Istiqomah: Jalan Menuju Karamah dan Kunci Kemenangan Pasca Ramadhan

Prof. Dr. H. Mas'ud Said
Prof. Dr. H. Mas'ud Said

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjaga momentum kebaikan setelah berlalunya bulan suci merupakan tantangan nyata bagi setiap Muslim. Spirit ibadah yang membumbung tinggi selama Ramadhan seringkali mengalami penurunan ritme seiring berjalannya waktu, sehingga diperlukan pemahaman mendalam mengenai urgensi konsistensi dalam beramal. Tulisan ini merangkum esensi khutbah yang menekankan bahwa kunci kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada keajaiban sesaat, melainkan pada keteguhan hati dalam menjalankan kebaikan secara terus-menerus.

Khutbah Jumat ini disampaikan oleh Prof. Dr. H. Mas’ud Said pada tanggal 27 Maret 2026, bertepatan dengan 7 Syawal 1447 Hijriah. Bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, khatib mengusung tema “Istiqomah dalam Kebaikan dengan Tulus dan Ikhlas Memunculkan Karamah,” di hadapan ribuan jemaah yang memadati shof-shof masjid kebanggaan warga Jawa Timur tersebut.

Khatib mengawali pesannya dengan mengutip hadis riwayat Muslim tentang pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah SAW mengenai intisari Islam yang paling vital. Jawaban tegas Rasulullah, “Qul amantu billah tsummastaqim” (Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah), menjadi fondasi utama bahwa iman harus dibarengi dengan keteguhan yang tak tergoyahkan oleh situasi apa pun.

Dalam penjelasannya, Prof. Mas’ud menekankan bahwa mengucapkan syahadat atau melaksanakan salat berjamaah mungkin terasa mudah dilakukan sesekali. Namun, melaksanakannya secara konsisten memerlukan disiplin tinggi, ketahanan mental, serta keyakinan penuh akan manfaat dari ibadah tersebut. Istiqomah adalah bentuk komitmen kepada diri sendiri yang dijalankan dengan kesadaran penuh dan “tatak” dalam menghadapi badai kehidupan.

Salah satu poin menarik dalam khutbah ini adalah kutipan para ulama yang menyatakan bahwa istiqomah lebih hebat daripada seribu karamah (Istiqomah khairum min alfi karomah). Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi dalam melakukan kebaikan, sekecil apa pun itu, jauh lebih mulia di mata Allah dibandingkan dengan kemampuan luar biasa atau kesaktian yang seringkali dianggap sebagai ukuran kesalehan.

Khatib juga menarik relevansi konsep istiqomah ke dalam dunia modern, seperti bisnis, perbankan, dan pemerintahan. Dalam dunia profesional, istiqomah diterjemahkan sebagai tenacity (keuletan) atau resilience (daya tahan). Riset menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kemungkinan sukses lebih tinggi adalah mereka yang ulet dan konsisten dalam memegang prinsip serta tujuan mereka.

Kearifan lokal Jawa pun turut diangkat sebagai penguat pesan, melalui filosofi “Nandur ngunduh, telaten panen.” Ungkapan ini bermakna siapa pun yang telaten dan ulet dalam berusaha, dialah yang akan menuai hasil yang dicita-citakan. Begitu pula dengan prinsip “Sing prihatin bakal mimpin,” yang menegaskan bahwa pemimpin besar lahir dari proses perjuangan panjang yang penuh dengan keterbatasan dan keistiqomahan.

Sebagai teladan nyata, khatib menceritakan sosok Sultanul Auliya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau dikenal bukan hanya karena kedalaman ilmu fikih dan zikirnya, melainkan karena keistiqomahannya yang luar biasa dalam membantu kaum fakir dan miskin. Di Baghdad, tradisi memberi makan melalui dapur umum yang beliau rintis tetap terjaga selama ratusan tahun hingga hari ini.

Sufisme dan kesalehan yang paripurna, menurut khatib, akan memunculkan “karamah” atau kemuliaan apabila dilakukan secara konsisten. Keistimewaan yang diberikan Allah kepada para wali-Nya seringkali berakar dari amal saleh yang tidak pernah putus, yang kemudian dilanjutkan oleh anak cucu dan keturunan mereka sebagai sebuah warisan kebaikan yang abadi.

Khutbah ini juga menjadi pengingat bagi jemaah untuk menjaga ritme ibadah pasca Ramadhan. Jika selama sebulan penuh umat Islam telah dilatih untuk salat tepat waktu, bersedekah, dan menjaga lisan, maka tantangan berikutnya adalah memastikan nilai-nilai tersebut tetap hidup di bulan Syawal dan seterusnya. Ibadah tidak boleh dilakukan secara “angin-anginan” atau hanya saat merasa bersemangat saja.

Menutup khutbahnya, Prof. Mas’ud Said mengutip Surat Al-Ahqaf ayat 13 yang menegaskan bahwa mereka yang berkata “Tuhan kami adalah Allah” kemudian tetap istiqomah, tidak akan merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati. Janji ketenangan batin ini adalah upah tertinggi bagi siapa saja yang mampu menjaga integritas imannya di tengah hiruk-pikuk godaan dunia yang semakin kompleks.

Semoga dengan memahami hakikat istiqomah, umat Islam dapat terus tumbuh menjadi pribadi yang saleh secara ritual maupun sosial. Dengan menjaga konsistensi dalam kebaikan, kita berharap dapat meraih keberuntungan hidup di dunia dan akhirat, serta menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa berada dalam lindungan dan rida Allah SWT.

Sumber: Khotbah Jum’at di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada tanggal 27 Maret 2026 disampaikan oleh Prof. Dr. H. Mas’ud Said dengan tema utama “Istiqomah dalam Kebaikan”.

E-Buletin