Kabarmasjid.id, Surabaya – Pondasi utama dalam beragama bukan sekadar menjalankan ritual lahiriyah, melainkan kemurnian tauhid yang tertanam di dalam hati. Tanpa pemahaman akidah yang lurus, segala bentuk amal ibadah berisiko menjadi sia-sia di hadapan Sang Pencipta. Penting bagi setiap Muslim untuk mengenali bagaimana sikap yang tepat dalam menjaga tauhid agar tidak terjebak dalam praktik kesyirikan yang samar.
Kajian mendalam mengenai persoalan ini disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan dalam kegiatan “Kajian Muslimah” yang berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026. Acara tersebut diselenggarakan di Masjid Al Falah, Surabaya, dengan mengangkat tema utama “Sikap Ulama Terhadap Tauhid (Tingkatan Kedua)”.
Pada awal penyampaiannya, Ustadz Nadjih menekankan bahwa kedudukan ulama sangat mulia karena mereka adalah pewaris para nabi yang bertugas membimbing umat. Namun, beliau menggarisbawahi bahwa tidak semua dai atau ulama memiliki fokus yang sama dalam dakwahnya. Secara garis besar, terdapat tiga klasifikasi sikap ulama dalam memandang urgensi tauhid sebagai landasan utama agama Islam.
Tingkatan pertama adalah kelompok ulama yang sangat memahami pentingnya tauhid dan bahaya syirik. Kelompok ini menjadikan pelurusan akidah sebagai prioritas utama dan pertama dalam setiap dakwah mereka. Mereka menyadari bahwa tugas utama seorang rasul adalah mengajak manusia untuk mengesakan Allah sebelum memerintahkan perkara ibadah lainnya seperti salat atau zakat.
Masuk ke pembahasan utama yakni tingkatan kedua, Ustadz Nadjih menyoroti fenomena ulama yang cenderung meremehkan dakwah tauhid. Kelompok ini menghabiskan waktu dan tenaga untuk membahas hukum-hukum praktis, ekonomi, hingga politik, namun mengabaikan perbaikan akidah masyarakat. Padahal, tauhid adalah “Asasul Islam” atau pondasi dasar yang menentukan tegaknya bangunan agama seseorang.
Beliau mengingatkan bahwa mengabaikan tauhid bisa berakibat fatal bagi amal ibadah umat. Seolah-olah mengabaikan peringatan Allah dalam Al-Qur’an, amal ibadah yang dilakukan dengan susah payah bisa terhapus jika di dalamnya terdapat noda kesyirikan. Tanpa bimbingan akidah yang benar, masyarakat awam akan sulit membedakan mana yang merupakan ibadah murni dan mana yang mengandung unsur syirik.
Lebih jauh lagi, terdapat tingkatan ketiga yakni para dai yang benar-benar meninggalkan dakwah tauhid dan bahkan tidak berupaya memerangi kesyirikan yang berkembang di masyarakat. Pada tahun 2026 ini, praktik kesyirikan dinilai masih banyak ditemukan dalam berbagai bentuk yang semakin modern, sehingga peran ulama untuk meluruskannya menjadi sangat krusial.
Ustadz Nadjih kemudian memaparkan janji Allah bagi mereka yang teguh memegang tauhid berdasarkan Surah An-Nur ayat 55. Allah berjanji akan memberikan kekuasaan di bumi, meneguhkan agama yang diridai, serta menggantikan rasa takut menjadi aman sentosa. Namun, semua janji tersebut memiliki syarat mutlak, yaitu umat harus tetap menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.
Dalam kajian ini, jamaah juga diperingatkan mengenai “Syirik dalam Ketaatan”. Hal ini terjadi ketika seseorang menaati tokoh, ulama, atau pemimpin secara membabi buta dalam melakukan kemaksiatan, dengan anggapan bahwa hal tersebut dibolehkan. Ketaatan yang melampaui batas syariat ini dapat merusak tatanan sosial dan spiritual masyarakat secara luas.
Menanggapi fenomena media sosial, Ustadz Nadjih mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dengan konten di platform seperti TikTok yang sering menampilkan praktik perdukunan berkedok agama. Beliau menekankan risiko berat bagi mereka yang memercayai dukun, yakni tidak diterimanya ibadah salat selama 40 hari hingga risiko dianggap mengingkari apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Terkait masalah kesehatan, beliau menjelaskan bahwa pengobatan alternatif tetap diperbolehkan selama berlandaskan teori ilmu pengetahuan yang masuk akal (qadariun maklumun) atau melalui doa dan rukyah yang sesuai syariat (syariun maklumun). Yang dilarang adalah mencari kesembuhan melalui perantara yang melibatkan unsur magis atau meminta pertolongan kepada selain Allah yang menjurus pada syirik.

Sebagai penutup, Ustadz Nadjih mengajak seluruh umat untuk kembali memperkuat pondasi tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Dengan akidah yang bersih dan kokoh, umat Islam tidak hanya akan meraih keberkahan dalam ibadah individu, tetapi juga akan mendapatkan pertolongan Allah untuk mencapai kejayaan, keamanan, dan kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sumber: Kajian Muslimah di Masjid Al Akbar Surabaya pada Sabtu, 11 April oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan dengan tajuk Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan