, dan kelayakan tempat tinggal sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Mereka menjadikan dunia hanya sebagai bekal perjalanan, layaknya seorang penunggang kuda yang membawa perbekalan seperlunya agar tidak membebani perjalanan.
Habib Hadi juga memberikan catatan penting mengenai orang-orang yang bekerja keras mengumpulkan harta benda di dunia. Jika aktivitas mencari nafkah tersebut didasari oleh niat luhur untuk berinfak, bersedekah, dan menyokong jalan kebaikan serta ibadah, maka hal tersebut dinilai sebagai perkara yang sangat baik. Namun, beliau memberikan peringatan keras terhadap tipu daya setan yang kerap menghampiri orang-orang yang menikmati fasilitas hidup mewah secara berlebihan, tetapi membuat pengakuan semu bahwa hati mereka tidak mencintai dunia.

Sebagai penutup materi kajian yang sangat kontekstual, Habib Hadi memberikan pembekalan spiritual khusus bagi jemaah untuk menyambut kedatangan 10 hari pertama bulan dzulhijah. Beliau memaparkan bahwa fase ini merupakan waktu yang paling mulia dalam setahun, bahkan amal saleh yang dikerjakan di dalamnya memiliki nilai yang lebih dicintai Allah dibandingkan dengan ibadah di waktu lain. Keutamaan amal di hari-hari ini bahkan mampu menandingi pahala jihad fi sabilillah, kecuali bagi pejuang yang gugur syahid bersama seluruh harta dan jiwanya.
Keagungan bulan dzulhijah sebagai bagian dari bulan-bulan haram (al-asyhurul hurum) menawarkan pelipatan pahala yang luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW. Menjalankan ibadah puasa satu hari saja pada momentum ini (di luar hari raya) diganjar pahala laksana berpuasa setahun penuh, dan menghidupkan malamnya dengan ibadah disetarakan dengan kemuliaan Lailatul Qadar. Kajian subuh ini kemudian diakhiri dengan untaian doa mendalam agar seluruh jemaah diberikan umur panjang yang berkah, kelapangan rezeki, serta kemudahan bagi saudara muslim yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci.
Sumber: Kajian Rutin Sabtu Ba’da Shubuh bersama Habib Hadi bin Alwy Al Kaff di Masjid Agung Jami Malang pada Sabtu, 16 Mei 2026