Mengetuk Pintu Langit: Rahasia Indah di Balik Istiqomah Bershalawat

KH. Achmad Sulthon Rofi'i
KH. Achmad Sulthon Rofi'i

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Malang – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang seringkali memicu kecemasan, kebutuhan manusia akan pegangan spiritual menjadi semakin mendesak. Fenomena fitnah akhir zaman bukan lagi sekadar narasi, melainkan tantangan nyata yang menguji keteguhan iman dan ketenangan batin setiap individu. Untuk menjawab tantangan tersebut, jalan kembali kepada sunnah melalui amalan shalawat dan seni berpikir mendalam atau tafakur menjadi oase yang mampu menyegarkan kembali gairah penghambaan kita kepada Sang Khalik.

Kajian mendalam mengenai tema ini disampaikan dalam agenda Kajian Rutin Selasa Ba’da Maghrib yang menghadirkan narasumber KH. Achmad Sulthon Rofi’i, bertempat di Masjid Jami’ Malang pada Selasa, 5 Mei 2026. Dalam bimbingannya, beliau membedah kitab Al-Khashais al-Muhammadiyah karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, yang merinci puluhan keutamaan bershalawat serta pentingnya menyediakan waktu khusus untuk merenungi kebesaran Allah SWT.

Dalam pemaparannya, KH. Achmad Sulthon Rofi’i menekankan bahwa shalawat bukan sekadar rutinitas lisan. Setiap satu shalawat yang diucapkan seorang hamba akan memicu lahirnya malaikat yang membawa doa tersebut langsung ke hadapan Allah SWT. Istimewanya, Allah kemudian memerintahkan malaikat tersebut untuk membawa energi shalawat itu ke dalam kubur si pembaca kelak. Di alam barzakh, amalan inilah yang akan menjadi pendamping setia yang memohonkan ampunan serta memberikan rasa tentram bagi sang mukmin.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa shalawat merupakan jembatan “perkenalan” antara umat dan nabinya. Setiap kali kita bershalawat, malaikat melaporkan identitas kita lengkap beserta nama ayah kita kepada Rasulullah SAW. “Fulan bin Fulan telah bershalawat kepadamu,” demikian lapor malaikat tersebut. Hal ini menciptakan ikatan batin yang organik, sehingga meski raga terpisah jarak dan zaman, nama kita telah harum dan dikenali di hadapan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Keajaiban shalawat juga akan tampak nyata saat manusia berada di titik paling krusial, yaitu menyeberangi jembatan Shirath. Berdasarkan riwayat mimpi Nabi yang merupakan wahyu, digambarkan ada seorang umat yang merangkak dan hampir terjatuh karena beban dosanya. Namun, secara tiba-tiba pahala shalawatnya datang untuk menegakkan tubuhnya, memberinya kekuatan fisik spiritual, dan membimbingnya menyeberang dengan cepat menuju pintu surga.

Tak hanya di akhirat, istiqomah dalam bershalawat juga memberikan garansi ketenangan menjelang kematian. Bagi mereka yang merutinkan amalan ini, Allah seringkali memberikan “kabar gembira” berupa penampakan surga sebelum nafas terakhir berhembus. Kehadiran spiritual Rasulullah SAW dalam momen sakaratul maut menjadi hadiah terindah bagi para pecinta shalawat, mengubah ketakutan akan kematian menjadi sebuah perjumpaan yang penuh kerinduan.

KH. Achmad Sulthon Rofi’i juga memberikan nasihat agar jamaah tidak hanya bershalawat saat berada di majelis besar. Beliau mendorong setiap individu untuk memiliki “wirid” pribadi di rumah masing-masing. Penggunaan alat bantu seperti tasbih digital pun dipandang sangat bermanfaat agar konsistensi hitungan tetap terjaga di tengah kesibukan duniawi. Baginya, shalawat adalah bentuk ibadah yang sangat mudah namun memiliki daya ubah yang sangat dahsyat bagi kehidupan seseorang.

Dalam perspektif yang lebih dalam, shalawat disebut sebagai “Syaikh” atau guru bagi mereka yang tidak memiliki pembimbing ruhani di zaman yang penuh fitnah ini. Beliau menekankan bahwa jika seseorang sulit menemukan mursyid atau guru spiritual yang kamil, maka perbanyaklah shalawat. Nur atau cahaya dari shalawat itulah yang akan membimbing hati secara langsung; jika seseorang hendak tersesat akan ditarik, dan jika mulai malas akan didorong kembali menuju ketaatan.

Memasuki bagian kedua kajian, narasumber mengajak jamaah untuk menghidupkan ibadah tafakur. Tafakur adalah bentuk syukur atas nikmat akal yang diberikan Allah. Ibadah ini seringkali terabaikan karena tidak melibatkan gerakan fisik, padahal kualitasnya bisa melampaui ibadah ritual selama setahun. Waktu terbaik untuk melakukannya adalah saat suasana sunyi dan hati sedang tenang, seperti di tengah malam saat memandang hamparan langit yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya.

Perbedaan kualitas tafakur pun diilustrasikan melalui perbandingan amalan para sahabat Nabi. Sahabat Abu Hurairah merenungi keajaiban ciptaan Allah di alam semesta, sementara Ibnu Abbas merenungi hakikat kematian yang bisa datang kapan saja. Puncaknya adalah tafakur Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memikirkan keselamatan seluruh umat dari api neraka karena rasa kasih sayangnya yang luas, sebuah pemikiran yang nilainya setara dengan ibadah selama 70 tahun.

Pesan kunci dari kajian ini adalah bahwa iman yang kokoh lahir dari hati yang bercahaya melalui proses tafakur. Jika hati seseorang sudah diterangi oleh cahaya iman, maka seluruh anggota tubuhnya—mulai dari mata, telinga, hingga lisan—akan terjaga dari kemaksiatan. Tafakur mengubah orientasi hidup manusia dari sekadar mengejar materi menjadi upaya pencarian rida Allah yang penuh kesadaran dan ketulusan.

Sebagai penutup, KH. Achmad Sulthon Rofi’i mengajak jamaah untuk memperbanyak shalawat, khususnya pada malam dan hari Jumat sebagai waktu yang paling mustajab. Dengan lisan yang basah oleh shalawat dan pikiran yang jernih dalam merenungi kebesaran Tuhan, seorang muslim diharapkan mampu melewati badai fitnah akhir zaman dengan selamat. Semoga dengan bertambahnya usia, bertambah pula kedekatan kita kepada Allah hingga kelak dipanggil dalam keadaan husnul khatimah.

Sumber: Kajian Rutin Selasa Ba’da Maghrib Masjid Jami’ Malang pada 28 April 2026 oleh KH. Achmad Sulthon Rofi’i

E-Buletin