Kabarmasjid.id, Surabaya – Suasana khidmat menyelimuti lantai 3 Masjid Nuruzzaman, Universitas Airlangga, saat Katib Aam PBNU, K.H. Ahmad Said Asrori, berdiri memberikan tausiyah penutup dalam acara pelantikan Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surabaya masa bakti 2026–2031. Kehadirannya menjadi puncak dari rangkaian acara yang mengusung tema besar “Guyub Bareng Baik Bareng,” sebuah semangat kolaborasi untuk kemaslahatan umat di Kota Pahlawan.
Kiai Said mengawali pesan spiritualnya dengan menekankan bahwa keberhasilan program-program DMI sangat bergantung pada kekuatan kebersamaan di antara para pengurusnya. Ia mengingatkan bahwa pengurus DMI harus menjadi garda terdepan dalam mempraktikkan nilai musyarakah, atau kerja sama yang erat, demi mencapai visi memakmurkan masjid secara nyata.
Salah satu poin utama yang ditekankan adalah larangan untuk saling memutus tali persaudaraan. Kiai Said mengutip hadis Rasulullah SAW mengenai pentingnya menjaga kerukunan. “Umat Islam itu tidak boleh saling memutus, wala taqotu. Tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya di hadapan ribuan hadirin yang memadati ruangan.
Lebih lanjut, beliau menyoroti fenomena sosial di era digital di mana interaksi fisik mulai berkurang. Meskipun teknologi memudahkan komunikasi, Kiai Said berpendapat bahwa pertemuan secara langsung atau alaqah jasadiah tetap tidak tergantikan. Menurutnya, pertemuan fisik rutin adalah kunci untuk menyinkronkan hati dan langkah dalam menjalankan amanah organisasi.
Kiai Said juga memberikan peringatan keras mengenai penyakit hati yang sering menghinggapi aktivis organisasi, yaitu sifat iri atau hasud. Beliau menjelaskan bahwa hasud bukan sekadar perasaan negatif, melainkan racun yang dapat merusak tatanan sosial dan spiritual. “Hasud itu satu penyakit yang masyaallah akan menghancurkan amal kita semuanya,” ujarnya dengan nada yang mendalam.
Dalam konteks yang lebih luas, Kiai Said menyinggung kondisi dunia yang sedang tidak menentu akibat berbagai konflik global dan kenaikan harga komoditas. Beliau menyebut situasi ini sebagai “fitnah yang mengglobal,” di mana imbas pertikaian di belahan dunia lain bisa sangat terasa hingga ke masyarakat di Indonesia.
Namun, di tengah krisis global tersebut, Kiai Said memuji kekayaan spiritual yang dimiliki bangsa Indonesia, khususnya tradisi silaturahim seperti halal bihalal. Beliau membandingkan dengan negara-negara konflik yang tidak memiliki tradisi saling memaafkan sehingga pertikaian sulit diakhiri. “Kekayaan spiritual ini punya dampak luar biasa terhadap kehidupan kesatuan negara yang kita cintai ini,” tuturnya.
Beliau kemudian mengajak para pengurus DMI untuk merujuk pada standar ketakwaan yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Menjadi pribadi yang bertaqwa berarti mampu berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit, serta mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi fondasi bagi DMI untuk menebar manfaat bagi jemaah.
Terkait dengan tugas pokok DMI, Kiai Said mengingatkan bahwa memakmurkan masjid adalah salah satu syiar Allah yang paling agung di muka bumi. Mengutip ayat tentang taqwa al-qulub, beliau menegaskan bahwa siapa pun yang mengagungkan syiar Allah, sesungguhnya itu lahir dari ketakwaan hati yang mendalam.
Namun, tausiyah tersebut juga diwarnai dengan sebuah “sentilan” atau peringatan yang sangat relevan. Beliau mewanti-wanti jangan sampai ada pengurus organisasi masjid yang justru jauh dari masjid itu sendiri. “Yang aneh itu pengurus dewan masjid tapi enggak pernah ke masjid. Lah ini musibah. Jangan sampai itu terjadi,” pesan beliau yang disambut dengan anggukan khidmat para hadirin.
Kiai Said berpesan agar para pengurus memulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik) untuk mencintai masjid. Jika para pengurus sudah benar-benar mencintai masjid dan rajin berjamaah, beliau yakin bahwa rida dan pertolongan Allah akan menyertai setiap langkah dan program yang mereka canangkan untuk lima tahun ke depan.
Tausiyah diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kiai Said Asrori. Dalam suasana yang khidmat, beliau memohon kepada Allah SWT agar para pengurus DMI Surabaya diberi kekuatan lahir dan batin untuk menjalankan amanah. Harapannya, masjid-masjid di Surabaya tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga makmur dengan kegiatan-kegiatan yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Acara malam itu pun diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol dimulainya babak baru perjuangan DMI di Kota Surabaya. Kini, estafet perjuangan berada di tangan Dr. H. Arif Afandi dan jajarannya untuk menerjemahkan pesan spiritual Kiai Said menjadi langkah konkret. Tantangan ke depan memang tidak mudah, namun dengan semangat Guyub Bareng Baik Bareng, masjid-masjid di Surabaya diharapkan kembali pada khitahnya menjadi episentrum peradaban yang tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga makmur secara jemaah. (AMC)