Bukan Sekadar Pulang ke Fitrah, Ini Alasan Mengapa Kita Harus Jadi ‘Muslim Problem Solver’ Pasca-Ramadan

Prof. Dr. K.H. Muhammad Ali Aziz, M.Ag.,
Prof. Dr. K.H. Muhammad Ali Aziz, M.Ag.,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Gema takbir yang bersahutan sejak malam 1 Syawal akhirnya memuncak pada pelaksanaan ibadah salat Id yang khidmat. Di tengah ribuan jemaah yang memadati saf-saf hingga ke pelataran, sebuah pesan mendalam tersampaikan untuk menjadi bekal spiritual bagi umat usai berlalunya bulan suci. Khotbah kali ini memberikan sudut pandang baru mengenai peran seorang Muslim dalam tatanan sosial yang lebih luas.

Pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 H ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Sabtu, 21 Maret 2026, dengan menghadirkan Prof. Dr. K.H. Muhammad Ali Aziz, M.Ag., sebagai khatib. Di hadapan sekitar 50.000 jemaah, beliau menyampaikan khotbah yang menggugah jiwa dengan tema utama “Muslim Berdampak, Muslim Problem Solver”. Pesan ini menjadi pengingat penting tentang esensi sejati dari kemenangan yang telah diraih setelah sebulan penuh berpuasa.

Mengawali khotbahnya, Prof. Ali Aziz mengajak jemaah untuk merenungkan kembali perjuangan orang tua yang telah membimbing kita hingga mampu mengagungkan nama Allah. Beliau menekankan bahwa Idul Fitri adalah momentum untuk menjadi manusia baru yang bersih dari dosa, baik kepada Sang Pencipta maupun sesama manusia. Inilah saat yang tepat untuk benar-benar menuntaskan segala dendam dan rasa sakit hati yang mungkin masih tersisa di dalam dada.

Beliau kemudian mengutip pemikiran Jalaluddin Rumi yang menyatakan bahwa orang yang paling mengagumkan bukanlah mereka yang bisa terbang atau berjalan di atas air, melainkan mereka yang berjalan di bumi dengan hati yang bersih. Hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kesombongan maupun kedengkian terhadap orang lain. Dengan kondisi hati yang demikian, setiap langkah manusia akan menjadi berkah bagi lingkungan di sekitarnya.

Inti dari pesan khotbah kali ini adalah ajakan kuat untuk menjadi “Muslim Berdampak”. Prof. Ali Aziz menegaskan bahwa setiap Muslim harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, sesuai dengan hadis yang menyatakan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Kita didorong untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok, melainkan hadir demi kesejahteraan seluruh umat manusia secara inklusif.

Khatib juga mengingatkan bahwa setiap elemen masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memberikan dampak. Para ilmuwan diharapkan melahirkan inovasi yang mencerahkan dunia, sementara para hartawan didorong untuk menjadi dermawan yang mampu mengentaskan kemiskinan di sekitarnya. Begitu pula bagi para pemegang kebijakan, di mana keputusan yang menyejahterakan rakyat dianggap sebagai amal jariah yang nilai kebaikannya akan terus mengalir.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Prof. Ali Aziz memberikan apresiasi yang tinggi kepada berbagai lapisan masyarakat yang telah berbuat baik secara anonim selama Ramadan. Mulai dari pengurus masjid yang memakmurkan musala kecil, warga yang membagikan makanan di pinggir jalan, hingga keterlibatan saudara-saudara non-muslim yang turut berbagi. Dampak kecil yang dilakukan secara ikhlas ini merupakan wujud nyata dari kemanusiaan yang universal.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa seorang Muslim sejati harus menjadi problem solver atau pemberi solusi, bukan justru menjadi problem maker atau pembuat masalah. Seorang pemberi solusi selalu fokus pada bagaimana memperbaiki keadaan dan membantu orang lain keluar dari kesulitan. Sebaliknya, pembuat masalah hanya akan menjadi beban bagi lingkungan sosialnya, mulai dari tingkat keluarga, rukun tetangga, hingga tingkat nasional.

Salah satu cara sederhana untuk memberikan dampak positif yang ditekankan adalah melalui tutur kata yang terjaga. Beliau mengibaratkan ucapan yang baik sebagai “parfum termahal” yang keluar dari mulut manusia. Kata-kata yang menyejukkan dan penuh akhlak jauh lebih berharga daripada aroma buatan manusia mana pun, karena mampu memberikan kenyamanan dan keharuman bagi siapa saja yang mendengarnya.

Prof. Ali Aziz juga mengingatkan jemaah agar tidak menjadi manusia yang “ada dan tiadanya sama saja” atau dalam istilah Arab disebut wujuduhu kaadamihi. Beliau mendorong agar setiap orang meninggalkan jejak kebaikan sebelum ajal menjemput, sehingga keberadaan kita benar-benar dirasakan manfaatnya oleh dunia. Jangan sampai seseorang sudah dianggap “mati” secara sosial bahkan sebelum kematian fisiknya tiba karena tidak memberikan dampak apa pun.

Sebagai teladan utama, beliau mengisahkan bagaimana sosok Rasulullah SAW yang wajahnya saja sudah mampu menjadi solusi bagi kegundahan umatnya. Orang yang sedang susah atau sakit akan merasa lebih ringan bebannya hanya dengan menatap keteduhan wajah Nabi. Hal ini menjadi cerminan bahwa kehadiran seorang Muslim seharusnya membawa aura positif dan ketenangan bagi setiap orang yang berinteraksi dengannya.

Menutup khotbahnya, beliau mengajak seluruh jemaah untuk melakukan perenungan sebelum tidur mengenai apa yang telah dilakukan untuk orang lain. Keinginan untuk menjadi orang yang berdampak sosial adalah sebuah bentuk zikir dan perjuangan yang dicatat sebagai kemuliaan di sisi Allah. Dengan semangat “Muslim Berdampak”, Idul Fitri kali ini diharapkan menjadi titik balik bagi lahirnya pribadi-pribadi yang proaktif dalam membangun kemajuan bangsa dan agama.

Sumber: Khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Oleh Prof. Dr. K.H. Muhammad Ali Aziz, M.Ag., dengan tema utama “Muslim Berdampak, Muslim Problem Solver”

E-Buletin