Mengenal Sosok Ulama Pewaris Nabi: Tegas Terhadap Syirik, Lembut dalam Membimbing Umat

Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan
Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah arus modernisasi yang membawa berbagai tantangan pemikiran, pemahaman tentang tauhid tetap menjadi fondasi utama bagi setiap Muslim. Menjaga kemurnian akidah bukan sekadar persoalan ritual, melainkan bagaimana seorang hamba menempatkan Allah sebagai satu-satunya pusat pengabdian dalam segala aspek kehidupan. Ulama, sebagai pewaris para Nabi, memegang peranan krusial dalam membimbing umat agar tidak tergelincir ke dalam lubang kesyirikan yang sering kali muncul dalam bentuk yang halus dan tidak disadari.

Pembahasan mendalam mengenai persoalan ini disampaikan dalam Kajian Muslimah yang berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026, bertempat di Masjid Al Falah Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, narasumber Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan membedah tema penting bertajuk “Sikap Ulama Terhadap Tauhid”. Beliau menekankan bahwa tugas utama seorang ulama adalah melanjutkan misi kenabian, terutama dalam meluruskan hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta melalui pemahaman tauhid yang benar.

Ustadz Nadjih mengawali kajian dengan menegaskan strata mulia para ulama di sisi Allah. Merujuk pada Al-Qur’an dan Hadis, beliau menjelaskan bahwa ulama adalah sosok yang paling takut kepada Allah karena kedalaman ilmu mereka. Warisan yang mereka emban bukanlah harta benda duniawi, melainkan ilmu agama yang bersumber dari wahyu. Oleh karena itu, ulama memiliki tanggung jawab moral untuk mengajarkan apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan dua tugas pokok kenabian yang harus diteruskan oleh para ulama. Pertama adalah tashihus sillah bainal abdi wa rabbihi, yaitu meluruskan dan membimbing cara ibadah manusia agar sesuai dengan tuntunan syariat. Ibadah tidak boleh direkayasa atau dilakukan menurut selera pribadi, melainkan harus mengikuti pakem yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, mulai dari takbiratul ihram hingga salam, termasuk zikir-zikir setelahnya.

Tugas kedua yang tidak kalah penting adalah tashihul akidah, yakni memurnikan keyakinan hidup di dalam Islam. Ustadz Nadjih menekankan bahwa setiap nabi dan rasul yang diutus Allah selalu mendahulukan dakwah tauhid sebelum perintah ibadah lainnya. Hal ini dilakukan agar segala bentuk pengabdian yang dilakukan oleh umat didasari oleh keyakinan yang kokoh dan hanya ditujukan kepada Allah semata, tanpa adanya perantara atau tandingan.

Beliau kemudian memberikan analogi historis saat Nabi Muhammad SAW mengutus Muad bin Jabal ke Yaman. Pesan pertama yang ditekankan Nabi adalah mengajarkan syahadat atau tauhid kepada penduduk setempat. Baru setelah mereka memahami dan menerima tauhid, perintah salat lima waktu diperkenalkan. Pola dakwah ini menunjukkan bahwa tauhid adalah fondasi; jika fondasinya rapuh, maka bangunan ibadah di atasnya, seperti salat, zakat, dan puasa, akan mudah goyah atau kehilangan maknanya.

Salah satu dampak nyata dari lemahnya tauhid adalah munculnya sifat munafik dalam beribadah. Ustadz Nadjih mengingatkan bahwa orang munafik tetap melaksanakan salat, namun mereka melakukannya dengan rasa malas dan niat untuk pamer (riya). Tanpa tauhid yang kuat, ibadah hanya akan menjadi beban jasmani yang dilakukan demi penilaian manusia, bukan karena rasa cinta dan takut kepada Allah. Inilah mengapa pembelajaran tauhid tidak boleh dikesampingkan dalam kurikulum pendidikan agama.

Dalam kajian tersebut, dipaparkan pula bahwa misi para Rasul adalah mengajak manusia menyembah Allah dan menjauhi thaghut. Thaghut didefinisikan sebagai segala sesuatu yang disembah atau diikuti secara berlebihan selain Allah, baik itu berupa benda, orang, uang, maupun ideologi. Seseorang tidak akan pernah sukses dalam bertauhid selama ia masih memberikan ruang bagi pengabdian kepada selain Allah dalam hatinya, karena syirik adalah dosa paling besar yang melanggar hak eksklusif Sang Pencipta.

Fenomena yang cukup memprihatinkan saat ini adalah banyaknya umat Islam yang terjebak dalam praktik kesyirikan tanpa menyadarinya. Ustadz Nadjih menyoroti praktik berdoa atau memohon pertolongan kepada selain Allah, termasuk kepada nabi atau wali yang sudah wafat. Beliau mengingatkan kembali makna Iyyaka na’budu wa iyaka nasta’in, bahwa hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan, sehingga memalingkan doa kepada selain-Nya adalah bentuk kerusakan akidah.

Mengenai sikap ulama terhadap tauhid, Ustadz Nadjih membagi ulama ke dalam beberapa tingkatan. Kelompok ulama yang paling utama adalah mereka yang memahami secara mendalam arti penting tauhid beserta macam-macamnya, serta mengidentifikasi berbagai bentuk syirik yang ada di masyarakat. Mereka tidak hanya berdiam diri dengan ilmunya, melainkan secara aktif melaksanakan kewajiban membimbing umat dengan menggunakan hujah atau dalil yang kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.

Namun, jalan dakwah tauhid tidaklah mudah. Sebagaimana para nabi dahulu sering dituduh gila, dukun, atau penyihir, para ulama yang konsisten menyuarakan kebenaran akidah pun sering kali mendapatkan tentangan dan tuduhan serupa. Mereka dimusuhi oleh pihak-pihak yang merasa terganggu kenyamanannya dalam kebobrokan. Oleh karena itu, kesabaran menjadi kunci utama bagi para pendakwah dalam menghadapi penolakan dan ujian di tengah masyarakat.

Sebagai penutup, Ustadz Nadjih mengajak jamaah Muslimah Masjid Al Falah untuk terus istiqomah dalam menuntut ilmu, khususnya ilmu tauhid. Beliau menegaskan bahwa amal ibadah sebanyak apa pun akan sia-sia jika akidahnya rusak. Dengan memahami tauhid secara benar melalui bimbingan ulama yang lurus, diharapkan umat Islam dapat menjalankan kehidupan yang penuh berkah dan terhindar dari kehancuran baik di dunia maupun di akhirat.

Sumber: Kajian Muslimah Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan dengan tema “Sikap Ulama Terhadap Tauhid”.

E-Buletin