Kabarmasjid.id, Surabaya – Ibadah sering kali dipahami hanya sebagai rutinitas menggugurkan kewajiban atau sekadar upaya menumpuk pahala. Namun, di balik gerakan salat dan rasa lapar saat berpuasa, terdapat esensi mendalam tentang perjalanan pulang seorang hamba kepada Penciptanya. Memahami hakikat ibadah akan mengubah cara kita memandang setiap aktivitas kehidupan, menjadikannya lebih bermakna dan bernilai spiritual.
Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan KH. Abdullah Hasan dalam ceramah bertajuk “Hakikat Ibadah bagi Manusia” yang berlangsung di Masjid Raudhatul Musawarah (Kemayoran), Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan momen sepuluh hari kedua bulan Ramadan, pada Minggu, 1 Maret 2026, yang menjadi ruang iktikaf bagi jamaah untuk merefleksikan kembali orientasi hidup mereka di hadapan Allah SWT.
Dalam paparannya, KH. Abdullah Hasan menekankan bahwa ibadah pada hakikatnya adalah proses kembali kepada Allah. Mengutip pemikiran Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam, ditegaskan bahwa kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukan sekadar ucapan duka, melainkan kesadaran eksistensial bahwa asal dan tujuan akhir manusia hanyalah kepada Zat yang Maha Tunggal. Tidak ada tempat kembali yang sejati bagi manusia, baik ia kaya maupun rakyat biasa, kecuali kepada-Nya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa orientasi tertinggi dalam beribadah seharusnya adalah mencari ridha Allah, bukan sekadar mengejar surga atau menghindari neraka. Melalui ungkapan Ilahi anta maqsudi waridoka matlubi, seorang hamba diajak untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup dan mati. Jika ridha Allah telah diraih, maka segala karunia lainnya, termasuk surga, akan mengikuti sebagai konsekuensi dari kasih sayang-Nya yang tidak terbatas.
KH. Abdullah Hasan juga membagikan kisah inspiratif tentang seorang hamba yang tetap konsisten beribadah meski namanya sempat tercatat sebagai ahli neraka di Lauhul Mahfuz. Keyakinan hamba tersebut bahwa ibadah adalah bentuk cinta, bukan transaksi pahala, justru membuat para malaikat tertegun kagum. Ketulusan dalam mencintai Allah inilah yang pada akhirnya mampu mengubah ketetapan Ilahi, memindahkan namanya menjadi ahli surga karena keikhlasannya.
Kajian ini juga mengingatkan jamaah pada ikrar yang pernah diucapkan manusia di alam roh jauh sebelum dilahirkan ke dunia. Berdasarkan Surah Al-A’raf ayat 172, setiap jiwa telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka sejak zaman azali. Oleh karena itu, ibadah yang dilakukan manusia selama hidup di dunia sebenarnya adalah upaya untuk menjaga konsistensi janji suci tersebut agar tetap terhunjam kuat dalam sanubari hingga ajal menjemput.
Sebagai makhluk yang diciptakan dari tanah liat, manusia memiliki mandat besar sebagai khalifah atau pengelola bumi. Beliau mengingatkan bahwa peran khalifah tidak harus berarti menjadi pemimpin politik, melainkan tanggung jawab setiap individu untuk merawat lingkungan dan tidak berbuat kerusakan. Kesadaran sebagai hamba Allah harus tecermin dalam cara kita menjaga tatanan bumi agar tetap harmoni dan tidak menumpahkan darah sesama.
Dalam konteks pendidikan, ditekankan bahwa Al-Qur’an adalah manual atau buku petunjuk paling sempurna bagi manusia. Sama halnya seperti barang elektronik yang membutuhkan panduan agar tidak rusak, manusia membutuhkan Al-Qur’an agar fitrahnya tetap terjaga di tengah gempuran zaman. Pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak-anak adalah mengenalkan mereka kepada Allah melalui prinsip Iqra’ bismi rabbik, agar tauhid menjadi fondasi utama.
Beliau juga menyoroti pentingnya menjaga kesucian diri dari perbuatan yang mendekati zina sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada umat-Nya. Allah melarang hal tersebut bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan agar manusia tidak terjerumus dalam kerusakan moral yang menghancurkan martabat. Aturan dalam pergaulan hingga proses memilih pasangan hidup semuanya bertujuan untuk memastikan bahwa garis keturunan manusia tetap berada dalam lindungan ridha Ilahi.
Makna mendalam juga dikupas dari setiap gerakan dalam salat yang sering kali dilakukan hanya secara fisik tanpa kehadiran hati. Ketika seseorang mengucapkan Allahu Akbar, ia seharusnya melepaskan segala urusan duniawi, termasuk beban pikiran atau persoalan hidup lainnya. Jika saat salat hati masih terpaku pada masalah dunia, maka secara tidak sadar manusia tersebut belum sepenuhnya mengakui bahwa Allah adalah yang Maha Besar di atas segalanya.
Gerakan ruku’ dan sujud dalam salat merupakan simbol penghancuran kesombongan manusia yang sering kali merasa paling hebat. Sujud, di mana kepala diletakkan sejajar dengan tanah, adalah pengingat bahwa manusia berasal dari tanah yang rendah dan tidak memiliki nilai tanpa ruh dari Allah. Kesadaran akan kehinaan diri di hadapan Sang Pencipta inilah yang seharusnya melahirkan sifat tawadhu dan empati dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai penutup, KH. Abdullah Hasan mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat kesehatan dan hidayah untuk bisa bersujud di rumah Allah. Tidak semua orang diberikan kesempatan untuk bisa mengalokasikan waktunya demi mencari ilmu dan beriktikaf di bulan yang suci ini. Semoga dengan memahami hakikat ibadah, setiap langkah kaki dan hembusan napas kita senantiasa bernilai ibadah yang membawa kita semakin dekat pada ridha Allah SWT.
Sumber: Kajian Menjelang Berbuka di Masjid Raudhatul Musawarah (Kemayoran) Surabaya Bersama KH. Abdullah Hasan dengan tema “Hakikat Ibadah bagi Manusia”