Menjaga Api Pahala Pasca-Ramadhan: Masihkah Tersisa dalam Catatan Kita?

Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag.
Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita selama lebih dari sebulan. Namun, sebuah pertanyaan besar sering kali luput dari perhatian kita: apakah tumpukan pahala dari puasa, tarawih, dan sedekah yang kita perjuangkan kemarin masih utuh tersimpan, atau justru pelan-pelan terkikis oleh rutinitas dosa harian? Menjawab kegelisahan tersebut, Masjid Al Falah Surabaya menyelenggarakan Kajian Subuh pada Sabtu, 25 April 2026, yang menghadirkan Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag. untuk membedah tema krusial mengenai keberlangsungan pahala amal kita.

Pada awal penyampaiannya, Ustadz Junaidi menekankan bahwa banyak umat Muslim terjebak dalam euforia kemenangan Idul Fitri tanpa menyadari risiko “kebangkrutan” pahala. Beliau merujuk pada QS. Ali Imran ayat 185 untuk mengingatkan bahwa balasan amal yang sesungguhnya (ujurakum) baru akan disempurnakan di hari kiamat kelak. Hal ini berarti, apa yang kita kerjakan di dunia masih bersifat dinamis; bisa tetap terjaga, namun bisa juga terhapus jika tidak dirawat dengan hati-hati.

Salah satu poin penting yang disoroti adalah sifat kematian yang disebut sebagai zaaiqoh atau mencicipi. Beliau menjelaskan bahwa saat sakratul maut, manusia akan diberikan “cicipan” berupa pandangan terhadap tempat tinggalnya kelak, baik itu surga maupun neraka. Bagi mereka yang menjaga pahalanya, kematian akan terasa seperti pintu menuju kenikmatan yang ingin segera dimasuki, namun bagi yang merusak amalnya dengan kemaksiatan, momen tersebut akan menjadi awal ketakutan yang luar biasa.

Ustadz Junaidi juga mengingatkan tentang bahaya sifat hasad atau iri dengki yang sering muncul dalam interaksi sosial pasca-lebaran. Mengutip hadis Nabi, beliau menjelaskan bahwa satu kali saja penyakit hasad bersarang di hati, ia mampu memakan habis pahala kebaikan layaknya api melahap kayu bakar. Oleh karena itu, keberhasilan ibadah seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dilakukan selama Ramadhan, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga diri dari dosa-dosa penghapus pahala di bulan-bulan berikutnya.

Sebagai solusi praktis untuk melanggengkan pahala, tips pertama yang diberikan adalah tradisi saling mendoakan. Beliau mencontohkan para salafus saleh yang selama enam bulan setelah Ramadhan terus mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum. Doa ini bukan sekadar basa-basi formalitas, melainkan bentuk kekhawatiran yang tulus agar amalan yang sudah dikerjakan benar-benar diterima oleh Allah SWT dan tidak hangus karena kelalaian manusia.

Tips kedua adalah dengan mempercepat pertobatan dan memperbanyak istigfar setiap kali melakukan kesalahan. Beliau menyadari bahwa manusia tidak luput dari dosa, terutama yang berkaitan dengan godaan syahwat harta maupun lawan jenis. Namun, dengan segera kembali kepada Allah dan berazam tidak mengulangi kesalahan, seorang hamba dapat memulihkan kembali eksistensi pahalanya yang sempat terancam oleh noda kemaksiatan tersebut.

Selanjutnya, tips ketiga yang tidak kalah penting adalah upaya untuk “mengecewakan” setan dengan cara menjaga kerukunan. Ustadz Junaidi memaparkan bahwa program utama setan adalah memicu permusuhan, terutama dalam lingkup keluarga dan tetangga. Dengan saling memaafkan dan menahan amarah, seorang Muslim tidak hanya memelihara kedamaian sosial, tetapi juga berhasil menggagalkan misi besar iblis yang ingin merusak catatan amal manusia.

Beliau juga membedah tingkatan dalam memaafkan, mulai dari magfirah (sekadar menutup kesalahan), al-afwu (meniadakan sanksi hukum), hingga yang tertinggi yaitu as-sofhu. Tingkatan as-sofhu adalah memaafkan dengan cara melegowokan hati dan melupakan luka lama. Menurutnya, ketika seseorang mampu mencapai derajat ini, Allah akan “jatuh cinta” kepadanya dan senantiasa menjaga keberkahan atas amalan-amalannya.

Kajian ini juga menyentuh aspek tradisi lokal seperti halal bihalal yang dipandang positif sebagai sarana merajut kembali silaturahmi yang renggang. Meskipun secara syariat meminta maaf tidak perlu menunggu momentum tertentu, keberadaan tradisi ini membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi umat untuk membersihkan diri dari beban dosa antar sesama manusia. Hal ini menjadi benteng tambahan agar pahala yang sudah dikumpulkan tidak terbuang sia-sia akibat konflik sosial.

Dalam sesi tanya jawab, Ustadz Junaidi menjelaskan bahwa amalan rutin seperti salat Jumat ke Jumat berikutnya atau umrah ke umrah berikutnya berfungsi sebagai kafarat atau penghapus dosa. Dengan terhapusnya dosa-dosa kecil tersebut melalui ibadah rutin, peluang pahala besar dari ibadah utama untuk tetap eksis menjadi lebih tinggi. Ini adalah mekanisme rahmat Allah agar hamba-Nya memiliki banyak cara untuk memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.

Ustadz Junaidi menutup kajian dengan ajakan untuk selalu melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara berkelanjutan. Beliau mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukan terjadi saat hari raya Idul Fitri di dunia, melainkan saat kaki melangkah masuk ke dalam surga dan dijauhkan dari api neraka. Selama hayat masih dikandung badan, pintu untuk memperbaiki catatan pahala masih terbuka lebar melalui istigfar dan amal saleh yang konsisten.

Sumber: Kajian Subuh Sabtu, 25 April 2026 di Masjid Al Falah Surabaya yang disampaikan oleh Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag. dengan tema “Masihkah Ada Pahala Kita?”

E-Buletin