Puasa dan Kesehatan: Menyeimbangkan Lima Dimensi Kehidupan di Bulan Suci

dr. KH. Agus Ali Fauzi
dr. KH. Agus Ali Fauzi

Bagikan postingan :

Kabarmasid.id, Surabaya –  Memasuki fase akhir bulan suci Ramadhan, semangat spiritual masyarakat biasanya semakin meningkat seiring dengan harapan meraih keberkahan Lailatul Qadar. Mengisi momen berharga ini dengan kegiatan yang bermanfaat bagi rohani dan jasmani menjadi pilihan bijak bagi umat Islam yang ingin menutup bulan suci dengan kualitas diri yang lebih baik. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah diskusi mendalam mengenai bagaimana ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah metode penyembuhan komprehensif bagi manusia.

Acara “Ngaji Ngabuburit” yang diselenggarakan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Senin, 16 Maret 2026 (26 Ramadhan 1447 H), menghadirkan narasumber spesial, dr. KH. Agus Ali Fauzi. Dalam kajian bertajuk “Puasa dan Kesehatan” atau “Healing Ramadhan” ini, beliau membedah secara mendalam bagaimana puasa menjadi sarana peningkatan kualitas hidup manusia dari berbagai sisi. Lokasi masjid yang megah ditambah dengan suasana sore yang sejuk memberikan latar yang sempurna bagi para jemaah untuk menyerap ilmu kesehatan yang berbasis pada nilai-nilai spiritual.

Pesan utama yang disampaikan dalam kajian ini adalah bahwa puasa merupakan perintah langsung dari Sang Pencipta yang berfungsi sebagai sarana “upgrade” diri. Dokter Agus menekankan bahwa kesehatan yang dihasilkan dari puasa tidak hanya terbatas pada dimensi fisik, melainkan mencakup lima dimensi penting: fisik, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Jika kelima dimensi ini seimbang, maka seorang Muslim akan tampil sebagai pribadi yang berkualitas dan berkelas di hadapan Allah maupun sesama manusia.

Dari sisi fisik, puasa Ramadhan disebut sebagai metode diet yang paling sempurna. Beliau menjelaskan bahwa indikator keberhasilan puasa secara medis adalah penurunan berat badan antara dua hingga lima kilogram bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih. Hal ini terjadi karena selama sebulan penuh, tubuh menjalani proses detoksifikasi, di mana organ-organ pencernaan diberikan waktu untuk beristirahat dan membersihkan diri dari tumpukan zat yang tidak diperlukan.

Namun, dr. Agus mengingatkan bahwa manfaat fisik ini bisa hilang jika pola makan saat berbuka tidak dijaga. Beliau menyarankan jemaah untuk menghindari konsumsi air es secara berlebihan karena dapat memicu penumpukan lemak di jaringan tubuh. Sebaliknya, mengonsumsi air hangat sangat dianjurkan karena mampu meningkatkan sistem imun, melunturkan lemak melalui keringat, serta membantu melancarkan sistem peristaltik usus untuk pembuangan yang lebih teratur.

Selain air hangat, kurma menjadi primadona dalam pembahasan kesehatan saat Ramadhan. Kurma mengandung karbohidrat yang memberikan energi instan namun tidak memberikan lonjakan gula darah yang drastis, sehingga aman dikonsumsi. Kandungan seratnya yang sangat tinggi juga berfungsi sebagai detoks alami bagi usus, mencegah berbagai gangguan lambung yang sering dikeluhkan oleh masyarakat selama menjalankan ibadah puasa.

Masuk ke dimensi psikologis, puasa berperan penting dalam mengendalikan “penyakit hati” dan pikiran negatif. Dokter Agus menjelaskan bahwa banyak keluhan fisik seperti pusing atau asam lambung meningkat sebenarnya bersumber dari masalah hati atau stres. Dengan memperbanyak zikir dan fokus pada ibadah, hati akan menjadi tenang, yang secara otomatis menurunkan hormon kortisol penyebab tekanan darah tinggi dan diabetes.

Beliau juga menyoroti fenomena “overthinking” yang sering melanda masyarakat modern, terutama kaum ibu. Pikiran yang terlalu terbebani oleh hal-hal yang belum tentu terjadi dapat menyebabkan kelelahan otak yang kronis. Melalui Ramadhan, umat diajarkan untuk melepaskan beban tersebut dengan berserah diri kepada Allah melalui salat malam dan membaca Al-Qur’an, yang terbukti secara medis mampu menstabilkan ritme jantung.

Dalam dimensi sosial, puasa melatih kecerdasan sosial (social intelligence) seseorang. Lulusan “madrasah Ramadhan” seharusnya menjadi pribadi yang lebih dermawan, tidak egois, dan mudah bekerja sama. Kegiatan seperti buka bersama, santunan anak yatim, dan pembagian takjil adalah latihan nyata untuk mengikis sifat kikir dan sombong, yang pada akhirnya menciptakan harmoni dalam hubungan antarmanusia di lingkungan sekitar.

Aspek kultural dan spiritual juga tidak luput dari pembahasan, di mana puasa membentuk pribadi yang lebih toleran dan pemaaf. Dokter Agus menekankan bahwa menyimpan dendam atau kebencian terhadap orang lain memiliki dampak buruk bagi kesehatan, seperti risiko pengeroposan tulang hingga kanker. Oleh karena itu, memaafkan orang lain adalah bagian dari proses penyembuhan diri sendiri agar tubuh tetap sehat dan bugar setelah Ramadhan berakhir.

Kajian ini juga memberikan tips khusus bagi masyarakat yang memasuki masa pensiun agar terhindar dari depresi dan rasa kesepian. Beliau menyarankan agar para lansia memperkuat “backing” spiritual dengan mendekatkan diri ke masjid dan menjaga komunikasi yang hangat dengan pasangan. Sikap syukur atas nikmat kesehatan yang masih diberikan hingga masa tua merupakan kunci utama untuk tetap bahagia dan produktif di sisa usia.

Sebagai penutup, dr. Agus mengajak seluruh jemaah untuk mempertahankan nilai-nilai Ramadhan selama sebelas bulan ke depan. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan modalitas untuk membentuk gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Dengan hati yang bersih, fisik yang terjaga, dan hubungan sosial yang baik, setiap individu diharapkan mampu menghadapi tantangan hidup dengan penuh optimisme dan kepercayaan diri di bawah bimbingan Sang Pencipta.

Sumber: “Ngaji Ngabuburit” di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada  16 Maret 2026 bersama dr. KH. Agus Ali Fauzi dengan tajuk “Puasa dan Kesehatan”

E-Buletin