Sains dan Agama: Mengapa Orang Tua Harus Mengontrol Gadget demi Masa Depan Anak

Ustadz Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM
Ustadz Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia digital hari ini ibarat pisau bermata dua; di satu sisi menawarkan kemudahan informasi, namun di sisi lain menyimpan ancaman laten bagi masa depan generasi muda. Jika orang tua abai dan membiarkan dunia luar mengambil alih peran pendidikan, kita tengah mempertaruhkan lahirnya sebuah “generasi yang hilang.” Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran sosial, melainkan ancaman nyata yang bisa dijelaskan secara medis maupun spiritual.

Pesan mendalam ini disampaikan oleh Ustadz Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM dalam khutbah Jumat yang berlangsung pada 24 April 2026 di Masjid Al Falah Surabaya. Sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi kesehatan, beliau menyoroti bagaimana pola asuh yang keliru dan paparan teknologi yang tidak terkendali dapat merusak struktur otak manusia serta menjauhkan anak-anak dari nilai-nilai ketuhanan.

Dalam pembukaannya, khatib menekankan amanah besar yang dipikul oleh setiap kepala rumah tangga sesuai tuntunan Surah At-Tahrim ayat 6. Perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka bukanlah sekadar jargon, melainkan tanggung jawab aktif bagi para ayah dan suami. Di tengah gempuran zaman digital, tugas ini menjadi berkali-kali lipat lebih berat karena godaan kini hadir langsung di genggaman tangan setiap anggota keluarga.

Secara medis, khatib menjelaskan keberadaan Korteks Prefrontalis (PFC), sebuah bagian vital di otak depan yang berfungsi sebagai pengendali perilaku dan moralitas. PFC inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dalam hal kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk. Jika bagian otak ini berfungsi dengan baik, maka perilaku seseorang cenderung terkendali dan beradab.

Namun, PFC sangat rentan terhadap kerusakan. Meskipun trauma kecelakaan atau tumor bisa menjadi penyebab, persentasenya sangat kecil. Ancaman terbesar yang justru sering diabaikan adalah paparan kemaksiatan dan hal-hal negatif secara terus-menerus. Di era sekarang, paparan ini masuk secara masif melalui konten-konten yang tidak bertanggung jawab di dunia maya.

Mengutip data statistik, khatib mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa hampir 90% remaja saat ini memiliki gadget. Lebih mengejutkan lagi, mayoritas dari mereka pernah terpapar konten pornografi, kekerasan, hingga narasi provokatif. Paparan inilah yang secara perlahan merusak Korteks Prefrontalis anak-anak, sehingga mereka kehilangan kontrol atas perilaku dan emosinya.

Khatib mengingatkan bahwa kerusakan otak akibat paparan konten negatif ini akan membekas hingga dewasa dan sangat sulit untuk dipulihkan. Orang tua seringkali merasa aman hanya karena melihat anak mereka diam di rumah, padahal melalui layar ponsel, anak tersebut mungkin sedang “berkelana” ke tempat-tempat paling gelap di dunia digital yang menjauhkannya dari masjid dan Al-Qur’an.

Kesibukan orang tua mengejar materi juga menjadi faktor pendukung hilangnya kontrol ini. Sesuai peringatan dalam Surah Al-Munafiqun, jangan sampai harta dan anak-anak justru membuat manusia lupa kepada Allah. Lupa di sini juga berarti lalai dalam menjalankan fungsi pengawasan dan pendidikan yang seharusnya menjadi prioritas utama di atas mengejar karier atau kekayaan.

Sebagai langkah konkret, khatib menyarankan agar orang tua membatasi kebebasan anak dan lebih waspada terhadap teman pergaulan mereka. Fenomena penyimpangan perilaku seperti LGBT seringkali bermula dari kurangnya pengawasan orang tua terhadap interaksi sosial anak, bahkan dalam hal-hal yang dianggap sepele seperti menginap di kamar teman tanpa kontrol yang jelas.

Langkah kedua yang paling krusial adalah menjadi teladan atau uswah. Orang tua tidak akan pernah berhasil mendidik anak untuk salat berjemaah jika ayahnya sendiri tidak pernah terlihat di masjid. Begitu pula dalam hal merokok atau penggunaan gadget; anak adalah peniru yang ulung, mereka akan mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya daripada apa yang diperintahkan.

Selain teladan, kualitas waktu bersama menjadi kunci. Khatib menyoroti fenomena “meja makan bisu” di mana setiap anggota keluarga sibuk dengan ponselnya masing-masing. Diperlukan komitmen untuk melepaskan gadget sejenak guna membangun komunikasi dua arah yang hangat, sehingga anak merasa memiliki sandaran dan figur idola di dalam rumahnya sendiri.

Sebagai penutup, khutbah tersebut mengajak seluruh jemaah untuk tidak lelah mendoakan keturunan agar menjadi golongan yang mendirikan salat dan menjadi penyejuk hati (qurrota a’yun). Pendidikan yang baik, pengawasan yang ketat, teladan yang nyata, serta doa yang tulus adalah benteng terakhir untuk menyelamatkan generasi kita dari ancaman menjadi generasi yang hilang.

Sumber: Khotbah Jumat oleh Ustadz Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM di Masjid Al Falah Surabaya pada 24 April 2026  yang membahas tentang tantangan mendidik anak di era digital agar tidak menjadi “generasi yang hilang”.

E-Buletin