Melacak Jejak Teologi Imam Abu Mansur Al-Maturidi dalam Arus Utama Ahlussunnah Wal Jamaah

KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi.
KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia Islam mengenal Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) bukan sekadar sebagai identitas, melainkan sebagai metodologi berpikir yang moderat dalam memahami wahyu dan akal. Untuk mendalami fondasi ini, KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi. menyampaikan kajian mendalam dalam Kajian Rutin Sabtu Bada Maghrib yang dilaksanakan pada 11 April 2026 di Masjid Agung Jami Malang. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah profil serta kontribusi besar Imam Abu Mansur Al-Maturidi, seorang tokoh sentral yang bersama Imam Al-Asy’ari merumuskan teologi Islam yang kita ikuti hingga hari ini.

Kajian ini menjadi penting karena sering kali kita hanya menyentuh aspek fikih dalam keseharian, sementara fondasi akidah terkadang kurang mendapat porsi pembahasan yang detail. Narasumber menjelaskan bahwa keberadaan seorang imam seperti Al-Maturidi tidaklah muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses keilmuan yang sangat ketat. Beliau menekankan bahwa Imam Al-Maturidi memenuhi kriteria ideal seorang pemimpin intelektual karena mewariskan kitab, memiliki sanad murid yang tidak terputus, dan aktif dalam dialektika ilmiah untuk membela ajaran Rasulullah dan para sahabat.

Salah satu warisan paling berharga dari Imam Al-Maturidi adalah karya-karyanya yang lintas disiplin ilmu. Dalam bidang tafsir, beliau menulis Ta’wilat Ahlussunnah atau yang dikenal sebagai Ta’wilat Al-Qur’an, sebuah karya monumental yang menjadi rujukan dalam memahami makna ayat suci. Keahlian beliau tidak berhenti di sana; dalam disiplin Ushul Fiqh, beliau menyusun kitab Ma’khuzusy Syara’i yang menunjukkan betapa komprehensifnya penguasaan ilmu agama yang dimiliki oleh sang Imam.

Namun, fokus utama perjuangan Imam Al-Maturidi terletak pada ilmu kalam atau teologi Islam. Dari sekitar delapan kitab akidah yang beliau susun, Kitabut Tauhid muncul sebagai rujukan utama yang paling berpengaruh. Kitab ini secara khusus disusun untuk membentengi umat dari paham-paham yang menyimpang pada zamannya, seperti Muktazilah yang terlalu mendewakan akal, serta kelompok-kelompok lain yang mulai mengaburkan esensi tauhid yang murni.

Menariknya, Imam Al-Maturidi tidak hanya berhadapan dengan kelompok rasionalis, tetapi juga memberikan bantahan keras terhadap sekte-sekte tertentu. Melalui kitab Ar-Raddu ‘alal Qaramitah, beliau membedah dan membantah pemikiran sekte Qaramitah, salah satu cabang Syiah yang dalam sejarahnya pernah melakukan tindakan ekstrem terhadap Ka’bah. Hal ini menunjukkan bahwa peran seorang Imam akidah juga mencakup perlindungan terhadap sejarah dan simbol-simbol suci umat Islam dari distorsi pemikiran.

Inti dari manhaj atau metode berpikir Al-Maturidiyah adalah keseimbangan antara dalil naqli (teks suci) dan dalil aqli (logika). Beliau memosisikan akal bukan sebagai hakim atas wahyu, melainkan sebagai alat untuk menafsirkan dan memahami kedalaman makna wahyu tersebut. Pendekatan ini sangat kontras dengan kelompok Muktazilah yang cenderung mempertanyakan dalil menggunakan logika, sehingga sering kali terjerumus pada kesimpulan yang menjauh dari teks asli.

Dalam kajian tersebut, narasumber memberikan analogi yang indah mengenai hubungan kedua dalil ini: dalil naqli ibarat cahaya matahari, sedangkan dalil aqli ibarat mata manusia. Untuk melihat sebuah benda dengan jelas, kita membutuhkan keduanya. Jika cahaya ada tetapi mata tertutup, kita tidak bisa melihat; sebaliknya, jika mata terbuka tetapi dalam kegelapan total, kita pun tidak akan mendapatkan pemahaman. Kolaborasi inilah yang menjadi ciri khas akidah Asy’ari dan Maturidi.

Salah satu poin yang ditekankan dalam video tersebut adalah bagaimana Imam Al-Maturidi menangani ayat-ayat mutasyabihat (ayat yang maknanya samar). Beliau menggunakan pendekatan takwil untuk menghindari pemahaman tajsim atau penjasmanian Tuhan. Misalnya, ketika Al-Qur’an menyebutkan kata “Wajah” Allah, beliau menjelaskan bahwa itu merujuk pada “Zat” Allah, sehingga umat tidak terjebak dalam bayangan bahwa Sang Pencipta memiliki bentuk fisik yang menyerupai makhluk-Nya.

Fakta sejarah yang unik juga terungkap dalam kajian ini, yakni bahwa Imam Al-Maturidi dan Imam Al-Asy’ari hidup sezaman namun tidak pernah bertemu secara fisik. Imam Al-Maturidi berada di Samarkand (Asia Tengah), sementara Imam Al-Asy’ari berada di Irak. Meskipun terpisah jarak ribuan kilometer dan tanpa komunikasi langsung, produk pemikiran mereka memiliki kesamaan yang luar biasa karena menghadapi tantangan zaman yang serupa dan memiliki prinsip moderasi yang sama.

Keberadaan dua mazhab akidah ini dalam payung Ahlussunnah Wal Jamaah bukanlah sebuah perpecahan, melainkan kekayaan intelektual. Meskipun terdapat perbedaan kecil dalam beberapa poin cabang, keduanya sepakat dalam prinsip-prinsip dasar keimanan. Inilah alasan mengapa dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, nama kedua imam ini selalu disebut berdampingan sebagai penjaga gawang akidah umat dari ekstremitas kanan maupun kiri.

Kajian ini juga menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya “mencari cantolan” atau sanad keilmuan di zaman modern ini. Menghadiri majelis ilmu di masjid atau pesantren adalah cara kita menghubungkan diri dengan mata rantai keilmuan yang tersambung hingga ke Imam Al-Maturidi, para sahabat, dan akhirnya kepada Nabi Muhammad SAW. Kehadiran kita di majelis bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, tetapi untuk memastikan bahwa keyakinan yang kita peluk memiliki dasar yang kuat dan teruji secara sejarah.

Sebagai penutup, KH. DR. Faris Khoirul Anam mengajak jamaah untuk terus konsisten mempelajari akidah di tengah gempuran paham-paham baru yang sering kali membingungkan. Memahami sosok Imam Abu Mansur Al-Maturidi adalah langkah awal untuk menghargai warisan intelektual Islam yang penuh dengan rahmat dan moderasi. Semoga dengan mempelajari sejarah dan pemikiran beliau, keimanan kita menjadi lebih kokoh dan mampu menjawab tantangan zaman dengan hikmah.

Sumber: Kajian Rutin Sabtu Bada Maghrib di Masjid Agung Jami Malang pada sabtu, tanggal 11 April 2026 oleh KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi. yang membahas pemikiran Imam Abu Mansur Al-Maturidi sebagai salah satu pilar akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

E-Buletin