Menjemput Hikmah Surah Al-Kahfi: Saat Kuasa Allah Bekerja di Atas Logika Manusia

Ustadz Dr. H. A. Nasich Hidayatullah Al Hafidz
Ustadz Dr. H. A. Nasich Hidayatullah Al Hafidz

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kisah Ashabul Kahfi bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah manifestasi nyata tentang bagaimana keimanan bekerja di atas nalar manusia. Dalam sebuah kajian rutin yang berlangsung khidmat di Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Selasa malam, 28 April 2026, Ustadz Dr. H. A. Nasich Hidayatullah Al Hafidzmengupas tuntas tafsir Jalalain surah Al-Kahfi ayat 25-26. Beliau membedah peristiwa pelarian tujuh pemuda beriman dari cengkeraman Raja Dikyanus yang zalim sebagai pelajaran penting tentang ketauhidan bagi umat modern.

Ustadz Ahmad Nasich mengawali penjelasannya dengan mengingatkan kembali bahwa turunnya surah ini merupakan jawaban atas tantangan kaum kafir Makkah terhadap Rasulullah SAW. Kala itu, kaum Quraisy mencoba menguji kebenaran kenabian Muhammad SAW dengan menanyakan hal-hal yang dianggap gaib dan mustahil diketahui jika bukan oleh seorang Nabi. Tiga hal yang ditanyakan adalah tentang sosok Zulkarnain, hakikat ruh, dan kisah pemuda yang tertidur di dalam gua selama ratusan tahun.

Memasuki inti bahasan ayat 25, terdapat redaksi unik mengenai durasi waktu tidur para pemuda tersebut, yakni “300 tahun dan ditambah 9 tahun”. Ustaz menjelaskan bahwa susunan bahasa Al-Qur’an ini sangat ajaib karena tidak langsung menyebut angka 309. Hal ini mengisyaratkan adanya perbedaan metode penghitungan waktu di masa itu, di mana angka 300 merujuk pada penanggalan matahari (Syamsiah), sementara tambahan 9 tahun menggenapinya jika menggunakan kalender bulan (Qomariah).

Lebih lanjut, Ustadz Ahmad Nasich memaparkan bahwa perbedaan angka ini sering kali menjadi perdebatan para ahli sejarah. Jika merujuk pada literatur sejarah umum, masa kekuasaan Raja Dikyanus ke Raja Theodosius II hanya berjarak sekitar 200 tahun. Namun, Al-Qur’an membawa angka yang berbeda untuk memberikan penekanan bahwa perhitungan manusia bisa saja meleset, namun ketetapan Allah adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh data sejarah manapun.

Menariknya, kajian ini juga menyentuh aspek biologis yang sering dipertanyakan secara medis. Ustaz Ahmad Nasih menjelaskan bahwa Allah membolak-balikkan tubuh para pemuda itu ke kanan dan ke kiri agar fisik mereka tidak rusak dimakan tanah. Meskipun ada upaya ilmuwan untuk merasionalkan fenomena ini secara saintifik, beliau menekankan bahwa pada titik tertentu, logika manusia akan sampai pada batasnya dan harus menyerah pada keimanan.

Dalam ayat 26, Allah memberikan jawaban final melalui kalimat “Allahu a’lamu bima labitu” atau Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal. Kalimat ini menurut Ustaz adalah final answer yang menutup segala perdebatan teknis. Penekanannya bukan lagi pada berapa lama mereka tidur, melainkan pada siapa yang memiliki kuasa untuk menidurkan dan membangunkan mereka kembali dalam kondisi fisik yang tetap utuh.

Sebagai perbandingan untuk memperkuat pemahaman jemaah, Ustaz juga menceritakan kisah Nabi Uzair yang tercantum dalam surah Al-Baqarah. Nabi Uzair pernah ditidurkan oleh Allah selama 100 tahun bersama keledainya untuk membuktikan kekuasaan Tuhan atas kebangkitan setelah kematian. Ketika terbangun, Nabi Uzair merasa hanya tidur selama sehari atau setengah hari, persis seperti yang dirasakan oleh Ashabul Kahfi.

Fenomena Nabi Uzair memberikan analogi yang luar biasa tentang bagaimana Allah mengontrol waktu secara berbeda pada objek yang berbeda. Bayangkan, makanan dan minuman yang dibawa Nabi Uzair tetap segar dan tidak basi sedikit pun, sementara keledainya telah hancur menjadi tulang belulang. Hal ini membuktikan bahwa hukum alam seperti pembusukan tidak berlaku jika Allah sudah berkehendak menghentikannya.

Melalui narasi ini, Ustadz Ahmad Nasich mengajak jemaah yang hadir maupun pemirsa daring untuk tidak “mendewakan” logika secara berlebihan. Di era digital yang serba rasional, sering kali manusia meragukan hal-hal di luar nalar. Namun, kisah Ashabul Kahfi mengingatkan bahwa ada wilayah “di luar nurul” atau di luar nalar umum yang hanya bisa ditembus dengan cahaya keimanan yang kokoh di dalam hati.

Prinsip utama yang ingin ditanamkan adalah keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu atau Innallaha ala kulli syai’in qadir. Jika Allah mampu menjaga tujuh pemuda di dalam gua selama ratusan tahun tanpa asupan nutrisi, maka tidak ada yang sulit bagi-Nya untuk mengubah nasib seseorang dalam sekejap. Hal ini menjadi penghibur bagi mereka yang sedang merasa terhimpit oleh kesulitan hidup.

Ustadz Ahmad Nasich juga menyinggung dinamika kehidupan manusia yang sering berbolak-balik seperti tubuh Ashabul Kahfi. Ada kalanya seseorang berada di posisi rendah, lalu diangkat menjadi orang hebat atau pejabat oleh Allah. Begitu pula sebaliknya, kemuliaan duniawi bisa dicabut kapan saja jika Allah berkehendak. Semua itu adalah bagian dari skenario besar Sang Pencipta yang melampaui perhitungan matematis manusia.

Kajian ditutup dengan doa agar setiap jemaah diberikan ketetapan iman dan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah). Pelajaran dari Ashabul Kahfi adalah tentang integritas menjaga iman di tengah lingkungan yang zalim. Dengan keyakinan yang mantap, perlindungan Allah akan senantiasa menyertai, sebagaimana Dia melindungi para pemuda goa dari kejaran penguasa yang kejam ribuan tahun yang lalu.

Sumber: Kajian kitab tafsir Jalalain yang disampaikan oleh Ustadz Dr. H. A. Nasich Hidayatullah Al Hafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Selasa, 28 April 2026

E-Buletin