Meneladani Pohon Kurma: Menjadi Muslim yang Menebar Manfaat di Mana Saja

Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi
Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surakarta – Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, pemahaman yang mendalam terhadap teks-teks klasik seperti Shahih Bukhari menjadi kompas yang sangat berharga. Melalui kajian hadis, kita diajak untuk menyelami makna terdalam dari setiap tindakan sehari-hari agar tidak sekadar menjadi rutinitas fisik, melainkan bernilai ibadah yang agung di sisi Tuhan.

Kajian Majelis Salaf Rouhah Siang ini dilaksanakan pada Senin, 20 April 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo, dengan menghadirkan Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah berbagai persoalan penting dari Kitab Shahih Bukhari, mulai dari hakikat batin dalam beramal hingga peringatan mengenai tanda-tanda akhir zaman.

Ustadz Muhammad menekankan bahwa segala sesuatu dalam Islam bermula dari niat. Mengutip firman Allah dalam surat Al-Isra, beliau menjelaskan bahwa setiap orang beramal sesuai dengan “syakilah” atau niatnya masing-masing. Hal ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa orientasi batin adalah penentu utama apakah sebuah perbuatan akan diterima sebagai amal saleh atau justru sia-sia.

Salah satu implementasi niat yang sangat dekat dengan keseharian adalah nafkah seorang suami kepada keluarganya. Beliau menjelaskan bahwa jika seorang suami memberikan nafkah dengan niat tulus menjalankan kewajiban dari Allah, maka setiap rupiah yang dikeluarkan bernilai sedekah. Bahkan, setiap suapan makanan yang dinikmati oleh istri menjadi sumber pahala yang terus mengalir bagi suaminya.

Beliau juga menceritakan sejarah di balik hadis niat yang masyhur, yaitu kisah seorang sahabat yang hijrah demi menikahi wanita bernama Ummu Qais. Peristiwa ini menjadi pelajaran abadi bahwa seseorang akan mendapatkan apa yang ia tuju; jika tujuannya adalah dunia atau pasangan, maka itulah yang ia dapatkan, namun ia kehilangan pahala besar di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Pembahasan kemudian beralih ke makna “Agama adalah Nasihat”. Ustadz Muhammad meluruskan bahwa dalam konteks hadis, an-nasihah bermakna ketulusan dan berbuat baik secara menyeluruh. Hal ini mencakup loyalitas kepada Allah, menghidupkan sunah Rasulullah, serta menjaga kebaikan bagi para pemimpin dan masyarakat umum.

Ketulusan ini dicontohkan melalui sikap sahabat Jarir bin Abdillah yang mengutamakan kedamaian umat di atas kepentingan politik. Saat terjadi transisi kepemimpinan, beliau berdiri di mimbar bukan untuk berebut jabatan, melainkan untuk mengingatkan kaum muslimin agar tetap tenang dan tidak berselisih demi menjaga keutuhan ukhuwah Islamiyah.

Dalam sesi berikutnya, beliau membedah Kitabul Ilmi atau kitab tentang ilmu. Dijelaskan bahwa Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi mereka yang beriman dan berilmu. Ilmu menjadi satu-satunya hal yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk diminta tambahannya, yang menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang yang terus belajar.

Namun, Ustadz Muhammad juga memberikan peringatan keras mengenai tanda-tanda kiamat yang berkaitan dengan ilmu dan amanah. Salah satu tanda akhir zaman yang nyata adalah ketika amanah disia-siakan dan urusan diserahkan kepada mereka yang bukan ahlinya. Hal ini mencakup ranah kepemimpinan, peradilan, hingga otoritas dalam memberikan fatwa agama.

Fenomena munculnya “mufti instan” di media sosial juga menjadi sorotan tajam dalam kajian ini. Beliau menyayangkan banyaknya orang yang hanya bermodalkan peralatan sederhana dan kuota internet berani memberikan jawaban hukum agama tanpa landasan ilmu yang jelas. Mengambil ilmu dari jalur yang tidak kredibel merupakan salah satu indikasi semakin dekatnya kehancuran.

Sebagai penutup materi, beliau menyampaikan perumpamaan indah tentang seorang Muslim yang menyerupai pohon kurma. Pohon kurma dikenal sebagai pohon yang seluruh bagiannya bermanfaat, mulai dari buah hingga pelepahnya. Demikian pula seorang Muslim, ia harus menjadi pribadi yang selalu menebar manfaat di mana pun ia berada.

Kajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh beliau, memohon agar ilmu yang dipelajari menjadi cahaya yang membimbing kehidupan. Pesan utama yang dibawa dari Masjid Riyadh ini adalah ajakan untuk memperbaiki kualitas niat, memperdalam ilmu melalui jalur yang benar, serta berkomitmen untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.

Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang yang diselenggarakan di Masjid Riyadh Solo pada tanggal 20 April 2026 bersama  Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi

E-Buletin