Mengikat Nikmat dengan Syukur: Rahasia Hidup Bahagia Tanpa Terjebak Kelalaian Dunia

Habib Muhammad bin Alwi al-Habsyi
Habib Muhammad bin Alwi al-Habsyi

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surakarta – Seringkali kita terjebak dalam hiruk-pikuk pencapaian materi hingga melupakan esensi dari keberadaan harta dan kenyamanan yang kita miliki. Dalam sebuah majelis ilmu yang berlangsung khidmat, terungkap sebuah rahasia besar tentang bagaimana menjaga keberlangsungan nikmat agar tidak sekadar mampir, melainkan menetap dan membawa keberkahan hingga akhirat. Kajian ini membawa pesan mendalam bagi setiap individu, khususnya mereka yang tengah berada di puncak karier dan kelimpahan harta.

Kajian kitab Risalatul Mu’awanah karya Imam al-Haddad dan kumpulan nasihat Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi ini disampaikan oleh Habib Muhammad bin Alwi al-Habsyi pada hari Minggu, 19 April 2026. Bertempat di Masjid Riyadh Solo, acara ini menjadi momentum penting bagi para jamaah dan pengurus organisasi untuk merefleksikan kembali orientasi hidup mereka di tengah kesibukan profesional.

Mengawali kajian, Habib Muhammad mengutip pemikiran tajam Imam al-Ghazali mengenai bahaya kelalaian hati (ghoflah). Disebutkan bahwa jika seseorang tidak lagi merasakan kegelisahan atau peringatan dalam batinnya atas dosa-dosa yang diperbuat, maka ia berada dalam kondisi bahaya yang berkelanjutan. Kematian bagi orang yang lalai hanyalah perpindahan dari satu kegelapan menuju kegelapan lainnya, sehingga kesadaran akan hakikat jasad dan ruh menjadi mutlak diperlukan.

Memasuki inti bahasan, Habib Muhammad membedah nasihat emas Habib Ali al-Habsyi yang ditujukan khusus bagi para muridnya yang berprofesi sebagai pengusaha atau orang-orang berkecukupan. Pesan pertamanya sangat lugas: posisi nyaman yang kita nikmati saat ini bukanlah karena kehebatan strategi atau kecerdasan pribadi kita. Semua itu adalah murni anugerah dari Allah SWT yang memilih kita untuk menerima titipan tersebut.

Kesadaran ini penting agar tidak muncul sifat sombong atau ujub dalam diri seorang hamba. Tanpa perhatian dan kasih sayang Allah, seorang manusia tidak akan mampu meraih satu sen pun dari cita-citanya. Harta, jabatan, dan relasi yang luas hanyalah perantara, sedangkan sumber utamanya adalah kasih sayang Sang Pencipta yang menghendaki keadaan hidup kita baik-baik saja.

Habib Muhammad kemudian menjelaskan konsep Waqidun nikmati syukruha, yakni metode mengikat nikmat agar tidak lepas dari genggaman. Layaknya seekor hewan buruan yang harus diikat agar tidak lari, nikmat pun harus diikat dengan rasa syukur. Syukur bukan sekadar ucapan lisan, melainkan pengakuan mendalam dalam hati bahwa ada Al-Mun’im (Sang Pemberi Nikmat) di balik setiap fasilitas yang kita gunakan sehari-hari.

Implementasi syukur yang paling nyata adalah dengan menjadi pribadi yang dermawan dan senang menyenangkan orang lain. Dalam kajian tersebut ditekankan bahwa orang kaya yang bersyukur adalah mereka yang mampu memberikan manfaat, baik dengan menyenangkan hati sesama maupun menyejahterakan jasad mereka. Memberi makan yang lapar atau memudahkan urusan orang lain adalah bentuk nyata dari pembayaran “hak” atas nikmat yang diterima.

Lebih lanjut, narasumber memperingatkan tentang tipu daya setan yang sering kali membungkus kelalaian dengan kemegahan dunia. Setan berusaha membuat manusia fokus pada keindahan nikmatnya saja, namun lupa pada Zat yang memberikannya. Ketika seseorang mulai terpesona pada hartanya dan melupakan Allah, maka saat itulah ia kehilangan perlindungan khusus dari Sang Pencipta dan mulai melangkah menuju kerugian besar.

Kajian ini juga memberikan perspektif baru tentang kesehatan. Syukur atas badan yang sehat dan hati yang bersih adalah dengan menggunakannya untuk berkhidmat kepada agama dan menghadiri majelis-majelis kebaikan. Sehat bukan hanya soal fisik yang kuat untuk bekerja, tetapi juga kekuatan jiwa untuk tetap taat meski di tengah godaan dunia yang begitu besar.

Kesuksesan sejati bagi seorang mukmin adalah ketika harta di dunia menjadi modal untuk kemuliaan di akhirat. Harta yang dibelanjakan di jalan Allah tidak akan berkurang, melainkan bertransformasi menjadi derajat yang tinggi di masa depan yang abadi. Inilah perdagangan yang paling menguntungkan, di mana modal duniawi diubah menjadi aset ukhrawi yang tidak akan pernah mengalami penyusutan.

Di akhir nasihatnya, Habib Muhammad mengajak jamaah untuk meneladani gaya hidup orang-orang saleh sebagai standar kebahagiaan tertinggi. Hidup yang paling nikmat bukanlah hidup dengan fasilitas termewah, melainkan hidup yang seluruh tujuannya difokuskan untuk meraih rida Allah. Bagi mereka, dunia yang sedang menyenangkan atau dunia yang sedang pahit tidaklah menjadi masalah, asalkan hubungan mereka dengan Allah tetap terjaga.

Kajian ditutup dengan doa-doa yang menggetarkan, memohon agar kita dijadikan hamba yang selalu ingat pada Sang Pemberi di saat menerima pemberian. Melalui pesan ini, kita diingatkan bahwa menjadi profesional dan penggerak budaya yang sukses adalah sebuah prestasi, namun menjadi hamba yang pandai bersyukur di balik kesuksesan tersebut adalah sebuah kemuliaan yang hakiki.

Sumber: kajian kitab Risalatul Mu’awanah yang disampaikan oleh Habib Muhammad bin Alwi al-Habsyi pada 19 April 2026 di Masjid Riyyad Solo

E-Buletin