Menjadi yang Terbaik: Mengapa Muslim Harus Profesional dalam Setiap Karya?

Ustadz Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Sahab, M.Sc.
Ustadz Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Sahab, M.Sc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id Surabaya – Di tengah dinamika dunia kerja yang kian kompetitif, etika dan profesionalisme sering kali hanya dipandang sebagai standar operasional prosedur semata. Namun, bagi seorang Muslim, bekerja bukan sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan manifestasi dari keimanan dan bentuk ibadah yang agung. Nilai-nilai inilah yang menjadi inti sari pesan mendalam dalam sebuah kesempatan rohani di Surabaya.

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Falah Surabaya pada hari Jumat, 3 April 2026, saat Ustadz Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Sahab, M.Sc. berdiri di atas mimbar sebagai khatib. Beliau menyampaikan khutbah yang menggugah nurani dengan tajuk “Etika Kerja dan Profesionalisme dalam Islam”. Dalam durasi sekitar 15 menit, beliau membedah bagaimana seharusnya seorang mukmin memandang eksistensi dirinya melalui karya dan tanggung jawab profesi.

Mengawali khutbahnya, Prof. Abdullah Sahab menekankan bahwa manusia pada hakikatnya adalah homo faber, yaitu makhluk yang bekerja. Ia menjelaskan bahwa tanda kehidupan yang paling nyata adalah gerakan atau movement. Jika seseorang berhenti bergerak dan berhenti berkarya, maka secara filosofis ia telah kehilangan tanda-tanda kehidupannya, sebagaimana pepatah lama yang menyebutkan bahwa sesuatu yang tidak bergerak hanyalah benda mati yang menakutkan.

Ustadz kemudian mengutip mutiara hikmah dari Imam Syafi’i untuk memperkuat argumen pentingnya produktivitas. Beliau mengibaratkan manusia seperti air; air yang diam cenderung menjadi keruh dan rusak, sedangkan air yang mengalir akan tetap jernih dan bermanfaat. Begitu pula manusia, kenikmatan hidup yang sejati hanya akan ditemukan dalam proses mengalir, bertualang, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesama.

Spirit bekerja dalam Islam juga terlihat jelas dalam perintah Al-Qur’an terkait ibadah Jumat. Beliau mengingatkan bahwa setelah seruan salat ditunaikan, Allah memerintahkan umat-Nya untuk segera bertebaran di muka bumi. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai keseimbangan antara kesalehan ritual di dalam masjid dan kesalehan sosial melalui kerja keras di luar masjid untuk mencari karunia-Nya.

Satu pelajaran menarik yang diangkat dalam khutbah tersebut adalah kisah Maryam AS. Meskipun Maryam adalah wanita suci yang rezekinya telah dijamin oleh Allah, beliau tetap diperintahkan untuk menggerakkan pangkal pohon kurma saat akan melahirkan. Pesan implisitnya sangat kuat: meskipun takdir dan rezeki ada di tangan Tuhan, manusia tetap diwajibkan untuk melakukan ikhtiar atau usaha nyata sekecil apa pun.

Masuk ke inti profesionalisme, Prof. Abdullah Sahab memberikan ilustrasi sederhana namun menohok tentang seorang tukang tambal ban. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya saat seorang tukang tambal ban menolak dibayar dua kali karena merasa pekerjaan pertamanya belum sempurna. Baginya, inilah potret nyata profesionalisme sejati—saat seseorang merasa bertanggung jawab penuh atas kualitas pekerjaannya tanpa harus diawasi oleh atasan.

Beliau menegaskan bahwa profesionalisme bukan hanya milik para manajer atau pejabat tinggi, melainkan milik siapa saja yang mencintai dan bertanggung jawab atas tugasnya. Seorang profesional Muslim sejati tidak akan pernah bekerja hanya demi penilaian atau pujian manusia. Fokus utamanya adalah mendapatkan rida Allah, sehingga ia tetap konsisten memberikan yang terbaik meskipun tidak ada mata manusia yang memandang.

Lebih lanjut, Prof. Abdullah Sahab menekankan pentingnya mencapai level itqan atau melakukan pekerjaan dengan sempurna. Beliau mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang jika melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya secara tuntas dan berkualitas. Menjadi nomor dua tidaklah cukup bagi seorang Muslim; cita-cita untuk menjadi yang terbaik di bidangnya harus menjadi motivasi utama dalam bekerja.

Namun, Prof. Abdullah Sahab juga memberikan perspektif yang jujur bahwa profesionalisme tidak selalu berbanding lurus dengan rasa suka atau hobi. Beliau mengakui bahwa ada kalanya seseorang harus menjalankan kewajiban di saat ia merasa bosan atau tidak menyukai pekerjaan tersebut. Profesionalisme sejati justru diuji saat seseorang tetap mampu memberikan performa terbaik dan memenuhi tanggung jawabnya meski suasana hati sedang tidak mendukung.

Dalam pandangan beliau, hidup bukan sekadar mencari kesenangan pribadi, melainkan mencari nilai dan keutamaan. Melakukan pekerjaan yang berat dengan penuh ketaatan dan tanggung jawab justru mendatangkan pahala yang jauh lebih besar di sisi Allah. Profesionalisme adalah tentang menepati janji, menghargai waktu, dan memastikan setiap detik yang kita habiskan dalam bekerja dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Menutup khutbahnya, Prof. Abdullah Sahab mengajak seluruh jemaah untuk merefleksikan kembali niat dalam setiap aktivitas profesi. Beliau mendoakan agar setiap langkah kaki dalam mencari rezeki dicatat sebagai amal saleh dan setiap karya yang dihasilkan menjadi warisan yang bermakna. Dengan memadukan etika Islam dan standar profesionalisme tinggi, diharapkan umat Islam dapat menjadi pelopor kemajuan di berbagai lini kehidupan.

Sumber: Khutbah Jumat di Masjid Al Falah Surabaya 3 April 2026 yang disampaikan oleh Ustadz Prof. Dr. Ir. H. Abdullah Sahab, M.Sc. dengan tema “Etika Kerja & Profesionalisme dalam Islam”.

E-Buletin