Self-Healing Lewat Privasi: Mengapa Menjaga Rahasia Lebih Baik daripada Pamer di Media Sosial?

Kajian Kitab Nashaihul Ibad oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz
Kajian Kitab Nashaihul Ibad oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan modern yang serba terbuka sering kali membuat kita terjebak dalam budaya pamer yang tanpa disadari dapat mengikis keberkahan hidup. Di tengah hiruk-pikuk informasi digital, nilai-nilai spiritual mengenai kerahasiaan, kedermawanan, dan ketulusan menjadi semakin relevan untuk direnungkan kembali. Melalui kajian mendalam terhadap kitab klasik, kita diajak untuk menata ulang niat dan sikap dalam berinteraksi dengan sesama serta Sang Pencipta.

Kajian kitab Nashaihul Ibad ini dilaksanakan pada hari Senin, 20 April 2026, bertempat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Menghadirkan Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz, pembahasan kali ini membedah maqalah ke-17 yang memuat pesan-pesan mendalam mengenai tiga pilar utama penjaga amal, yakni menjaga rahasia, kekuatan sedekah, dan hakikat keikhlasan dalam beribadah.

Pilar pertama yang ditekankan adalah pentingnya annajwa atau berbisik, yang dalam konteks luas bermakna menjaga rahasia. Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa menyimpan urusan-urusan tertentu secara tertutup merupakan salah satu kunci kesuksesan. Banyak rencana besar atau keberhasilan yang justru terhambat karena terlalu dini dibicarakan kepada orang banyak sebelum benar-benar terwujud.

Lebih lanjut, beliau mengutip pesan Nabi SAW bahwa kita harus memohon pertolongan dalam memenuhi hajat dengan cara menyembunyikannya. Hal ini berkaitan erat dengan fenomena penyakit hati di masyarakat, di mana setiap orang yang memiliki atau mendapatkan nikmat pasti akan menghadapi potensi rasa iri atau hasud dari pihak lain. Menjaga kerahasiaan nikmat adalah cara efektif untuk memproteksi diri dari energi negatif tersebut.

Dalam konteks media sosial saat ini, Ustadz Muzakki memberikan kritik membangun terhadap kebiasaan mengunggah segala bentuk kemewahan atau pencapaian. Beliau mengingatkan bahwa tidak semua orang yang melihat unggahan kita merasa ikut bahagia; sebaliknya, bisa jadi hal tersebut memicu kebencian yang berujung pada tindakan merugikan. Oleh karena itu, berbisik atau bersikap rendah hati jauh lebih aman bagi ketenangan jiwa.

Pilar kedua yang dibahas adalah sedekah sebagai instrumen penjaga harta. Mengutip hadis Nabi, dijelaskan bahwa setiap sore ada dua malaikat yang berdoa secara khusus kepada Allah. Malaikat pertama memohon agar orang yang gemar berinfak diberikan ganti yang berlipat ganda, sementara malaikat kedua memohon agar orang yang kikir atau pelit diberikan kehancuran pada hartanya.

Sedekah tidak hanya soal memberi, tetapi juga soal kualitas. Ust. Muzakki menekankan bahwa kebaikan yang sempurna tidak akan tercapai sebelum seseorang mendermakan sesuatu yang masih ia cintai. Memberikan barang yang sudah rusak atau tidak layak pakai tentu tidak bisa disamakan nilainya dengan memberikan sesuatu yang masih sangat kita sukai kepada mereka yang membutuhkan.

Beliau juga memberikan contoh luar biasa dari sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memberikan seluruh hartanya demi perjuangan Islam. Meski Rasulullah SAW sempat mencegah sahabat lain untuk melakukan hal yang sama demi menjaga kelangsungan hidup keluarga mereka, bagi Abu Bakar, kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya telah melampaui segala keterikatan pada dunia materi.

Memasuki pilar ketiga, kajian ini mengupas tuntas mengenai keikhlasan sebagai pelindung amal. Ikhlas memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda bagi setiap individu. Tingkat tertinggi adalah ketika seseorang beribadah murni karena menjalankan perintah Allah dan memenuhi hak-hak penghambaan tanpa sedikit pun mengharapkan pujian, popularitas, atau keuntungan duniawi dari manusia.

Tingkatan ikhlas berikutnya adalah beramal dengan harapan mendapatkan balasan di akhirat, seperti menginginkan surga atau takut akan siksa neraka. Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa tingkatan ini sangat wajar bagi manusia dan tetap dianggap sebagai bentuk keikhlasan yang diterima, karena Allah sendiri menjanjikan balasan-balasan tersebut dalam Al-Qur’an agar manusia termotivasi berbuat baik.

Adapun tingkatan ikhlas yang paling dasar adalah beramal karena Allah namun masih menyisipkan keinginan untuk kemudahan duniawi, seperti rajin salat Duha agar rezeki lancar. Meskipun ini adalah tingkatan terendah, hal tersebut tetap lebih baik daripada berbuat sesuatu karena riya atau ingin dipuji orang lain. Ikhlas adalah sebuah proses latihan panjang yang harus dilakukan terus-menerus hingga hati benar-benar bersih.

Sebagai penutup, Ustadz Muzakki memberikan penjelasan mengenai posisi spiritual seseorang, antara makam kasab yang menuntut ikhtiar lahiriah dan makam tajrid yang merupakan kedudukan khusus para wali. Melalui pemahaman yang komprehensif terhadap ketiga pilar ini, diharapkan jemaah dapat menjalani hidup yang lebih berkualitas, seimbang antara usaha lahiriah dan penataan batin yang mendalam.

Sumber: Kajian Kitab Nashaihul Ibad oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Senin, 20 April 2026

E-Buletin