Ramadhan sebagai Madrasah Ilahiyah: Menakar Kualitas Ketakwaan Kita di Hari Kemenangan

Ustadz Saleh bin Muhammad Aljufri
Ustadz Saleh bin Muhammad Aljufri

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo – Momen Idul  fFtri selalu menjadi titik balik spiritual bagi setiap Muslim setelah sebulan penuh menempuh ujian menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Di tengah gema takbir yang menggetarkan jiwa, esensi kemenangan yang sesungguhnya bukanlah terletak pada pakaian yang baru, melainkan pada pembaruan hati dan peningkatan kualitas ketakwaan kepada Sang Khalik.

Ibadah Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H ini dilaksanakan dengan penuh khidmat pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, bertempat di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta. Bertindak sebagai khatib dalam kesempatan mulia tersebut adalah Ustadz Saleh bin Muhammad Aljufri, yang menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai refleksi pasca-Ramadan bagi seluruh jemaah yang hadir.

Dalam khutbahnya, Ustadz Saleh menekankan bahwa Ramadan sejatinya adalah sebuah madrasah ilahiyah atau sekolah ketuhanan. Bulan suci ini merupakan tempat bagi setiap insan untuk melatih diri dan mendidik jiwa agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa, di mana keberhasilan pendidikan tersebut akan terlihat dari perilaku seseorang setelah Ramadan berlalu.

Beliau memaparkan bahwa tanda-tanda diterimanya amal ibadah seseorang selama bulan suci adalah adanya peningkatan iman dan keyakinan. Jika puasa, tarawih, iktikaf, dan tadarus dilakukan dengan khusyuk, maka batin dan akal manusia akan tersinari oleh cahaya hidayah yang terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Merujuk pada Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 17, khatib menjelaskan bahwa Allah akan menambah petunjuk bagi mereka yang mengikuti hidayah-Nya. Hasil dari petunjuk tersebut adalah lahirnya karakter muraqabah, yaitu sebuah perasaan di mana seorang hamba selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga ia takut untuk berbuat maksiat.

Lebih lanjut, Ustadz Saleh mengingatkan bahwa kebaikan akan melahirkan kebaikan lainnya, begitu pula sebaliknya. Puasa yang berkualitas akan menjadi pintu masuk bagi ibadah-ibadah lain di bulan Syawal hingga sebelas bulan berikutnya, menjadikan seseorang lebih terjaga dari segala hal yang diharamkan oleh agama.

Penjagaan diri ini mencakup seluruh anggota tubuh, mulai dari menjaga mata dari pandangan haram, lisan dari ucapan yang menyakitkan, hingga telinga dari pendengaran yang tidak bermanfaat. Seorang Muslim yang telah lulus dari “madrasah” Ramadan akan sangat berhati-hati dalam melangkahkan kaki dan menggerakkan tangannya.

Selain aspek lahiriah, kebersihan hati juga menjadi sorotan utama dalam khutbah tersebut. Beliau menekankan pentingnya menjauhkan diri dari penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, ria, dan permusuhan, karena sifat-sifat inilah yang seringkali menjadi hijab atau penghalang antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Ustadz Saleh juga memaparkan tiga barometer utama kemurnian Islam dalam diri seseorang, yang pertama adalah sifat kasih sayang (rahmatul lil ‘ibad). Sebagaimana Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, maka seorang Muslim sejati harus menjadi penebar manfaat dan kasih sayang bagi seluruh makhluk tanpa terkecuali.

Barometer kedua adalah sifat mengagungkan apa yang diagungkan oleh Allah dan Rasul-Nya (ta’dzim ma ‘adzdzamallah). Hal ini diwujudkan dengan menghormati Al-Qur’an, para ulama, tempat ibadah, serta sesama Muslim, sebagai cerminan dari hati yang bertakwa dan penuh penghormatan terhadap syiar agama.

Adapun barometer ketiga adalah kepemilikan akhlak yang mulia atau akhlakul karimah. Khatib menegaskan bahwa karakter seseorang harus mengalami peningkatan yang signifikan sesuai dengan makna kata “Syawal” yang berarti peningkatan, sehingga setiap Muslim bertransformasi menjadi pribadi yang lebih santun dan berbudi pekerti luhur.

Sebagai penutup, khutbah tersebut mengajak seluruh jemaah untuk keluar dari prosesi Idulfitri dengan mengenakan “jubah takwa”. Harapannya, kemenangan hari raya ini benar-benar menjadi awal baru bagi kehidupan yang lebih barokah, di mana ketaatan kepada Allah tetap terjaga secara konsisten di masa yang akan datang.

Sumber: Khutbah Idulfitri 1 Syawal 1447 H oleh Ustadz Saleh bin Muhammad Aljufri di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta

E-Buletin