Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia modern sering kali menuntut umat Islam untuk merefleksikan kembali sejauh mana hubungan mereka dengan kitab sucinya. Al-Qur’an bukan sekadar teks yang dibaca untuk mengejar pahala, melainkan sebuah panduan hidup yang menuntut pemahaman mendalam agar dapat diaplikasikan dalam menjawab tantangan zaman. Tanpa upaya untuk menghayati maknanya, kitab suci tersebut hanya akan menjadi hiasan lisan tanpa memberikan transformasi nyata pada perilaku dan karakter penganutnya.
Kajian Tafsir Jalalayn yang berlangsung pada Selasa, 7 April 2026, di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, menghadirkan narasumber Ustadz H. M. Husni Mubarak Al Hafidz. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah Surah Sad ayat 29 yang menjadi landasan penting mengenai tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an. Melalui penjelasan yang lugas, beliau mengajak jamaah untuk menilik kembali sejauh mana interaksi mereka dengan ayat-ayat Allah selama ini.
Dalam paparannya, Ustadz Husni Mubarak menjelaskan bahwa ayat tersebut secara harfiah menegaskan Al-Qur’an adalah kitab penuh berkah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW agar manusia mentadaburi ayat-ayatnya. Tadabur yang dimaksud dalam Tafsir Jalalain adalah proses memikirkan makna-makna yang terkandung di dalam setiap kata. Proses intelektual dan spiritual ini bertujuan agar setiap mukmin semakin yakin bahwa Al-Qur’an benar-benar firman Allah.
Beliau juga menyoroti istilah Ulul Albab yang disebut di akhir ayat sebagai orang-orang yang berakal atau Ashabul Uqul. Menurut Ustadz Husni Mubarak, hanya orang yang menggunakan akal sehatnya dengan maksimal yang mampu mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Kesadaran untuk mengambil ibrah atau pelajaran inilah yang kemudian akan membimbing seseorang menuju jalan kebenaran dan kebijaksanaan dalam setiap langkah hidupnya.
Menariknya, Ustadz Husni Mubarak menyisipkan kritik sosial terkait pandangan yang menyudutkan agama sebagai penyebab ketertinggalan. Beliau mengutip perdebatan lama yang sering dilontarkan bahwa umat Islam mundur karena terlalu berpegang teguh pada agama. Namun, beliau dengan tegas membantah hal tersebut karena Al-Qur’an justru sangat mendukung perkembangan sains dan ilmu pengetahuan jauh sebelum teknologi modern ditemukan.
Sebaliknya, Ustadz Husni Mubarak mengutip pemikiran ulama besar Syekh Mutawalli Asy’rawi yang memberikan jawaban berlawanan. Penyebab mundurnya umat Islam bukanlah karena ketaatan pada agama, melainkan karena umat Islam memiliki Al-Qur’an tetapi justru “meninggalkannya”. Fenomena ini menjadi paradoks di mana jumlah pembaca dan penghafal Al-Qur’an sangat banyak, namun pengaruhnya terhadap moralitas masih minim.
Makna “meninggalkan Al-Qur’an” menurut beliau bukan berarti tidak bisa membaca teksnya sama sekali. Beliau menegaskan bahwa banyak orang yang lancar membaca sejak kecil, namun berhenti hanya pada aspek lisan. Mereka meninggalkan Al-Qur’an dalam arti tidak lagi mau mentadaburi isinya dan tidak memiliki keinginan untuk mencari tahu pesan apa yang ingin disampaikan oleh Sang Pencipta melalui ayat-ayat tersebut.
Lebih jauh lagi, Ustadz Husni Mubarak menekankan bahwa bentuk pengabaian yang paling fatal adalah ketika seseorang mengetahui makna ayat-ayat Al-Qur’an namun tidak mau mengamalkannya. Beliau mencontohkan berbagai pelanggaran moral yang tetap terjadi di masyarakat meskipun pelakunya mengetahui larangan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an belum benar-benar meresap ke dalam hati dan hanya menjadi pengetahuan teoritis semata.
Beliau menyarankan agar setiap muslim setidaknya memanfaatkan fasilitas Al-Qur’an terjemahan jika tidak menguasai bahasa Arab. Memahami arti sangatlah penting untuk mendapatkan petunjuk dan “obat” bagi jiwa. Mengutip perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, beliau menyebutkan bahwa sedikit sekali kebaikan yang bisa didapatkan dari seseorang yang membaca Al-Qur’an tanpa adanya upaya untuk mentadaburi maknanya.
Sebagai teladan, Ustadz Husni Mubarak menceritakan bagaimana para sahabat Nabi memandang Al-Qur’an sebagai sebuah “surat cinta” dari Allah SWT. Layaknya seseorang yang menerima surat dari kekasihnya, para sahabat akan membacanya berulang kali dengan penuh penghayatan di malam hari. Rasa cinta inilah yang kemudian mendorong mereka untuk mengamalkan seluruh pesan dalam surat tersebut di siang hari tanpa rasa berat.
Beliau juga menceritakan kisah inspiratif dari tabiin Al-Ahnaf bin Qais yang melakukan evaluasi diri melalui Al-Qur’an. Dengan jujur, Al-Ahnaf merasa belum mampu menyamai profil orang-orang saleh yang disebut dalam Al-Qur’an, namun ia terus mencari di mana posisinya. Hingga akhirnya ia menemukan harapan pada ayat yang menyebutkan tentang hamba-hamba Allah yang mengakui dosa-dosanya dan memohon ampunan.

Ustadz Husni Mubarak mengakhiri kajian dengan sebuah pesan mendalam agar umat Islam tidak tergesa-gesa dalam membaca Al-Qur’an hanya demi mengejar target khatam. Membaca dengan perlahan sambil menghayati maknanya jauh lebih efektif dalam memberikan dampak positif pada jiwa. Harapannya, dengan kembalinya tradisi tadabur, umat Islam dapat kembali menjadi generasi yang unggul dan berkarakter Qur’ani.
Sumber: Kajian Tafsir Jalalayn yang disampaikan oleh Ust. H. M. Husni Mubarak Al Hafidz di Masjid Nasional Al Akbar pada Selasa 8 April 2026