Kabarmasjid.id, Surabaya – Masalah kesehatan sering kali datang tanpa disadari, termasuk gangguan pada aktivitas yang kita anggap sederhana seperti makan dan minum. Salah satu kondisi yang jarang dipahami namun memiliki dampak fatal adalah gangguan menelan atau secara medis disebut disfagia. Untuk mengupas tuntas masalah ini, sebuah kajian kesehatan bertajuk “Ngaji Sehat” diselenggarakan pada Kamis, 7 Mei 2026 di Masjid Al-Akbar Surabaya, dengan menghadirkan narasumber ahli, dr. Rizka Fathoni Perdana, Sp.T.H.T.B.K.L., seorang spesialis THT dan subspesialis bronkoesofagologi.
Dalam pemaparannya, dr. Rizka menjelaskan bahwa manusia memiliki dua kebutuhan vital yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup, yaitu bernapas dan makan. Saluran pernapasan berada di bagian depan, sedangkan saluran makanan atau kerongkongan berada di bagian belakang. Gangguan menelan terjadi ketika ada hambatan dalam memindahkan bolus, yaitu makanan yang telah dikunyah, dari rongga mulut menuju faring hingga sampai ke lambung.
Penting untuk membedakan antara sulit menelan (disfagia) dengan nyeri menelan (odinofagia). Nyeri menelan biasanya disebabkan oleh peradangan seperti amandel atau infeksi tenggorokan yang akan membaik dengan obat antinyeri. Namun, disfagia adalah gangguan fungsi yang jauh lebih kompleks karena melibatkan koordinasi otot dan saraf yang sangat presisi agar makanan tidak salah masuk ke saluran napas.
Proses menelan yang normal melibatkan tiga fase, yakni fase oral di mulut, fase faring di tenggorokan, dan fase esofagus di kerongkongan. dr. Rizka menekankan bahwa hanya fase oral yang bisa kita kendalikan secara sadar, seperti berapa lama kita mengunyah. Begitu makanan masuk ke tenggorokan, saraf akan bekerja secara otomatis untuk menutup saluran napas dan membuka saluran makanan agar kita tidak tersedak.
Siapa saja yang berisiko mengalami kondisi ini? Faktor utama adalah lanjut usia, di mana massa otot mengecil dan respons saraf melambat. Selain itu, pasien stroke menempati persentase tertinggi, yakni sekitar 80% pasien stroke mengalami disfagia. Kondisi lain seperti penyakit Parkinson, demensia, kanker di area kepala-leher, hingga penderita diabetes yang mengalami masalah gigi juga sangat rentan terkena gangguan ini.
Gejala disfagia sering kali dianggap remeh, padahal sangat khas. Salah satu tandanya adalah waktu mengunyah yang menjadi sangat lama atau kesulitan menelan makanan yang bertekstur padat. Selain itu, gejala yang perlu diwaspadai adalah batuk atau tersedak saat makan atau minum, yang menandakan adanya makanan yang hampir masuk ke paru-paru.
Dalam beberapa kasus, makanan bahkan bisa keluar kembali melalui hidung jika langit-langit mulut tidak mampu menutup dengan sempurna akibat gangguan saraf. Pasien juga sering merasa perlu menelan berkali-kali hanya untuk menghabiskan satu suapan kecil. Jika kondisi ini dibiarkan, berat badan akan turun secara drastis karena pasien menjadi malas atau takut untuk makan.
Bahaya terbesar dari disfagia adalah komplikasi paru-paru yang disebut pneumonia aspirasi. Ketika makanan atau cairan masuk ke paru-paru, hal itu menyebabkan infeksi berat yang bisa mengancam nyawa dengan sangat cepat. Selain itu, malnutrisi dan dehidrasi akibat kurangnya asupan makanan dan minuman akan membuat kondisi fisik pasien semakin lemah dan memperlambat proses penyembuhan penyakit utamanya.
Bagi masyarakat yang merasakan gejala tersebut, dr. Rizka menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter THT. Di rumah sakit, dokter akan melakukan pemeriksaan endoskopi untuk melihat langsung proses menelan pasien. Melalui pemeriksaan ini, dapat diketahui apakah gangguan terjadi pada makanan padat atau cair, sehingga penanganan yang diberikan bisa lebih tepat sasaran.
Menariknya, dr. Rizka juga mengaitkan kajian medis ini dengan sunah Rasulullah SAW dalam hal makan dan minum. Sunah untuk duduk saat minum dan tidak menghabiskan air dalam satu kali tegukan ternyata memiliki alasan medis yang kuat. Dengan memberi jeda dua atau tiga kali tegukan, kita memberikan kesempatan bagi sisa cairan di tenggorokan untuk turun sempurna, sehingga memperkecil risiko tersedak.
Bagi pasien yang sudah mengalami gangguan, latihan fisioterapi menelan sangat diperlukan untuk menguatkan otot-otot yang lemah. Pengobatan disfagia harus dilakukan secara tim, melibatkan dokter saraf, dokter gizi, hingga dokter penyakit dalam. Tujuannya adalah menangani penyakit utama seperti stroke atau kanker sambil tetap memastikan pasien mendapatkan nutrisi yang cukup tanpa risiko tersedak.

Sebagai penutup, pola makan yang aman harus diterapkan, seperti makan dalam porsi kecil namun sering, menghindari bicara saat makan, dan tetap menjaga kebersihan mulut. Kesehatan saluran cerna dimulai dari kemampuan menelan yang baik. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, kualitas hidup pasien dengan gangguan menelan dapat ditingkatkan dan risiko komplikasi fatal dapat dihindari.
Sumber: “Ngaji Sehat” bersama dr. Rizka Fathoni Perdana, Sp.T.H.T.B.K.L. yang dilaksanakan pada Kamis, 7 Mei 2026 di Masjid Al-Akbar Surabaya