Lebih dari Sekadar Idul Fitri, Inilah 5 Momen Kemenangan Sejati Seorang Mukmin

Ustadz Anshori Syukri
Ustadz Anshori Syukri

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo – Kehidupan seorang mukmin sejatinya adalah perjalanan panjang menuju perjumpaan yang agung dengan Sang Pencipta. Dalam hiruk-pikuk dunia, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya terletak pada perayaan tahunan yang meriah, melainkan pada setiap detik yang membawa kita lebih dekat kepada ridho-Nya. Sebuah nasihat mendalam mengenai makna “hari raya” bagi orang beriman menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk menata kembali prioritas hidup.

Pesan penuh makna ini disampaikan oleh Ustadz Anshori Syukri dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta, pada tanggal 27 Maret 2026. Beliau membuka khutbah dengan mengajak jemaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan mensyukuri limpahan taufik serta hidayah Allah SWT yang memungkinkan kita tetap istikamah dalam menjalankan kewajiban ibadah.

Mengutip mutiara hikmah dari sahabat Anas bin Malik RA, Ustadz. Anshori menjelaskan bahwa bagi seorang mukmin, terdapat lima hari raya di luar Idul Fitri dan Idul Adha. Hari-hari ini bukanlah tentang pakaian baru atau hidangan mewah, melainkan tentang pencapaian spiritual yang menentukan nasib seseorang di akhirat kelak. Hari raya pertama adalah setiap hari yang dilalui seorang mukmin tanpa tercatat satu dosa pun dalam buku amalnya.

Khatib menekankan bahwa satu hari tanpa dosa adalah kemenangan besar yang patut dirayakan. Hal ini bukan berarti manusia harus menjadi sosok yang sempurna tanpa luput, melainkan tentang bagaimana setiap kesalahan yang dilakukan segera diikuti dengan tobat yang sungguh-sungguh. Ketika seorang hamba melakukan dosa lalu segera beristigfar dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya, maka rahmat Allah akan menghapus catatan buruk tersebut.

Rahmat Allah SWT begitu luas, di mana dosa yang dilakukan siang hari ditunggu tobatnya hingga sore, dan dosa malam hari ditunggu hingga pagi sebelum dilaporkan. Inilah mengapa para auliyaillah atau kekasih Allah selalu merasa berada dalam hari raya, sebab mereka senantiasa menjaga hati dan perbuatan mereka (mahfuz) agar tetap dalam lindungan serta ampunan Allah setiap waktu.

Hari raya kedua yang tidak kalah sakralnya adalah hari di mana seorang mukmin mengembuskan napas terakhirnya dalam keadaan husnul khatimah. Saat seseorang meninggalkan dunia ini dengan membawa iman dan Islam serta selamat dari godaan setan di detik-detik terakhirnya, itulah hari kemenangan yang sesungguhnya. Kematian bagi mereka bukanlah akhir yang menyedihkan, melainkan gerbang menuju kebahagiaan abadi.

Ustadz Anshori menceritakan bagaimana para aulia memiliki keyakinan yang begitu kuat kepada Allah sehingga hari kematian mereka diperingati sebagai haul. Tradisi ini merupakan bentuk syukur atas keberhasilan mereka menjaga iman hingga akhir hayat. Bagi para kekasih Allah, hari wafat ibarat hari pengantin yang akan bertemu dengan dambaan hatinya, sebuah momen penuh sukacita yang dirayakan dengan zikir dan doa.

Selanjutnya, hari raya ketiga bagi orang beriman terjadi di hari kiamat, tepatnya saat mereka mampu melewati jembatan Shirat dengan selamat. Shirat adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka menuju surga, sebuah rintangan yang sangat menentukan. Ketika kaki seorang mukmin berhasil menapak di ujung jembatan tanpa terjatuh ke dalam api neraka, maka hari itu menjadi hari raya yang penuh rasa syukur.

Kemenangan berikutnya atau hari raya keempat adalah saat seorang mukmin secara resmi diizinkan oleh Allah SWT untuk menginjakkan kaki di dalam surga. Di sanalah tempat berkumpulnya kembali keluarga yang terpisah, pertemuan dengan guru-guru yang mulia, serta momen yang paling dirindukan oleh setiap jiwa, yaitu berkumpul bersama Baginda Nabi Muhammad SAW dalam keabadian.

Puncak dari segala kebahagiaan dan hari raya kelima bagi seorang mukmin adalah saat mereka diizinkan untuk memandang wajah Allah SWT secara langsung. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa pada hari itu wajah-wajah para penduduk surga akan berseri-seri karena dapat melihat Tuhan mereka. Inilah kenikmatan tertinggi yang melampaui segala fasilitas dan keindahan yang ada di dalam surga itu sendiri.

Di akhir khutbahnya, Ustadz Anshori Syukri mengingatkan bahwa kelima hari raya ini merupakan tahapan yang saling berurutan dan berkaitan. Kita tidak akan bisa memandang Allah tanpa masuk surga, tidak bisa masuk surga tanpa selamat melewati Shirat, dan tidak akan selamat di Shirat tanpa kematian yang husnul khatimah. Semuanya bermuara pada bagaimana kita menjaga hari-hari kita di dunia agar minim dari noda dosa.

Sebagai penutup, beliau mengajak jemaah untuk memperbanyak istigfar dan memohon taufik agar diberikan kemampuan mencapai tahapan-tahapan hari raya tersebut. Semoga kita, keluarga, dan keturunan kita senantiasa dikawal oleh pertolongan Allah SWT hingga mencapai akhir yang baik, mendapatkan rida-Nya, dan pada akhirnya diperkenankan memandang keagungan-Nya di surga kelak.

Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Assagaf Surakarta 27 Maret 2026 bersama Ustadz Anshori Syukri

E-Buletin