Bukan Sekadar Balapan Khatam: Menemukan Kembali Hakikat Al-Qur’an di Malam Ramadhan

Ustadz Dr. Ir. Hasan Ikhwani, M.Sc.
Ustadz Dr. Ir. Hasan Ikhwani, M.Sc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Momen Ramadhan sering kali menjadi perlombaan bagi umat Islam untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, salah satunya melalui interaksi dengan kitab suci Al-Qur’an. Namun, di balik semangat mengkhatamkan bacaan, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana pesan-pesan langit tersebut meresap ke dalam sanubari dan mengubah perilaku kita? Kajian singkat yang inspiratif ini mencoba membedah urgensi mengembalikan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang nyata, bukan sekadar simbol religiositas.

Kajian Kultum Tarawih 1447 H pada malam ke-18 ini dilaksanakan di Masjid Al-Irsyad dengan menghadirkan Ustadz Dr. Ir. Hasan Ikhwani, M.Sc. Dalam ceramah yang berlangsung khidmat tersebut, beliau memberikan refleksi mendalam mengenai bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap terhadap Al-Qur’an, terutama di bulan yang penuh keberkahan ini.

Ustadz Hasan mengawali kajiannya dengan mengutip sebuah ayat dari Surah Al-Hadid ayat 16, yang beliau sebut sebagai “tamparan” keras bagi orang-orang yang mengaku beriman. Ayat tersebut mempertanyakan kapan hati orang beriman akan tunduk dan khusyuk untuk mengingat Allah serta kebenaran yang diturunkan melalui Al-Qur’an. Ini menjadi titik tolak bagi jamaah untuk mengevaluasi kualitas spiritual mereka selama menjalankan ibadah puasa.

Beliau menekankan bahwa khusyuk bukan hanya sekadar ketenangan saat salat, melainkan sebuah kesadaran mendalam bahwa kita akan bertemu dengan Sang Pencipta. Khusyuk adalah perasaan di mana setiap langkah kehidupan didasari oleh keyakinan bahwa kita akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan. Tanpa kesadaran ini, ibadah hanya akan menjadi rutinitas fisik tanpa makna.

Salah satu poin kritis yang disampaikan dalam kajian tersebut adalah fenomena “balapan” khatam Al-Qur’an yang sering terjadi selama bulan Ramadhan. Beliau mengamati bahwa banyak Muslim yang mengejar target juz demi juz dengan sangat cepat tanpa memahami apa yang mereka baca. Hal ini dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap fungsi utama Al-Qur’an itu sendiri.

Meskipun setiap huruf Al-Qur’an bernilai pahala yang berlipat ganda, Ustadz Hasan menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk ditumpuk pahalanya melalui bacaan. Fungsi esensialnya adalah sebagai Hudan atau petunjuk bagi manusia agar tidak bingung dalam menjalani hidup di dunia. Al-Qur’an seharusnya menjadi kompas yang mengarahkan setiap tindakan agar tetap berada di jalur yang benar.

Menurut beliau, tujuan utama puasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa, namun ketakwaan itu mustahil dicapai tanpa bimbingan Al-Qur’an. Seorang hamba tidak bisa dikatakan benar-benar beriman jika hawa nafsunya belum tunduk pada syariat yang dibawa oleh Rasulullah. Maka, interaksi dengan Al-Qur’an harus melampaui sekadar lisan dan menyentuh ranah kognitif serta aplikatif.

Beliau juga menyoroti realitas di mana Al-Qur’an saat ini sering kali hanya dijadikan komoditas formalitas, seperti mas kawin, bahan perlombaan tilawah, atau sekadar benda untuk sumpah jabatan. Ironisnya, di saat Al-Qur’an diagungkan secara seremonial, nilai-nilainya justru sering ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari dan pengambilan keputusan penting.

Sebagai solusi praktis, Ustadz Hasan menyarankan agar umat Islam mulai mengubah metode berinteraksi dengan Al-Qur’an. Beliau menganjurkan agar setiap Muslim menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an beserta maknanya secara rutin. Tidak perlu dalam jumlah yang banyak, asalkan dilakukan secara konsisten dan dengan hati yang ikhlas.

Program One Day One Juz memang bagus, namun bagi mereka yang merasa berat atau mulai jenuh, beliau menyarankan cukup membaca lima ayat sehari asalkan diikuti dengan membaca terjemahannya. Memahami makna meskipun hanya dari beberapa ayat jauh lebih efektif dalam mengubah karakter daripada membaca berlembar-lembar tanpa pemahaman sedikit pun.

Keajaiban Al-Qur’an, menurut beliau, sudah terbukti bahkan di mata para ilmuwan Barat yang awalnya skeptis atau ateis. Banyak di antara mereka yang memutuskan masuk Islam setelah membaca terjemahan Al-Qur’an karena menemukan kesesuaian antara ayat suci dengan fakta ilmiah modern, mulai dari teori penciptaan alam semesta hingga fenomena kelautan yang kompleks.

Beliau mengajak jamaah untuk memanfaatkan teknologi seperti ponsel pintar untuk menginstal aplikasi Al-Qur’an yang disertai terjemahan. Dengan kemudahan akses tersebut, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak mempelajari isi kandungan Al-Qur’an di sela-sela kesibukan bekerja maupun saat beristirahat.

Sebagai penutup, Ustadz Hasan berpesan agar momen Nuzulul Qur’an ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk kembali melakukan tadabur. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman yang dipahami dan diamalkan, sehingga kita bukan termasuk golongan yang hanya fasih membacanya namun jauh dari nilai-nilainya dalam kenyataan hidup.

Sumber: Kultum Tarawih Malam ke 18 Tahun 1447 H di Masjid Al-Irsyad yang disampaikan oleh Ustadz. Dr. Ir. Hasan Ikhwani, M.Sc

E-Buletin