Pentingnya Keseimbangan Saleh Ritual dan Saleh Sosial dalam Islam

Gus Abdullah Zahir
Gus Abdullah Zahir

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan beragama dalam Islam sering kali dipahami secara sempit hanya sebatas pemenuhan ritual peribadahan di dalam masjid. Banyak dari kita yang begitu getol mengejar kesempurnaan salat, menjaga puasa, hingga memperbanyak sedekah, namun kerap kali melupakan bagaimana cara berinteraksi dengan sesama makhluk. Padahal, kesalehan ritual yang tidak diimbangi dengan kesalehan sosial dapat menjadi bumerang yang menghancurkan seluruh tabungan amal yang telah kita kumpulkan dengan susah payah selama hidup di dunia.

Pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga hubungan sosial ini disampaikan secara lugas dalam pengajian rutin yang berlangsung pada hari Rabu, 13 Mei 2026, bersama Gus Abdullah Zahir bertempat di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya. Kajian kitab yang disiarkan secara langsung melalui kanal digital tersebut membedah salah satu bab krusial dari kitab legendaris Risalatul Mu’awanah karya Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Dalam kesempatan ini, beliau secara khusus mengulas tentang pentingnya menjauhi segala bentuk kedzaliman terhadap sesama manusia.

Dalam pemaparannya, Gus Abdullah Zahir menjelaskan bahwa Islam menaruh perhatian yang sangat besar pada ibadah sosial (ghairu mahdhah), bukan hanya pada ibadah ritual (mahdhah). Akhlak dan kepribadian yang baik merupakan cerminan nyata dari kualitas keimanan seseorang, di mana baginda Nabi Muhammad SAW telah diletakkan sebagai sebaik-baiknya contoh atau uswatun hasanah. Oleh karena itu, mendengarkan nasihat para alim ulama menjadi sarana penting agar kita senantiasa memiliki amaliah yang dicintai oleh Rasulullah.

Salah satu penyakit sosial yang paling disorot dalam kitab tersebut adalah perilaku mengadu domba atau namimah. Menghasut, memprovokasi, dan menyebarkan desas-desus dengan tujuan menciptakan permusuhan antar-individu merupakan tindakan yang sangat dilarang. Beliau mengingatkan sebuah riwayat tegas yang menyatakan bahwa tidak akan masuk surga orang-orang yang suka mengadu domba, karena dampak kerugiannya tidak hanya menimpa diri sendiri melainkan juga merusak tatanan masyarakat.

Bahaya perpecahan akibat adu domba ini kemudian digambarkan melalui kisah historis pada zaman Nabi Musa AS. Ketika itu, Nabi Musa bersama umatnya didera masa paceklik dan kekeringan yang luar biasa, lalu mereka berkumpul untuk melaksanakan doa meminta hujan. Namun, doa mulia tersebut tidak kunjung dikabulkan oleh Allah SWT disebabkan adanya salah satu orang di antara umat Nabi Musa yang memiliki kebiasaan buruk suka mengadu domba di dalam kelompoknya.

Lebih lanjut, kajian ini memasuki pembahasan inti pada halaman 388 dari Kitab Risalatul Mu’awanah, yang menyerukan umat Islam untuk menjauhi segala bentuk kezaliman. Kezaliman digambarkan sebagai kegelapan yang pekat pada hari kiamat kelak. Di antara berbagai jenis dosa, kezaliman terhadap sesama manusia merupakan perkara yang sangat berat karena sifatnya adalah dosa yang tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Allah SWT sebelum urusan antar-manusia tersebut diselesaikan.

Gus Abdullah Zahir kemudian mengutip hadis populer tentang hakikat orang yang bangkrut atau muflis di akhirat. Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat mengenai siapa orang yang bangkrut, yang kemudian dijawab oleh sahabat sebagai orang yang tidak memiliki harta dan dinar. Namun, Rasulullah meluruskan bahwa orang yang bangkrut sejati adalah mereka yang menghadap Allah dengan membawa pahala salat, zakat, dan puasa yang melimpah, tetapi juga memikul dosa kezaliman terhadap orang lain.

Kezaliman tersebut bisa berupa perilaku memukul fisik, mencaci maki, mencoreng kehormatan, hingga mengambil harta atau hak orang lain secara batil. Di padang mahsyar kelak, orang-orang yang pernah dizalimi akan berbondong-bondong datang untuk menuntut keadilan dan mengambil pahala kebaikan dari si pelaku zalim. Jika pahala kebaikan si pelaku sudah habis mengalir untuk membayar korbannya, maka dosa-dosa dari orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya, hingga akhirnya ia dilemparkan ke dalam api neraka.

Melalui ulasan tersebut, beliau memberikan panduan mitigasi yang taktis dari kitab Risalatul Mu’awanah jika seseorang telanjur melakukan kezaliman. Langkah pertama, apabila kezaliman tersebut berkaitan dengan fisik atau nyawa, maka pelakunya harus berani mempertanggungjawabkannya dan menyelesaikan perkara tersebut secara hukum yang berlaku di dunia. Darah seorang muslim adalah haram, sehingga penegakan keadilan hukum di dunia menjadi syarat mutlak untuk menggugurkan tuntutan akhirat.

Langkah kedua, jika kezaliman tersebut merusak kehormatan—seperti ikut menyebarkan gosip, fitnah, dan aib orang lain hingga membuatnya menanggung malu—maka cara menyelesaikannya adalah dengan mendatangi korban dan meminta maaf secara tulus. Sementara itu, jika kezaliman berkaitan dengan materi atau finansial, pelaku wajib mengembalikan seluruh harta yang telah diambil secara batil kepada pemilik sahnya agar dosa-dosa tersebut dapat terhapus.

Namun, bagaimana jika korban kezaliman sudah tidak bisa ditemukan, berada di tempat yang sangat jauh, atau bahkan sudah meninggal dunia? Kitab Risalatul Mu’awanah memberikan solusi alternatif sebagai upaya terakhir, yaitu dengan melakukan tobat nasuha yang mendalam kepada Allah SWT dan memperbanyak zikir. Selain itu, pelaku harus secara konsisten mengirimkan doa-doa terbaik, memohonkan kelancaran rezeki, serta memintakan istigfar (ampunan) kepada Allah khusus untuk orang-orang yang pernah ia zalimi.

Sebagai penutup kajian, Gus Abdullah Zahir memberikan nasihat berharga bagi siapa saja yang saat ini sedang berada di posisi sebagai korban kezaliman. Korban memiliki hak istimewa di mana doanya tidak akan ditolak oleh Allah SWT, namun mereka dihadapkan pada dua pilihan: meminta balasan spontan di dunia sehingga kehilangan pahala kesabaran, atau memilih berlapang dada dan ikhlas agar Allah mengangkat derajat mereka dengan pahala jariah yang terus mengalir hingga akhirat. Menjaga lisan dan tangan agar tidak menyakiti orang lain adalah bentuk ibadah luar biasa yang harus kita perjuangkan setiap hari.

Sumber: Kajian kitab Risalatul Mu’awanah bersama Gus Abdullah Zahir di Masjid Kemayoran Surabaya pada Rabu, 13 Mei 2026.

E-Buletin