Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadhan, banyak umat Islam yang terjebak dalam rutinitas ibadah tanpa benar-benar memahami kedalaman maknanya. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah momentum besar untuk melakukan transformasi spiritual secara menyeluruh. Melalui perspektif tasawuf yang mendalam, kita diajak untuk melihat kembali di mana posisi kita saat ini di hadapan Sang Pencipta agar ibadah yang dijalankan tidak berakhir sebagai formalitas belaka.
Kajian spiritual yang mencerahkan ini disampaikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. KH. Nasaruddin Umar, dalam tausiah subuh Ramadhan pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Nasional Al Akbar, Surabaya, yang dihadiri oleh lebih dari seribu jemaah yang memadati saf-saf masjid. Dalam kesempatan tersebut, beliau menekankan pentingnya setiap individu untuk terus melakukan evaluasi terhadap kualitas martabat spiritualnya agar terus meningkat dari waktu ke waktu.
Mengawali ceramahnya, Prof. KH. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan Allah dengan martabat atau tingkatan masing-masing. Beliau mengutip konsep tabaqan ‘an tabaq, yang berarti proses naik atau “upgrade” tahap demi tahap dalam kehidupan spiritual manusia. Bulan Ramadhan dipandang sebagai waktu yang paling tepat bagi orang beriman untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah martabat kita saat ini sedang menanjak naik atau justru mengalami penurunan.
Beliau juga menyoroti bahwa iman bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan dinamis dan memerlukan pembaruan terus-menerus. Hal ini merujuk pada ayat Al-Qur’an yang menyeru orang-orang beriman untuk kembali beriman, yang artinya adalah perintah untuk terus meningkatkan kualitas keyakinan. Tidak hanya iman, kualitas kesabaran pun memiliki tingkatan, mulai dari sabar yang bersifat reaktif hingga tingkatan tertinggi seperti sifat As-Sabur milik Allah, yang membalas keburukan dengan kebaikan yang tulus.
Dalam paparannya, Prof. KH. Nasaruddin Umar membagi kualitas ibadah umat manusia ke dalam tiga klasifikasi utama, yang pertama adalah Ahlut Tha’ah. Kelompok ini adalah mereka yang melaksanakan ibadah semata-mata karena kewajiban atau merasa terbebani oleh aturan formal agama. Mereka beribadah dengan mentalitas “kita harus” (we have to), sehingga seringkali ibadah dilakukan secara minimalis dan tergesa-gesa tanpa penghayatan batin yang mendalam.
Naik satu tingkat di atasnya adalah kelompok Ahlul Ibadah, yaitu mereka yang menjalankan ketaatan karena didasari rasa cinta (I love to). Bagi kelompok ini, ibadah bukan lagi beban melainkan kebutuhan yang dinikmati, sehingga mereka tidak lagi merasa berat untuk bangun di tengah malam atau menjalankan puasa di tengah kesibukan. Perbedaan mencolok antara keduanya terlihat dari cara mereka memandang waktu ibadah; jika Ahlut Tha’ah cenderung menunda, maka Ahlul Ibadah sangat menghargai setiap detik perjumpaan dengan Tuhannya.
Tingkatan tertinggi dan yang paling istimewa adalah Ahlullah, atau orang-orang Allah. Kelompok ini telah melampaui batas-batas formalitas dan rasa cinta biasa, hingga mencapai tahap di mana mereka merasa selalu berada dalam genggaman dan pengawasan Allah setiap saat. Bagi Ahlullah, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini hanyalah penampakan atau tajali dari wajah Allah, sehingga tidak ada lagi ruang dalam hati mereka untuk memuja makhluk atau materi.
Perbedaan kualitas ini juga dicontohkan secara konkret melalui ibadah wudu yang sering dianggap sepele. Bagi orang awam atau Ahlut Tha’ah, wudu hanyalah syarat sah salat yang bersifat fisik, namun bagi Ahlul Ibadah, setiap basuhan air adalah permohonan ampun atas dosa-dosa anggota tubuh. Mereka menghayati bahwa membasuh muka berarti membersihkan mata dari pandangan maksiat dan mulut dari ucapan yang menyakitkan, sehingga wudu menjadi shock therapy untuk mencapai kekhusyukan.
Prof. KH. Nasaruddin Umar juga menyentuh aspek sosial dan literasi ekonomi umat Islam yang menurut beliau masih perlu ditingkatkan. Beliau mengkritik kecenderungan umat yang hanya merasa cukup dengan menunaikan zakat minimal 2,5 persen sebagai penggugur kewajiban. Menurut beliau, semangat berbagi seharusnya tidak dibatasi oleh angka formal zakat saja, melainkan harus diperluas melalui infak, sedekah, dan wakaf yang lebih besar demi kemandirian dan kejayaan umat.
Beliau membandingkan tingkat kedermawanan umat Islam dengan komunitas agama lain yang terkadang memberikan persentase jauh lebih besar dari penghasilannya untuk kepentingan sosial. Hal ini menjadi teguran bagi umat agar tidak menjadi pribadi yang pelit dalam beragama, terutama di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini. Kekayaan yang dimiliki sejatinya adalah titipan yang seharusnya digunakan untuk membangun peradaban dan menolong sesama, bukan untuk ditumpuk tanpa makna.
Lebih jauh, beliau mengajak jemaah untuk memperbaiki pandangan hidup atau worldview terhadap kematian. Beliau menjelaskan bahwa ketakutan terhadap kematian seringkali menjadi indikasi bahwa iman seseorang masih berada di level awam karena masih terlalu terikat pada jabatan, pamor, dan materi duniawi. Bagi mereka yang sudah mencapai maqam tinggi, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan pintu gerbang menuju perjumpaan maksimum dengan Sang Khalik.
Dalam hal berdoa, Prof. KH. Nasaruddin Umar memberikan perspektif yang sangat dalam mengenai hakikat doa bagi kelompok khawas. Beliau menekankan bahwa puncak dari doa bukanlah pada pengabulan permintaan materi, melainkan pada proses komunikasi dan kedekatan dengan Allah. Doa adalah “otak” dari ibadah, di mana seorang hamba seharusnya lebih menikmati waktu bersimpuh di hadapan Tuhan daripada ambisi untuk mendapatkan apa yang dimintanya secara instan.
Beliau mengingatkan agar umat jangan hanya sibuk mencari fenomena seperti Lailatul Qadar yang merupakan makhluk, tetapi lupa mencari Pencipta Lailatul Qadar itu sendiri. Mencari keberkahan malam ganjil adalah hal baik, namun akan menjadi lebih sempurna jika fokus utamanya adalah mendapatkan rida Allah secara totalitas. Dengan cara ini, seorang mukmin tidak akan merasa kecewa jika keinginannya belum terwujud, karena ia tahu bahwa dirinya sudah berada dalam penjagaan Tuhan.

Sebagai penutup, tausiah ini menjadi pengingat kuat bahwa perjalanan spiritual manusia masih sangat panjang dan penuh dengan tingkatan-tingkatan yang harus didaki. Prof. KH. Nasaruddin Umar berharap agar Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi sarana “upgrade” bagi seluruh umat untuk masuk ke jenjang spiritual yang lebih tinggi. Dengan mengedepankan keikhlasan dan ketulusan, diharapkan setiap ibadah yang kita lakukan dapat membawa kita menuju akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah.
Sumber: Ceramah Subuh Ramadan yang disampaikan oleh Menteri Agama RI, Prof. KH. Nasaruddin Umar, di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada 7 Maret 2026.