Waspada! 5 Sifat Tercela yang Mengintai Para Pemburu Harta di Zaman Modern

Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz
Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan modern sering kali menjebak manusia dalam perlombaan materi yang seolah tidak ada ujungnya. Di tengah hiruk-pikuk pencarian kekayaan, banyak yang lupa bahwa harta hanyalah sarana, bukan tujuan akhir dari perjalanan panjang seorang hamba. Untuk memberikan perspektif spiritual yang mendalam, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menyelenggarakan kajian kitab Nashaihul Ibad bersama Ustaz H. Ahmad Muzakki Alhafidz pada sore hari, Senin, 4 Mei 2026. Dalam ceramahnya yang disiarkan secara langsung, beliau membedah Maqalah ke-19 karya Sufyan ats-Tsauri tentang risiko besar bagi para pengumpul harta di zaman sekarang.

Ustadz Muzakki mengawali kajiannya dengan mengingatkan bahwa dunia secara etimologis berasal dari kata dana-yadni yang berarti rendah atau hina. Beliau menceritakan analogi dari Rasulullah SAW tentang bangkai kambing yang telinganya putus untuk menggambarkan betapa tidak berharganya dunia jika dibandingkan dengan nilai akhirat. Namun, tantangan terberat manusia saat ini adalah bagaimana mengelola harta agar tidak menjadi beban yang justru menjerumuskan pemiliknya ke dalam akhlak yang tercela.

Poin pertama yang ditekankan dalam kajian tersebut adalah bahaya panjang angan-angan atau tulul amal. Menurut Ustadz Muzakki, orang yang memiliki banyak harta cenderung memiliki keinginan yang terus bertambah tanpa henti. Jika sudah memiliki satu hal, ia akan mengejar hal lainnya, mulai dari kendaraan sederhana hingga kemewahan yang melampaui akal sehat. Panjang angan-angan ini sering kali membuat seseorang lupa akan batas usianya di dunia.

Selanjutnya, beliau membahas tentang hirsun atau ambisi yang sangat kuat terhadap dunia. Beliau menjelaskan bahwa mencintai dunia hingga melampaui batas kebutuhan (fudul) adalah sesuatu yang dicela dalam agama. Mencari nafkah hukumnya boleh, bahkan dianjurkan untuk mencukupi kebutuhan makan dan ibadah, namun menjadi masalah ketika keinginan tersebut telah menguasai seluruh ruang dalam pikiran dan tenaga seseorang.

Sifat ketiga yang sering menghinggapi pengumpul harta adalah syukhun syadid atau sifat pelit yang parah. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah sering kali membuat pemiliknya merasa berat untuk berbagi atau mengeluarkan zakat dan sedekah. Ketakutan akan berkurangnya kekayaan secara perlahan mematikan empati sosial, sehingga harta yang seharusnya mengalir sebagai manfaat justru mengendap dan menjadi sumber dosa.

Kurangnya sifat wara’ atau kehati-hatian menjadi poin keempat yang disorot oleh Ustaz Muzakki. Beliau menjelaskan bahwa di zaman yang serba cepat ini, orang cenderung mengabaikan batasan antara yang halal dan yang syubhat (samar hukumnya). Rasa haus akan kekayaan sering kali membuat seseorang abai dalam meneliti asal-usul hartanya, asalkan tujuannya tercapai. Padahal, sifat wara’ sangat diperlukan untuk menjaga kesucian diri dan diterimanya amal ibadah.

Puncaknya, semua sifat tercela tersebut akan bermuara pada nisyanul akhirah atau melupakan akhirat. Ustadz Muzakki memberikan contoh sederhana tentang bagaimana kenyamanan dunia membuat seseorang sulit untuk bangun malam melaksanakan tahajud. Ketika perut terlalu kenyang dan pikiran terlalu sibuk dengan urusan mal, maka kerinduan untuk bermunajat kepada Allah di sepertiga malam akan hilang begitu saja.

Meski demikian, Ustadz Muzakki menegaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya. Beliau mencontohkan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar Ash-Siddiq, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf yang merupakan miliarder pada zamannya. Kunci keselamatan mereka terletak pada prinsip “dunia di tangan, bukan di hati”. Mereka memiliki harta melimpah, namun sangat ringan saat harus menyumbangkannya untuk kepentingan agama dan kemanusiaan.

Dalam kajian ini, beliau juga menjelaskan bahwa dunia sebenarnya bisa menjadi rumah kebenaran bagi mereka yang jujur, serta rumah keselamatan bagi mereka yang paham hakikatnya. Dunia disebut sebagai mazra’atul akhirah atau ladang tempat bercocok tanam yang hasilnya akan dipetik di kehidupan mendatang. Oleh karena itu, dunia tidak seharusnya ditinggalkan sepenuhnya demi akhirat, melainkan harus diseimbangkan dengan porsi yang tepat.

Ustaz Muzakki memberikan kutipan indah dari Ali bin Abi Thalib yang menyebut dunia sebagai sebaik-baik kendaraan menuju akhirat. Jika digunakan dengan benar, harta bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk berhaji, berwakaf, membangun pesantren, dan menolong sesama. Dengan kata lain, kualitas akhirat seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia memperlakukan dunianya saat ini.

Sebagai tips praktis untuk menjaga spiritualitas di tengah kesibukan mencari harta, beliau menyarankan agar umat muslim senantiasa menjaga salat berjamaah, khususnya Magrib dan Isya di masjid. Hal ini dianggap sebagai pondasi awal untuk menjaga koneksi dengan Tuhan. Selain itu, mengatur pola makan dan minum juga disebut sebagai cara efektif agar fisik tetap ringan untuk melakukan ketaatan di malam hari.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar setiap harta yang dimiliki oleh jamaah menjadi berkah dan tidak menjadi penghalang menuju surga. Ustadz Muzakki mengingatkan kembali bahwa keberhasilan sejati bukanlah pada seberapa banyak angka di rekening bank, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan melalui harta tersebut. Dengan hati yang tetap terpaut pada akhirat, maka dunia yang ada di tangan akan menjadi saksi kebaikan di hari pembalasan nanti.

Sumber: Kajian kitab Nashaihul Ibad bersama Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Al Akbar Surabaya pada Senin, 4 Mei 2026.

E-Buletin