Kabarmasjid.id, Surabaya – Memasuki fase akhir bulan suci Ramadhan, semangat umat Islam dalam beribadah biasanya diuji oleh berbagai kesibukan duniawi. Namun, di balik rasa lapar dan haus yang menyengat, tersimpan mutiara hikmah yang mampu mengubah kualitas hidup seseorang jika dijalankan dengan kesadaran penuh. Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah madrasah spiritual untuk membentuk pribadi yang bertakwa.
Kajian yang mendalam ini dilaksanakan di Masjid Raudlatul Musyawwarah (Kemayoran) Surabaya pada Minggu, 15 Maret 2026 bersama KH. Munawir. Dalam kajian yang berlangsung khidmat menjelang waktu berbuka, beliau menyampaikan pesan-pesan religius yang menekankan bahwa momentum Ramadhan tahun ini harus menjadi pijakan kuat untuk meningkatkan derajat ketakwaan di hadapan Allah SWT.
Dalam pembukaannya, KH. Munawir menjelaskan bahwa esensi takwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesungguhan. Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan paling terbuka lebar bagi setiap mukmin untuk memperbaiki diri. Ibadah puasa disebut sebagai ibadah yang sangat istimewa karena memiliki dampak positif yang multidimensional, mulai dari aspek sosial, spiritual, hingga kesehatan fisik.
Pada aspek sosial, puasa menggerakkan hati umat untuk lebih peduli terhadap sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Fenomena ini terlihat nyata dengan banyaknya orang yang mengeluarkan zakat mal dan zakat fitrah di bulan suci ini karena pahala kebaikan yang dilipatgandakan. Beliau juga merinci perbedaan antara fakir dan miskin agar penyaluran bantuan tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Secara spiritual, Ramadhan menjadi bulan di mana batin manusia diberi nutrisi melalui tadarus Al-Qur’an dan salat tarawih. Keutamaan beribadah di bulan ini sangat luar biasa, di mana satu rakaat salat bisa bernilai setara dengan seratus rakaat di bulan-bulan lainnya. Umat Islam pun diajak oleh KH. Munawir untuk minimal mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali secara mandiri sebagai bentuk kedekatan diri kepada Sang Pencipta.
Salah satu magnet utama di bulan ini adalah kehadiran malam Lailatul Qadar yang pahalanya lebih baik dari seribu bulan. Beliau menjelaskan bahwa keistimewaan ini diberikan khusus untuk umat Nabi Muhammad SAW yang secara rata-rata memiliki umur lebih pendek dibandingkan umat terdahulu. Dengan meraih malam ini, seorang mukmin seolah-olah telah beribadah selama lebih dari 83 tahun dalam satu malam saja.
Tak hanya soal pahala, puasa juga terbukti memberikan dampak signifikan bagi kesehatan tubuh menurut ilmu kedokteran. Selama kurang lebih 14 jam menahan makan, tubuh melakukan proses pembakaran lemak yang tertimbun dalam tubuh secara alami. Hal ini membuktikan kebenaran sabda Rasulullah SAW bahwa dengan berpuasa, maka fisik manusia akan menjadi lebih sehat dan bugar.
Namun, KH. Munawir memberikan peringatan keras mengenai fenomena orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus. Hal ini terjadi jika seseorang hanya memindahkan jadwal makan dari siang ke malam tanpa mengubah perilaku buruknya. Puasa yang hakiki seharusnya mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat.
Menjaga mata menjadi poin krusial yang ditekankan dalam kajian ini, terutama di era digital saat ini. Beliau mengajak jemaah untuk melakukan “puasa digital” dengan tidak mengakses konten-konten yang mengandung pornografi atau maksiat melalui ponsel. Jika mata tidak dijaga, maka pahala puasa yang telah susah payah dijalankan bisa gugur dan hilang tak berbekas.
Selain mata, lisan juga harus diproteksi dari perbuatan menggunjing, berdusta, atau mengadu domba. Begitu pula dengan tangan dan kaki yang harus dipastikan hanya bergerak untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah. Integritas dalam menjaga seluruh panca indra inilah yang akan menentukan apakah puasa seseorang diterima sebagai ibadah yang sempurna atau sekadar rutinitas biologis.
Kabar gembiranya, bagi mereka yang mampu menahan pandangan dari maksiat, Allah menjanjikan sebuah anugerah berupa kelezatan dalam beribadah. KH. Munawir menjelaskan bahwa ketika hati sudah merasakan nikmatnya ibadah, maka amalan seberat apa pun, seperti tarawih 20 rakaat, tidak akan terasa melelahkan. Rasa lelah tersebut akan tertutup oleh ketenangan batin dan semangat untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Sebagai penutup, beliau berpesan agar sisa hari di bulan Ramadan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebelum ia berlalu. KH. Munawir mengajak jemaah untuk tetap istiqamah dalam berjemaah di masjid dan tidak meninggalkan tarawih hanya demi urusan duniawi seperti berbelanja baju di mal. Semoga puasa yang dijalankan tahun ini benar-benar membawa perubahan positif dan diterima oleh Allah SWT.
Sumber: Kajian Menjelang Berbuka Masjid Raudlatul Musyawwarah (Kemayoran) Surabaya Bersama KH. Munawir dengan tajuk “Menjaga Mata, Menjaga Pahala”