Menjadi Mukmin Kuat: Seni Mengubah Kekecewaan Menjadi Kekuatan.

Ustadz Drs. Akhmad Arqom, M.Pd.,
Ustadz Drs. Akhmad Arqom, M.Pd.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia yang kita tinggali saat ini sering kali menyuguhkan realitas yang jauh dari kata ideal, mulai dari dinamika keluarga hingga kondisi sosial yang menyesakkan. Di tengah kepungan rasa kecewa, seorang Muslim dituntut untuk tidak sekadar menyerah pada keadaan, melainkan terus mencari sumber kekuatan agar tetap tegak berdiri. Semangat untuk terus bertumbuh inilah yang menjadi inti sari dari Kajian Maghrib bertajuk “Carilah Apapun yang Membuat Kita Kuat” bersama Ustadz Drs. Akhmad Arqom, M.Pd., yang diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026, di Masjid Al Falah, Surabaya.

Pada awal penyampaiannya, Ustadz Akhmad Arqom menekankan bahwa kekuatan fisik maupun mental adalah aset berharga bagi seorang beriman. Beliau mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW pernah melayani tantangan gulat dari Rukanah, pria terkuat di Mekkah, dan berhasil mengalahkannya tiga kali hingga tokoh tersebut memeluk Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak memandang remeh kekuatan, sebagaimana hadis yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah SWT daripada mukmin yang lemah.

Lebih lanjut, Ustadz Akhmad Arqom menjelaskan bahwa setiap manusia pasti pernah menghadapi situasi yang mengecewakan, baik itu urusan lingkungan kerja maupun kondisi keluarga yang belum religius. Namun, Al-Qur’an melalui Surat Al-Qalam memberikan bimbingan agar kita tidak terhanyut dalam celaan terhadap keadaan. Al-Qur’an tidak mengajari kita untuk menjadi pengeluh, melainkan mendorong sikap positif dan progresif untuk tetap berbuat baik meski di tengah lingkungan yang sulit.

Sikap negatif dalam menghadapi masalah sering kali menjadi beban psikologis yang menghambat pertumbuhan pribadi. Beliau mencontohkan, daripada terus mengeluh tentang anak yang sulit diatur, akan jauh lebih efektif jika kita mulai mencari literatur atau bertanya kepada ahli mengenai cara komunikasi yang lebih baik. Dengan mengubah fokus dari mengeluh menjadi mencari solusi, beban mental yang dirasakan akan perlahan berganti menjadi energi untuk melakukan perbaikan nyata.

Ustadz Akhmad Arqom juga memberikan peringatan keras melalui kisah Nabi Yunus AS yang sempat meninggalkan kaumnya karena merasa kecewa. Beliau menekankan bahwa kita dilarang memiliki sikap seperti “penghuni perut ikan” yang menyerah saat menghadapi jalan buntu. Sebaliknya, kesabaran dalam menghadapi ketidakidealan adalah ibadah yang pahalanya dilipatgandakan oleh Allah tanpa batas, sekaligus menjadi sarana penggugur dosa bagi pelakunya.

Wibawa dalam menyebarkan kebaikan juga menjadi poin penting yang disoroti dalam kajian ini. Beliau mengambil pelajaran dari kisah Nabi Sulaiman AS di Surat An-Naml, di mana kekuatan sumber daya dan profesionalisme digunakan untuk meninggikan derajat agama. Dalam konteks modern, hal ini berarti setiap aktivitas dakwah atau sosial harus dikelola dengan sangat baik agar kebenaran memiliki daya tarik dan kehormatan di mata masyarakat.

Selain itu, penguasaan terhadap berbagai bidang ilmu dan bahasa juga merupakan bentuk kekuatan yang harus dimiliki. Beliau meneladani strategi Rasulullah yang menugaskan sahabat untuk mempelajari bahasa asing demi menjaga stabilitas dan keamanan umat di Madinah. Kemampuan intelektual ini menjadi instrumen penting bagi seorang Muslim untuk dapat berkontribusi lebih luas dalam berbagai sektor kehidupan, baik itu ekonomi, pendidikan, maupun sosial.

Ustadz Akhmad Arqom mengajak para jemaah untuk menyadari bahwa Allah menakdirkan kita hidup di zaman ini bukan tanpa alasan. Jika kita merasa lingkungan saat ini tidak ideal, maka itu adalah panggilan untuk menjadi motor perubahan. Beliau mengingatkan bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah selama setahun atau sepuluh tahun sekalipun, namun satu langkah perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa dampak besar di masa depan.

Efek positif dari melakukan perbaikan diri (ishlah) adalah terciptanya rasa nyaman dan damai di dalam hati. Sesuai dengan janji Allah dalam Surat Al-A’raf, mereka yang bertaqwa dan memperbaiki diri tidak akan dihinggapi rasa takut maupun sedih. Dengan meningkatkan kualitas ibadah, akhlak, dan kompetensi, seseorang tidak hanya akan merasa lebih bahagia, tetapi juga akan mendapatkan respek yang lebih besar dari lingkungan sekitarnya.

Dalam konteks sosial, Ustadz Akhmad Arqom menekankan bahwa manusia cenderung mengikuti mereka yang memiliki keunggulan atau kualitas lebih tinggi. Jika seorang Muslim ingin memberikan pengaruh baik, maka ia harus unggul dalam berbagai hal, mulai dari kejujuran, kerajinan, hingga kedermawanan. Tanpa adanya keunggulan kualitas diri, ajakan menuju kebaikan akan sulit diterima karena tidak adanya teladan nyata yang bisa dilihat oleh orang lain.

Beliau juga berpesan agar orang-orang baik tidak gagal dalam menampilkan akhlak yang mulia. Mengutip pendapat ulama, jika orang baik memiliki perangai yang buruk, maka orang-orang yang gemar berbuat dosa tidak akan memiliki alasan atau motivasi untuk meninggalkan kemaksiatan mereka. Oleh karena itu, menampilkan wajah Islam yang ramah, sopan, dan penuh solusi adalah kewajiban bagi setiap individu yang ingin membawa perubahan di lingkungannya.

Sebagai penutup, Ustadz Akhmad Arqom mengajak jemaah untuk terus melatih diri dan tidak menyerah pada keterbatasan. Memperbaiki diri adalah proses seumur hidup yang tertuang dalam doa-doa harian kita, memohon agar Allah menutupi aib dan menyempurnakan kekurangan kita. Dengan semangat optimisme, beliau berharap setiap Muslim di Surabaya dan di mana pun berada dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bermanfaat, dan mampu meminggirkan kegelapan jahiliah dengan cahaya kebaikan.

Sumber: Kajian Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Akhmad Arqom, M.Pd. pada Selasa, 21 April 2026 dengan tema “Carilah Apapun yang Membuat Kita Kuat”.

E-Buletin