Menaklukkan Ego: Jihad Melawan Nafsu di Era Konsumerisme

Ustadz H. M. Sholeh Drehem, Lc.
Ustadz H. M. Sholeh Drehem, Lc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah hiruk pikuk gaya hidup modern yang serba cepat dan materialistis, seringkali manusia terjebak dalam perlombaan tanpa henti untuk memenuhi keinginan duniawi yang semu. Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz H. M. Sholeh Drehem, Lc. pada tanggal 8 Mei 2026 bertempat di Masjid Al Falah Surabaya, di mana beliau mengajak jamaah merenungkan kembali esensi perjuangan seorang Muslim sejati.

Ustadz Sholeh Drehem mengawali khutbahnya dengan meluruskan persepsi umum mengenai istilah “jihad” yang kerap disalahartikan. Banyak orang seringkali secara sempit menganggap jihad hanya sebatas perang fisik di medan pertempuran, padahal peluang untuk mendapatkan kehormatan jihad terbuka lebar dalam berbagai bentuk kehidupan sehari-hari. Beliau menekankan bahwa jihad bukan hanya milik mereka yang berada di zona konflik, melainkan tugas setiap individu dalam mengelola batinnya.

Beliau memaparkan bahwa setidaknya ada lima dimensi jihad yang harus dipahami oleh umat Islam di zaman ini. Pertama adalah Jihadul Kuffar, yang merupakan puncak pengorbanan fisik demi agama. Namun, bagi kita yang hidup di lingkungan damai, dimensi jihad dakwah kepada mereka yang belum mengenal indahnya Islam jauh lebih relevan, yakni dengan menawarkan kelembutan syariat agar bersama-sama meraih keselamatan di akhirat.

Dimensi selanjutnya adalah jihad melawan kemunafikan atau Jihadul Munafikin, sebuah perjuangan menghadapi mereka yang tidak memiliki keteguhan akidah. Sosok munafik digambarkan sebagai orang yang bergerak berdasarkan kepentingan pribadi dan seringkali bermuka dua. Strategi melawan golongan ini bukanlah dengan kekerasan atau pengkafiran, melainkan melalui dakwah yang menyentuh hati agar mereka kembali tulus di jalan Allah.

Khatib juga menjelaskan pentingnya Jihad Al-Fasikin, yaitu perjuangan menghadapi sesama Muslim yang masih terjebak dalam perilaku fasik seperti korupsi atau ketidakjujuran. Alih-alih menghakimi atau menjauhi, Ustadz Sholeh menekankan pentingnya merangkul mereka dengan rasa cinta persaudaraan. Menyelamatkan saudara seiman dari lembah dosa adalah bentuk perjuangan yang sangat dicintai oleh Allah SWT.

Dimensi yang paling krusial dan menjadi tema sentral adalah Jihadun Nafs atau jihad melawan hawa nafsu diri sendiri. Khatib menegaskan bahwa meski manusia diciptakan sebagai makhluk termulia, kita juga dibekali dengan nafsu yang memiliki potensi ganda. Nafsu jika dikendalikan akan membawa kemakmuran, namun jika dibiarkan liar tanpa kendali agama, ia akan menyeret pemiliknya pada kehancuran moral dan spiritual.

Secara tajam, beliau menyentuh bagaimana nafsu bermanifestasi dalam bentuk gila jabatan, harta, maupun syahwat yang tak terkendali. Di era sekarang, tantangan terbesar muncul dari gaya hidup konsumtif yang memicu keinginan berlebihan untuk selalu memiliki apa yang dipandang mata. Tanpa benteng iman yang kokoh, manusia hanya akan menjadi budak dari “fulus” atau keinginan materi yang tidak pernah mengenal kata cukup.

Dalam ulasannya, beliau mengingatkan bahwa Allah SWT bahkan bersumpah demi jiwa manusia dalam Al-Qur’an, menunjukkan betapa sakralnya manajemen nafsu. Potensi untuk berbuat buruk seringkali memiliki tarikan yang lebih kuat daripada potensi takwa jika tidak dikawal. Oleh karena itu, diperlukan upaya sadar dan terus-menerus untuk mensucikan jiwa agar tidak tenggelam dalam arus konsumerisme yang merusak tatanan hidup.

Khatib mengaitkan urgensi pengendalian nafsu ini dengan kehadiran bulan-bulan mulia atau Asyhurul Hurum yang sedang dijalani umat Islam. Beliau mengajak jamaah untuk memuliakan bulan-bulan ini dengan memperketat pengawasan terhadap keinginan diri. Momentum ini dianggap sebagai waktu yang tepat untuk “mengerem” nafsu yang selama ini mungkin bergerak terlalu bebas tanpa arah yang jelas.

Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah menjadi sorotan khusus dalam pesan penutup beliau. Beliau mengutip hadis yang menyatakan bahwa amal saleh pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang luar biasa, bahkan mampu menandingi pahala jihad fisik. Ini adalah kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk membuktikan kemenangan atas egonya melalui peningkatan kualitas ibadah dan amal jariyah.

Ustadz Sholeh menganjurkan jamaah untuk memperbanyak puasa sunnah sebagai sarana latihan menundukkan nafsu. Puasa dianggap sebagai perisai paling ampuh untuk menahan keinginan-keinginan liar, baik itu nafsu perut maupun nafsu pandangan. Dengan berpuasa, seorang Muslim diajak untuk merasakan penderitaan sesama dan memperkuat kedekatan spiritualnya kepada Sang Pencipta melalui pengabdian yang tulus.

Sebagai penutup, Ustadz Sholeh memberikan pesan bahwa jihad yang paling nyata di era modern adalah kemampuan kita untuk tetap teguh di jalan Allah di tengah godaan dunia yang menyilaukan. Dengan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi gaya hidup konsumtif, kita bukan hanya memperbaiki kualitas diri, tetapi juga menjaga marwah Islam. Mari kita jadikan momentum bulan mulia ini sebagai titik balik untuk meraih derajat takwa yang sesungguhnya.

Sumber khutbah Jum’at dengan tajuk “Jihad Melawan Nafsu di Tengah Gaya Hidup Konsumtif” oleh Ustadz H. M. Sholeh Drehem, Lc. di Masjid Al Falah Surabaya pada 8 Mei 2026.

E-Buletin