Kabarmasjid.id, Surabaya – Banyak dari kita yang sering kali merasa cukup hanya dengan target minimal dalam beribadah, termasuk dalam urusan akhirat. Namun, sebuah pesan mendalam mengingatkan kita bahwa dalam mengejar rida Allah, kita tidak boleh tanggung-tanggung atau sekadar mencari “posisi aman”. Pesan inspiratif ini disampaikan dalam Khutbah Jumat yang berlangsung pada 24 April 2026 di Masjid Al-Irsyad Surabaya, dengan menghadirkan Ustadz Dr. Ahmad Faiz Khudlori S.Si., MM sebagai khatib yang mengupas tuntas strategi memantaskan diri meraih surga tertinggi.
Dalam pembukaan khutbahnya, Ustadz Ahmad Faiz menekankan pentingnya memiliki optimisme tinggi dalam berdoa. Ia mengutip motivasi dari Rasulullah SAW yang mengajarkan umatnya agar ketika meminta surga, janganlah meminta yang paling bawah, melainkan mintalah Surga Firdaus. Hal ini bukan bentuk kesombongan, melainkan wujud husnudzon atau prasangka baik kepada kemurahan Allah SWT yang maha luas bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Pertanyaan besarnya kemudian adalah bagaimana cara kita memantaskan diri untuk menempati tingkatan tertinggi tersebut? Khatib menjelaskan bahwa salah satu “bocoran” dari Rasulullah SAW adalah dengan membangun persahabatan yang erat dengan Al-Qur’an selama hidup di dunia. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan kendaraan yang akan menentukan di lantai mana istana kita akan dibangun kelak di surga.
Khatib memberikan perumpamaan yang sangat menarik, di mana ia mengibaratkan surga layaknya sebuah hotel mewah. Ketika seluruh penduduk surga dikumpulkan di lobi, malaikat akan mempersilakan mereka masuk ke dalam “lift” surga. Di dalam lift itulah, kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an selama di dunia akan diuji secara langsung untuk menentukan tujuan lantai tempat kita tinggal.
Di dalam lift tersebut, setiap orang diperintahkan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana mereka terbiasa membacanya (tartil) saat masih di dunia. Semakin banyak dan lancar ayat yang dibaca, maka lift tersebut akan terus bergerak naik semakin tinggi. Derajat dan ketinggian istana seseorang di surga akan berhenti tepat pada ayat terakhir yang mampu ia bacakan dengan baik di hadapan para malaikat.
Ustadz Ahmad Faiz memberikan peringatan bagi mereka yang jarang berinteraksi dengan mushaf. Bagi orang yang hanya membaca Al-Qur’an setahun sekali di bulan Ramadan, mereka mungkin akan kesulitan saat berada di lift tersebut. Bisa jadi ingatan mereka terbatas hanya pada surat-surat pendek, sehingga istana mereka pun hanya berada di lantai-lantai awal karena bacaannya terhenti dengan cepat.
Sebaliknya, bagi mereka yang setiap hari bergumul dengan Al-Qur’an, proses kenaikan derajat ini akan menjadi momen yang membahagiakan. Meski mungkin saat di dunia bacaannya belum sempurna atau fisiknya sudah payah saat menghafal, Allah tetap menghargai usaha tersebut. Lift mereka akan terus meluncur ke atas, melewati puluhan bahkan ratusan lantai, seiring dengan banyaknya ayat yang telah mereka akrabkan ke dalam hati.
Ditekankan dalam khutbah tersebut bahwa poin utamanya bukan sekadar pada capaian jumlah hafalan yang fantastis. Allah dan Rasul-Nya lebih melihat pada rutinitas, kebiasaan, dan keistikamahan seseorang. Seseorang yang terus berusaha memperbaiki tajwidnya meski terbata-bata akan mendapatkan kemudahan luar biasa saat harus membacakannya kembali di akhirat kelak.
Untuk mewujudkan kedekatan tersebut, khatib merumuskan tiga langkah praktis yang bisa diterapkan oleh setiap Muslim. Langkah pertama adalah “Tekadkan”. Kita harus bertanya ke lubuk hati terdalam, adakah keinginan kuat untuk tidak mati sebelum mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar atau minimal menghafal Juz Amma? Tekad inilah yang menjadi bahan bakar utama dalam setiap amal saleh.
Langkah kedua adalah “Programkan”. Tekad tanpa rencana hanya akan menjadi angan-angan kosong. Khatib menyarankan agar kita membuat target harian yang realistis, misalnya satu ayat atau satu baris per hari, namun dilakukan secara konsisten. Selain target, tentukan pula jadwal harian yang pasti agar membaca Al-Qur’an tidak hanya dilakukan di waktu sisa yang sering kali justru tidak pernah ada.
Langkah terakhir yang paling krusial adalah “Paksakan”. Sering kali godaan setan muncul dalam bentuk penundaan, seperti menunggu minggu depan atau menunggu momen tertentu untuk memulai. Kita harus memiliki keberanian untuk memaksa diri mulai hari ini juga, menembus rasa malas, hingga aktivitas bersama Al-Qur’an tersebut berubah dari kewajiban menjadi sebuah kebutuhan yang mendarah daging.

Sebagai penutup, khutbah ini menjadi refleksi bagi kita semua warga Surabaya dan umat Muslim pada umumnya untuk mengevaluasi hubungan kita dengan kitab suci. Dengan membangun cinta kepada Al-Qur’an melalui tiga langkah tadi, kita berharap tidak hanya sekadar menjadi penghuni surga, tetapi menjadi tetangga para nabi di puncak Firdaus. Semoga setiap ayat yang kita baca hari ini menjadi saksi yang akan mengantarkan kita ke derajat tertinggi di sisi-Nya.
Sumber: Khutbah Jum’at yang berlangsung pada 24 April 2026 di Masjid Al-Irsyad, Surabaya. Khutbah ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Ahmad Faiz Khudlori S.Si., MM.