Kabarmasjid.id, Surabaya – Menanamkan rasa cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW merupakan fondasi utama dalam memperkokoh keimanan seorang Muslim. Salah satu cara untuk memupuk kecintaan tersebut adalah dengan menyelami dalil-dalil mengenai kemuliaan dan keagungan pribadi beliau sebagaimana yang tertuang dalam literatur klasik para ulama.
Kajian rutin ini dilaksanakan pada hari Minggu, 26 April 2026, bertempat di Masjid Agung Jami Malang, Jawa Timur. Kegiatan yang berlangsung selepas salat Maghrib ini menghadirkan narasumber Abuya KH. Nur Hasanuddin, yang secara mendalam mengupas isi kitab Mafahim Yaajibu Antushohah karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.
Dalam pembukaannya, Abuya menekankan bahwa memuji Rasulullah SAW bukanlah tindakan yang berlebihan, melainkan sebuah bentuk ibadah yang berlandaskan dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau mengutip Surah Al-Qalam ayat 4 yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang sangat agung di mata Allah SWT.
Salah satu poin utama yang dibahas adalah hadis tentang kedudukan Rasulullah SAW sebagai Sayyidu Waladi Adam atau pemimpin anak cucu Nabi Adam AS di hari kiamat. Abuya menjelaskan bahwa meskipun memegang gelar kemuliaan tertinggi, Rasulullah menegaskan kalimat wala fakhr yang berarti beliau menyampaikan hal tersebut tanpa rasa sombong sedikit pun.
Kemuliaan ini akan tampak nyata saat seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam kondisi yang sangat mencekam dan panas. Pada saat itu, tidak ada satu pun Nabi yang berani memberikan syafaat kepada manusia kecuali Nabi Muhammad SAW, yang dengan rendah hati bersujud memohon keselamatan bagi umatnya.
Abuya juga menyinggung tentang peristiwa kebangkitan manusia dari alam barzakh, di mana Rasulullah SAW adalah orang pertama yang akan dibukakan bumi baginya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah prototipe kesempurnaan manusia yang menjadi pembuka pintu rahmat bagi seluruh penghuni alam semesta di akhirat kelak.
Di tengah kajian, KH. Nur Hasanuddin menyelipkan kisah inspiratif tentang seorang wanita miskin namun istikamah dalam menuntut ilmu. Kisah ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehadiran di majelis taklim adalah investasi besar yang akan mengubah wajah kehidupan seseorang saat berada di alam kubur nanti.
Abuya mengingatkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah ujian yang sangat singkat, bahkan diibaratkan hanya seperti singgah untuk minum. Beliau menekankan pentingnya mempersiapkan diri melalui amal saleh karena waktu yang akan kita habiskan di alam kubur jauh lebih lama dibandingkan usia kita di dunia.
Kajian ini juga memberikan penekanan pada konsep Al-Wasilah, yakni kedudukan tertinggi di surga yang hanya dianugerahkan kepada satu orang. Sebagai umat Muhammad SAW, kita dianjurkan untuk terus memperbanyak selawat agar layak mendapatkan syafaat dan kedekatan dengan beliau di hari perhitungan nanti.
Selain membahas teks kitab, suasana kajian terasa sangat khidmat saat Abuya mengajak jamaah mendoakan kesembuhan bagi para guru dan orang tua. Beliau menekankan bahwa bakti kepada orang tua (birrul walidain) adalah kunci keberkahan hidup yang akan menurun kepada generasi anak-cucu kita.

Menjelang akhir sesi, Abuya memberikan kabar duka atas wafatnya salah satu jamaah tetap Masjid Jami yang dikenal rajin mengaji. Hal ini menjadi momentum bagi seluruh jamaah yang hadir untuk melakukan refleksi diri mengenai kepastian maut dan pentingnya menjaga istikamah hingga akhir hayat.
Kajian ditutup dengan doa bersama dan ajakan untuk selalu menyenangkan hati Rasulullah SAW melalui perilaku sehari-hari. Dengan berakhirnya sesi tersebut, jamaah diharapkan membawa pulang semangat baru untuk memperdalam literasi keislaman dan memperkuat ikatan spiritual kepada sang Nabi pembawa rahmat.
Sumber: Kajian Rutin Ahad Ba’da Maghrib di Masjid Agung Jami Malang pada tanggal 26 April 2026. oleh KH. Nur Hasanuddin dengan pembahasan kitab Mafahim Yaajibu Antushohah.