Kabarmasjid.id, Surabaya – Ramadhan telah berlalu, namun gema spiritualitasnya seharusnya tidak ikut memudar seiring bergantinya kalender. Banyak dari kita yang merasakan kerinduan mendalam akan suasana ibadah yang begitu kental, namun tantangan sesungguhnya justru muncul tepat saat fajar bulan Syawal menyingsing. Pertanyaannya, apakah nilai-nilai ketakwaan yang kita pupuk selama sebulan penuh benar-benar membekas atau hanya sekadar rutinitas musiman yang akan hilang ditelan kesibukan duniawi?
Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Anjani Robbi, S.Sos. dalam sesi Kajian Ba’da Maghrib yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada Jumat, 3 April 2026. Dalam ceramahnya yang bertajuk “Amalan Apa yang Tersisa dari Bulan Ramadhan?”, beliau menekankan bahwa keberhasilan ibadah seseorang selama bulan suci justru diuji pada bulan-bulan setelahnya, khususnya bagaimana seseorang mampu menjaga konsistensi amal saleh di luar zona nyaman Ramadhan.
Ustadz Anjani memberikan analogi yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yakni membandingkan Ramadan dengan sebuah “bengkel” kendaraan. Jika seseorang membawa kendaraannya yang bermasalah ke bengkel, maka saat keluar, kendaraan tersebut seharusnya berada dalam kondisi prima, mesinnya halus, dan fungsinya kembali normal. Begitu pula dengan manusia; jika setelah keluar dari “bengkel” Ramadan akhlak dan ibadahnya tidak menjadi lebih baik, maka patut dipertanyakan proses yang dilalui selama di dalam bengkel tersebut.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Ramadhan adalah konsep kehidupan ideal bagi seorang Muslim sejati. Di bulan tersebut, ketaatan kolektif begitu terasa, di mana masjid-masjid penuh dan semua orang berlomba dalam kebaikan. Namun, esensi dari latihan fisik dan taktik spiritual selama Ramadhan adalah untuk memenangkan “pertandingan” sesungguhnya, yaitu kehidupan di sebelas bulan berikutnya. Kemenangan sejati adalah saat kita mampu membawa disiplin Ramadan ke dalam keseharian yang penuh godaan.
Dalam kajian tersebut, dipaparkan adanya tiga golongan manusia pasca-Ramadan. Golongan pertama adalah mereka yang bertransformasi menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Mereka menjadi lebih takut berbuat dosa, lebih rajin berjamaah di masjid, dan tutur katanya menjadi lebih terjaga. Golongan ini diibaratkan seperti ulat yang masuk ke dalam kepompong (Ramadan) dan keluar menjadi kupu-kupu yang indah, membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Golongan kedua disebut sebagai kaum Ramadaniyin atau ahli ibadah musiman. Mereka sangat taat saat bulan Ramadhan, namun segera kembali ke “setelan awal” atau kebiasaan buruk lama begitu Idul Fitri usai. Ustadz Anjani mengingatkan agar kita tidak menjadi hamba yang hanya menyembah Allah di bulan Ramadan saja. Jika Ramadan telah pergi, Allah tetap ada dan tidak pernah mati, sehingga ketaatan kepada-Nya pun tidak boleh dibatasi oleh sekat waktu atau bulan tertentu.
Adapun golongan ketiga adalah mereka yang merugi, yakni orang yang sebelum, saat, dan sesudah Ramadhan tetap berada dalam kubangan maksiat dan kelalaian. Meskipun Allah telah membuka pintu surga selebar-lebarnya dan membelenggu setan selama Ramadhan, mereka tidak memanfaatkan momentum tersebut untuk bertaubat. Ustadz mengingatkan bahwa Allah Maha Rahman dan Rahim yang masih memberikan kesempatan hidup, namun setiap hamba harus sadar bahwa ajal bisa datang kapan saja tanpa menunggu kita menjadi baik.
Agar amal saleh tidak hilang tanpa bekas, Ustadz Anjani memberikan tips praktis untuk menjaga “sisa-sisa” Ramadhan. Salah satunya adalah dengan mempertahankan ibadah puasa melalui puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Beliau mengutip hadis bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya setara dengan berpuasa setahun penuh. Ini adalah cara pertama untuk menjaga agar lidah dan nafsu kita tetap terkendali pasca-Ramadhan.
Selain puasa, aspek Qiyamullail atau salat malam juga harus dipertahankan. Jika selama Ramadhan kita terbiasa dengan salat Tarawih, maka di bulan Syawal dan seterusnya, kebiasaan tersebut harus bertransformasi menjadi Tahajud atau minimal tidak meninggalkan salat Witir sebelum tidur. Ustadz menekankan bahwa meskipun jumlah rakaatnya tidak sebanyak saat Ramadan, konsistensi atau istiqamah meski sedikit jauh lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah banyak yang dilakukan hanya sekali setahun.
Interaksi dengan Al-Qur’an juga menjadi indikator penting. Beliau menyarankan agar jangan sampai membaca Al-Qur’an berhenti total setelah khatam di akhir Ramadhan. Tetaplah membaca meskipun hanya satu halaman atau beberapa ayat setiap harinya. Menjaga hubungan harian dengan kalamullah akan menjadi benteng bagi hati agar tidak kembali mengeras dan lalai terhadap perintah-perintah Tuhan di tengah hiruk-pikuk urusan duniawi yang seringkali melalaikan.
Sisi sosial juga tidak luput dari bahasan, di mana kedermawanan yang meledak-ledak di bulan Ramadhan melalui zakat dan sedekah harus tetap mengalir. Semangat berbagi kepada sesama harus tetap dijaga meski dalam nominal yang lebih kecil. Perubahan akhlak menjadi pribadi yang lebih pemaaf, lebih merangkul, dan tidak lagi suka mengejek atau mendengki adalah “buah” nyata dari puasa yang berhasil mencapai derajat takwa yang sesungguhnya.

Sebagai penutup, Ustadz Anjani mengajak jemaah untuk merenungkan makna asli dari kata “Syawal” yang berarti peningkatan (Al-Irtifa’). Idul Fitri bukanlah tentang pakaian baru, melainkan tentang ketaatan yang baru dan terus meningkat. Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah untuk terus istikamah menjaga nilai-nilai luhur Ramadhan sehingga saat ajal menjemput, kita berada dalam kondisi terbaik sebagai hamba yang benar-benar bertakwa.
Sumber: Kajian ba’da Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Anjani Robbi, S.Sos. dengan pembahasan “Amalan Apa yang Tersisa dari Bulan Ramadhan?”,