Saat Anggota Tubuh Menjadi Saksi: Menyelami Makna Surah Al-Qiyamah

Ustadz Saleh Abdurrahman Aljufri
Ustadz Saleh Abdurrahman Aljufri

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo – Kehidupan dunia sering kali membuat manusia terlena dalam hiruk-pikuk pencapaian materi, hingga terkadang melupakan tujuan akhir dari keberadaannya. Dalam upaya memperdalam pemahaman spiritual mengenai hari akhir, sebuah kajian mendalam telah dilaksanakan. Kajian Tafsir Al-Qur’an ini disampaikan oleh Ustadz Saleh Abdurrahman Aljufri pada Senin, 9 Maret 2026, bertempat di Masjid Jami Assegaf, Surakarta, yang membahas secara khusus bagian akhir dari Surah Al-Qiyamah.

Ustadz Saleh Aljufri mengawali kajian dengan menjelaskan ayat ke-15 tentang kondisi manusia di hari kiamat. Pada saat itu, tidak ada lagi ruang untuk membela diri dengan berbagai alasan atas kesalahan yang dilakukan selama di dunia. Segala dalih yang disampaikan tidak akan diterima oleh Allah karena setiap individu membawa saksi yang tak terbantahkan, yaitu diri mereka sendiri.

Dalam penjelasannya, beliau menekankan bahwa anggota tubuh manusialah yang akan berbicara memberikan kesaksian. Kulit, tangan, dan kaki akan membeberkan apa yang telah mereka lakukan selama hidup. Hal ini menjadi pengingat keras bagi setiap muslim agar senantiasa menggunakan seluruh anggota tubuhnya untuk kebaikan, sehingga kelak mereka menjadi saksi yang menyelamatkan, bukan mencelakakan.

Menariknya, kajian ini juga menyinggung sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu. Pada awal-awal Al-Qur’an diturunkan, Nabi sering kali terburu-buru menggerakkan lisan untuk menghafal ayat yang sedang disampaikan Malaikat Jibril karena takut terlupa. Namun, Allah langsung menenangkan beliau dengan jaminan bahwa Allah yang akan menjaga hafalan dan penjelasan makna Al-Qur’an tersebut di dalam dada Nabi.

Ustadz Saleh juga memberikan catatan penting mengenai etika membaca Al-Qur’an. Berdasarkan ayat tersebut, standar minimal seseorang dikatakan “membaca” adalah dengan menggerakkan lisan, bukan sekadar membatin di dalam hati. Beliau menceritakan kisah seorang santri yang mengklaim khatam berkali-kali namun ternyata hanya melihat tanpa menggerakkan bibir, yang menurut beliau belum masuk kategori membaca yang sempurna.

Lebih lanjut, Ustadz Saleh membedah akar penyebab mengapa seseorang sulit menerima kebenaran agama. Beliau menjelaskan bahwa kecintaan yang berlebihan terhadap dunia atau hubbud dunya adalah pangkal dari segala dosa. Orang-orang yang hatinya telah terikat oleh kemewahan dunia cenderung akan melupakan akhirat dan meninggalkan amalan-amalan yang menjadi bekal di masa depan.

Kajian kemudian berlanjut pada gambaran wajah manusia di hari pembalasan. Bagi mereka yang beriman, wajah mereka akan tampak berseri-seri dan penuh sukacita karena mendapatkan nikmat terbesar, yaitu melihat keagungan Allah SWT. Sebaliknya, wajah-wajah orang yang ingkar akan tampak muram dan cemberut karena mereka telah yakin bahwa azab yang pedih akan segera menimpa mereka.

Momen sakratul maut juga digambarkan dengan sangat menyentuh dalam kajian ini. Ketika roh telah sampai di kerongkongan, tidak ada lagi tabib atau pengobatan apa pun yang mampu menahan kepergian nyawa. Pada titik ini, manusia menyadari sepenuhnya bahwa perpisahan dengan dunia adalah sebuah kenyataan yang mutlak terjadi.

Ustadz Saleh menjelaskan fenomena fisik saat kematian, di mana kaki manusia saling bertautan atau melingkar karena rasa sakit yang luar biasa. Meski setiap manusia akan merasakan sakitnya kematian, beliau menekankan bahwa derajat rasa sakit tersebut berbeda antara orang yang beriman dan mereka yang kufur, seraya mendoakan agar jamaah mendapatkan akhir yang husnul khatimah.

Salah satu poin penting dalam tulisan ini adalah argumen logis mengenai hari kebangkitan. Banyak orang yang ragu bagaimana tulang belulang yang sudah hancur bisa dihidupkan kembali. Ustaz Saleh menjawab keraguan tersebut dengan mengajak jamaah merenungi asal-usul manusia yang diciptakan dari setetes air mani yang dianggap hina.

Logika yang dibangun adalah jika Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan menjadi ada (dari air mani menjadi segumpal darah hingga manusia utuh), maka menghidupkan kembali makhluk yang sudah pernah ada tentu jauh lebih mudah bagi-Nya. Beliau menggunakan perumpamaan pengusaha kain yang lebih mudah membuat pakaian dengan pola yang sudah ada daripada harus mencari pola baru dari awal.

Menjelang akhir kajian, Ustadz Saleh berbagi faedah mengenai sunnah-sunnah kecil saat membaca Al-Qur’an. Misalnya, saat mendengar atau membaca ayat terakhir Surah Al-Qiyamah yang menanyakan kemampuan Allah menghidupkan orang mati, Nabi SAW mengajarkan untuk menjawab dengan kalimat “Subhanakallahumma bala” sebagai bentuk pengakuan atas kekuasaan Allah.

Kajian ditutup dengan doa bersama dan harapan agar ilmu yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi para jamaah dalam menghadapi bulan Ramadan. Dengan memahami hakikat kematian dan kebangkitan, diharapkan setiap individu dapat lebih mempersiapkan diri melalui amal saleh dan menjaga hati agar tetap bersih saat kembali menghadap Sang Pencipta.

Sumber: Kajian Tafsir Al-Qur’an yang disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman Saleh Aljufri di Masjid Jami Assegaf, Surakarta. Membahas Surah Al-Qiyamah, mulai dari ayat 15 hingga akhir surat

E-Buletin