Kabarmasjid.id, Malang – Dunia modern sering kali menjebak manusia dalam standar kesuksesan material yang semu, di mana keinginan sering kali dianggap sebagai kebutuhan utama. Dalam kondisi batin yang sering kali terombang-ambing, bimbingan spiritual menjadi oase yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kompas moral tetap tegak. Pada hari Jumat, 8 Mei 2026, suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Jami Malang saat Ustaz H. M. Ghufron menaiki mimbar untuk menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai dinamika batin manusia antara akal dan nafsu.
Ustadz H. M. Ghufron mengawali khutbahnya dengan menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang unik karena dibekali perpaduan antara akal dan nafsu. Beliau menjelaskan bahwa kedua elemen ini merupakan pemberian Allah SWT yang memiliki fungsi berbeda; akal sebagai penuntun kebenaran, sementara nafsu sering kali menjadi mesin penggerak keinginan. Jika keduanya berjalan beriringan di bawah kontrol iman, manusia akan mencapai derajat mulia yang melampaui makhluk lainnya.
Namun, Ustadz Ghufron memberikan peringatan keras mengenai tabiat dasar nafsu yang cenderung destruktif jika dibiarkan tanpa kendali. Beliau menegaskan bahwa watak nafsu pada asalnya adalah mengajak pada hal-hal negatif dan maksiat. Tanpa disiplin spiritual, nafsu akan mendominasi panca indra dan menumpulkan fungsi akal, sehingga manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang maslahat dan yang mudarat.
Dalam pemaparannya yang lugas, beliau mengutip ayat suci Al-Qur’an untuk menggambarkan betapa rendahnya martabat manusia yang telah menjadi budak hawa nafsu. Ustaz Ghufron mengingatkan bahwa manusia yang memiliki hati namun tidak digunakan untuk merenung, serta memiliki mata dan telinga namun buta-tuli terhadap kebenaran, derajatnya akan jatuh lebih rendah daripada binatang ternak. Hal ini menjadi pengingat bagi jamaah agar tidak terlena oleh pemuasan ego semata.
Meski demikian, sisi positif nafsu juga dikupas secara proporsional dalam kajian tersebut. Beliau menjelaskan bahwa nafsu adalah bahan bakar bagi aktivitas manusia di dunia; tanpa keinginan, manusia tidak akan memiliki semangat untuk bekerja atau beribadah. Ustaz Ghufron menekankan bahwa tantangan sesungguhnya bukanlah mematikan nafsu sepenuhnya, melainkan mendidiknya agar tunduk pada aturan agama demi meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Lebih jauh, Ustadz Ghufron membedah tiga tingkatan nafsu yang menjadi ukuran kualitas spiritual seseorang, dimulai dari Nafsu Amarah. Beliau mendeskripsikan ini sebagai kondisi di mana seseorang tidak lagi memiliki rasa malu dalam berbuat dosa, bahkan cenderung bangga dengan kemaksiatan yang dilakukan. Nafsu ini sering kali hinggap pada jiwa-jiwa yang telah jauh dari cahaya hidayah dan terus-menerus menentang aturan Sang Pencipta.
Tingkatan selanjutnya yang dibahas adalah Nafsu Lawwamah, yang beliau sebut sebagai kondisi batin mayoritas umat manusia. Pada tahap ini, terjadi pergulatan antara keinginan untuk berbuat baik dan godaan untuk menyimpang. Ustaz Ghufron menjelaskan bahwa ciri khas nafsu ini adalah adanya penyesalan setelah seseorang tergelincir dalam kesalahan, sebuah tanda bahwa iman di dalam dada masih berdenyut meski sedang lemah.
Puncak dari pencapaian spiritual yang dipaparkan adalah Nafsu Mutmainah, yakni jiwa yang telah mencapai ketenangan paripurna. Beliau menggambarkan pemilik nafsu ini sebagai mereka yang hatinya telah terpaut sepenuhnya pada ketaatan sehingga tidak lagi tergoda oleh gemerlap maksiat. Inilah jiwa-jiwa yang dijanjikan oleh Allah SWT akan dipanggil dengan penuh kelembutan untuk masuk ke dalam surga-Nya dalam keadaan rida dan diridai.
Ustadz Ghufron juga memberikan “resep” bagi jamaah agar mampu meniti jalan menuju jiwa yang tenang tersebut. Beliau menekankan bahwa transformasi batin ini memerlukan latihan yang istikamah dan berkelanjutan. Menurutnya, mustahil bagi seseorang untuk mengendalikan gejolak nafsu tanpa didasari oleh ilmu agama yang mumpuni sebagai pagar pembatas dalam bertindak.
Beliau kemudian merinci empat pilar pencegah kemaksiatan: ilmu agama yang kuat, konsistensi dalam amal saleh, keistiqamahan, serta kesabaran dalam menghadapi ujian. Ustaz Ghufron berpesan bahwa kesabaran bukan hanya tentang menerima musibah, tetapi juga tentang kegigihan untuk tetap teguh di jalan kebenaran saat godaan nafsu datang menerjang dari berbagai sisi.

Mendekati akhir khutbah, beliau memimpin doa agar seluruh jamaah senantiasa diberikan bimbingan, taufik, dan inayah oleh Allah SWT. Beliau berharap agar setiap langkah yang diambil oleh umat muslim selalu berada dalam lindungan-Nya, sehingga kelak saat ajal menjemput, setiap individu dalam jamaah tersebut dapat meraih predikat husnul khatimah atau akhir yang baik.
Khutbah ditutup dengan harapan agar pesan-pesan tersebut menjadi bahan renungan bagi masyarakat luas. Kesadaran untuk mengelola nafsu diharapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga memberikan dampak positif bagi keharmonisan sosial di tengah masyarakat yang beragam.
Sumber: khutbah yang disampaikan oleh Ustadz H. M. Ghufron di Masjid Agung Jami Malang pada tanggal 8 Mei 2026.