Hakikat Harta dan Bahaya Kikir: Pelajaran dari Kajian Ihya’ Ulumuddin

Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi
Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surakarata – Dalam kehidupan modern yang serba materialistis, sering kali kita terjebak dalam perlombaan mengumpulkan harta hingga lupa akan hakikat kepemilikan yang sebenarnya. Rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia sering kali melahirkan sifat kikir yang perlahan menggerogoti kesehatan mental dan spiritual seseorang. Memahami bahaya ini menjadi krusial agar kita tidak menjadi budak dari apa yang kita miliki sendiri.

Kajian tasawuf mendalam mengenai persoalan ini disampaikan oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi dalam Majelis Salaf Rouhah siang hari yang membahas Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 23 April 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo. Dalam ceramahnya yang disiarkan secara langsung, beliau membedah bab tentang bahaya kikir dan bagaimana cara efektif untuk menyembuhkan penyakit hati tersebut.

Ustadz Alwi menjelaskan bahwa bakhil atau kikir adalah penyakit parah yang lahir dari kecitanaan yang luar biasa terhadap harta. Indikasinya sangat jelas, yakni ketika seseorang merasa sangat berat untuk menyisihkan sebagian hartanya di jalan Allah. Bahkan, ada kalanya seseorang hanya mau berderma jika dilakukan secara terbuka atau riya untuk mendapatkan pujian, yang mana keduanya merupakan sifat yang dibenci dalam agama.

Mengutip perumpamaan dari Imam Al-Ghazali, sifat buruk dalam diri manusia diibaratkan seperti ulat-ulat pada mayat yang saling memangsa. Sifat yang kuat akan memakan yang lemah hingga tersisa satu sifat dominan yang menguasai jiwa. Jika sifat kikir ini dibiarkan membesar, ia akan menjadi “ulat raksasa” yang pada akhirnya membuat pemiliknya mati dalam kesengsaraan karena kelaparan spiritual.

Satu-satunya cara untuk memutus rantai sifat buruk ini adalah melalui mujahadah atau perjuangan jiwa dengan menentang keinginan sifat tersebut. Jika sifat kikir membisikkan untuk menahan harta, maka seseorang harus melawannya dengan memaksa diri untuk memberi. Langkah awal ini memang akan terasa sangat berat dan dipaksakan, namun itulah proses penyembuhan yang harus dilalui.

Ustadz Alwi menekankan bahwa obat dari kikir terdiri dari dua pilar utama: ilmu dan amal. Pilar ilmu berarti seseorang harus benar-benar memahami bahaya kikir dan mengetahui betapa besarnya faedah dari sifat murah hati. Tanpa pemahaman yang kuat, seseorang akan sulit menggerakkan hatinya untuk melakukan perubahan nyata dalam perilaku kesehariannya.

Pilar kedua adalah amal, yaitu praktik langsung dalam mendermakan harta. Meskipun pada mulanya dilakukan dengan perasaan terpaksa (takalluf), konsistensi dalam memberi akan mengubah perbuatan tersebut menjadi sebuah tabiat atau karakter. Lama-kelamaan, rasa berat dalam memberi akan hilang dan berganti menjadi rasa cinta untuk selalu bersedekah di jalan Allah.

Beliau juga menyoroti bagaimana pendidikan hati (tarbiyah) dilakukan oleh para ulama terdahulu kepada murid-murid mereka. Seorang guru sufi sering kali memindahkan muridnya dari tempat nyaman atau meminta murid menyerahkan barang kesayangannya kepada orang lain. Tujuannya bukan untuk menyiksa, melainkan untuk melatih hati agar tidak merasa memiliki dan tidak terikat pada kenyamanan duniawi.

Sebuah kisah menarik tentang “Mangkok Permata” juga dibagikan dalam kajian ini untuk menggambarkan risiko mencintai benda mati. Diceritakan seorang raja yang sangat bangga dengan mangkok mahalnya, namun seorang bijak menyebut mangkok itu sebagai sumber musibah. Benar saja, ketika mangkok itu pecah, sang raja menderita luar biasa karena tidak ada pengganti yang sebanding dengan benda tersebut.

Analogi ini mengajarkan bahwa semakin banyak benda duniawi yang kita cintai, semakin banyak pula pintu musibah dan kesedihan yang terbuka saat benda-benda itu hilang. Orang yang memiliki banyak keterikatan akan merasakan ribuan penderitaan saat menghadapi kehilangan atau kematian, karena ia merasa semua yang dicintainya telah dirampas darinya.

Harta sebenarnya ibarat air di tepi sungai besar yang bisa diambil oleh siapa saja sesuai kebutuhan. Masalah muncul ketika manusia mulai merasa harus memiliki seluruh sungai tersebut. Padahal, harta yang disimpan melebihi kebutuhan hanya akan mendatangkan kelelahan karena harus dijaga dengan biaya dan tenaga ekstra, yang pada akhirnya justru “memakan” pemiliknya sendiri.

Sebagai penutup, kajian ini mengingatkan bahwa dunia bisa menjadi musuh jika ia menghalangi hubungan hamba dengan Sang Pencipta. Namun, jika harta dikelola secukupnya sesuai kebutuhan dan selebihnya digunakan untuk kebaikan, maka sifat kikir tidak akan mampu menguasai hati. Semoga kita semua dijauhkan dari fitnah dunia dan diberikan kekuatan untuk selalu berbagi.

Sumber: Kajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali Masjid Riyadh Solo pada Kamis, 23 April 2026 Bersama oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi

E-Buletin