“Farming Pahala” di Bulan Ramadhan: Strategi Jadi ‘Hero’ Muttaqin di Hadapan Allah

Ustadz Dr. K.H. Hasan Ubaidillah, S.H., M.Si.
Ustadz Dr. K.H. Hasan Ubaidillah, S.H., M.Si.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum emas bagi setiap Muslim untuk melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kualitas jiwanya. Di tengah hiruk-pikuk disrupsi informasi dan godaan media sosial, menjaga kemurnian ibadah menjadi tantangan tersendiri yang memerlukan strategi khusus agar tidak terjebak dalam rutinitas tanpa makna.

Kajian mendalam mengenai hal ini dikupas tuntas dalam program Ngaji Ngabuburit bertajuk “Healing Ramadhan” yang berlangsung pada Rabu, 25 Februari 2026 atau 7 Ramadhan 1447 H. Bertempat di ruang utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, acara ini menghadirkan narasumber Al Mukarram Ustadz Dr. K.H. Hasan Ubaidillah, S.H., M.Si., yang menjabat sebagai Sekretaris Umum MUI Jawa Timur. Beliau membedah tema inspiratif mengenai cara “Mengukir Prestasi di Hadapan Ilahi.”

Dalam paparannya, Ustadz Hasan menekankan bahwa prestasi sejati di hadapan Allah bukanlah pencapaian materi atau jabatan, melainkan diraihnya derajat muttaqin. Gelar takwa ini merupakan “syahadah” atau ijazah tertinggi yang menjadi tujuan utama dari kewajiban berpuasa. Beliau mengingatkan bahwa surga yang luasnya seluas langit dan bumi hanya dipersiapkan secara khusus bagi mereka yang berhasil mengukir prestasi takwa tersebut selama hidupnya.

Menariknya, Ustadz Hasan menggunakan istilah yang akrab di telinga generasi muda, yaitu “farming pahala.” Seperti halnya dalam permainan digital di mana pemain mengumpulkan poin untuk meningkatkan level hero, Ramadhan adalah waktu terbaik bagi umat Islam untuk melakukan budidaya atau menanam poin-poin kebaikan. Dengan menaklukkan musuh utama berupa hawa nafsu, seorang Muslim dapat menaikkan level spiritualnya menjadi “hero” di hadapan Allah.

Keistimewaan puasa dibandingkan ibadah lain terletak pada sistem “reward” yang diberikan langsung oleh Allah. Jika amalan lain dilipatgandakan pahalanya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat, maka khusus untuk puasa, Allah sendiri yang akan menentukan balasannya tanpa batas. Hal ini dikarenakan puasa merupakan ibadah yang bersifat sangat privat, di mana seseorang benar-benar mengekang syahwat dan keinginannya murni hanya demi mencari ridha Ilahi.

Namun, mengukir prestasi ini tidaklah mudah di era media sosial. Ustadz Hasan mengingatkan tentang bahaya alkadibu atau dusta digital. Berbohong demi mendapatkan “like” atau menyebarkan informasi palsu (hoaks) melalui gawai dapat menghanguskan pahala puasa. Di era sekarang, mulut mungkin terdiam, namun jari-jemari di media sosial bisa menjadi sumber dosa yang sangat masif jika tidak dikendalikan dengan iman.

Selain dusta, penyakit hati lain yang sering muncul di dunia maya adalah ghibah berjamaah. Ustaz Hasan menyentil fenomena grup-grup WhatsApp yang sering menjadi wadah “rasan-rasan” atau membicarakan keburukan orang lain. Beliau berpesan agar jamaah menjaga integritas puasanya dengan tidak hanya memuasakan perut, tetapi juga memuasakan mata dan tangan dari aktivitas digital yang tidak bermanfaat dan cenderung destruktif.

Prestasi takwa juga diukur dari sejauh mana seseorang mampu menjadi pribadi yang dermawan atau loman. Ciri orang bertakwa adalah mereka yang tetap bersedekah baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Sedekah tidak harus selalu dalam jumlah besar, namun konsistensi dalam berbagi di jalan Allah merupakan indikator kuat bahwa seseorang sedang berada pada jalur prestasi spiritual yang benar.

Indikator prestasi selanjutnya adalah kemampuan menahan amarah atau wal kadhiminal ghaidh. Ustaz Hasan menjelaskan bahwa sabar bukan berarti pasif, melainkan mampu mengendalikan emosi saat menghadapi provokasi. Di dunia yang penuh dengan komentar negatif dan hujatan, kemampuan untuk tetap tenang dan tidak membalas keburukan dengan keburukan adalah bukti nyata dari kematangan jiwa seorang Muslim.

Beliau kemudian memberikan teladan nyata melalui kisah Rasulullah SAW yang tetap sabar dan menyuapi seorang Yahudi buta yang setiap hari mencaci-makinya. Kesabaran tingkat tinggi ini akhirnya berbuah hidayah, di mana orang tersebut masuk Islam setelah menyadari keagungan akhlak Nabi. Kisah ini menjadi pengingat bahwa prestasi di hadapan Allah seringkali dicapai melalui jalan kelembutan dan kasih sayang terhadap sesama.

Selain sabar, sifat pemaaf juga menjadi kunci utama. Orang yang sukses dalam “healing” Ramadhan adalah mereka yang mampu membersihkan hatinya dari dendam. Meminta maaf dan memberi maaf tanpa menunggu hari raya adalah bagian dari mengukir prestasi yang akan mendatangkan ketenangan jiwa. Tanpa adanya kelapangan dada untuk memaafkan, beban dosa dan penyakit hati akan terus menghambat progres spiritual seseorang.

Sebagai penutup, Ustadz Hasan menekankan bahwa barangsiapa yang berhasil meraih derajat takwa, maka Allah menjamin solusi atas segala persoalan hidupnya serta memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Dengan mengoptimalkan sisa hari di bulan suci ini untuk “farming pahala” dan memperbaiki akhlak, diharapkan setiap jamaah dapat keluar sebagai pemenang yang membawa pulang ijazah takwa demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sumber: Ngaji Ngabuburit yang berlangsung pada 7 Ramadhan 1447 H (25 Februari 2026) di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Bersama Ustadz Dr. K.H. Hasan Ubaidillah, S.H., M.Si.,  dengan tema utama “Tenang Jiwa, Kuat Raga, Manfaat”.

E-Buletin