Kabarmasjid.id, Solo – Keingintahuan manusia terhadap rahasia Al-Qur’an sering kali berbenturan dengan logika yang terbatas. Namun, melalui bimbingan para ulama, ayat-ayat yang tampak sulit dipahami justru menjadi pembuka jalan bagi keteguhan iman yang lebih dalam dan meyakinkan.
Kajian kitab Sofwatuttafasir karya Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni ini disampaikan oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi dalam Majelis Salaf Rouhah Siang yang berlangsung pada Jumat, 28 Februari 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo. Dalam suasana yang khidmat dan disiarkan secara langsung, beliau membedah kelanjutan tafsir Surah Al-Isra yang menitikberatkan pada perilaku orang musyrikin serta jawaban telak Al-Qur’an atas berbagai keraguan mereka.
Pada bagian awal, Ustadz Ali menjelaskan bagaimana Allah SWT menutup pintu pemahaman bagi orang-orang yang hatinya penuh dengan pengingkaran. Fenomena ini digambarkan melalui kisah orang-orang musyrik yang meskipun duduk secara fisik di dekat Rasulullah SAW, mereka mengaku tidak mendengar atau memahami apa pun dari ayat yang dibacakan. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa hidayah untuk memahami Al-Qur’an adalah hak prerogatif Allah yang harus dijemput dengan kerendahan hati.
Lebih lanjut, tulisan ini menyoroti ketidakkonsistenan kaum kafir Quraisy dalam melontarkan tuduhan kepada Rasulullah SAW. Ustadz Ali memaparkan bahwa mereka sering kali bingung dan berubah-ubah dalam menyebut beliau sebagai penyihir, penyair, atau orang gila. Ketidakkonsistenan ini justru membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat, dan Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya untuk melihat betapa kacau dan sesatnya permisalan yang mereka buat sendiri.
Salah satu poin menarik dalam kajian ini adalah penjelasan mengenai mukjizat keindahan bahasa Al-Qur’an, khususnya terkait pengulangan ayat. Ustadz Ali membandingkan perbedaan redaksi antara Surah Al-Isra dan Surah Al-An’am mengenai jaminan rezeki bagi anak. Perbedaan letak kata “kami beri rezeki mereka” dan “kami beri rezeki kalian” ternyata menyimpan rahasia psikologis dan konteks ketakutan manusia terhadap kemiskinan yang berbeda-beda.
Kajian ini juga menceritakan sejarah tuntutan penduduk Makkah yang meminta mukjizat fisik yang tidak masuk akal, seperti mengubah Bukit Shafa menjadi emas atau memindahkan gunung-gunung di sekitar Makkah agar tanah menjadi datar. Namun, Ustadz Ali menegaskan bahwa pemberian mukjizat fisik bukanlah jaminan seseorang akan beriman. Sejarah umat-umat terdahulu telah membuktikan bahwa meskipun mukjizat nyata telah hadir, mereka tetap mendustakannya jika hatinya telah terkunci.
Ustadz Ali kemudian mengisahkan kesombongan Abu Jahal yang mencoba menantang logika Al-Qur’an terkait keberadaan pohon Zaqqum di neraka. Abu Jahal dengan nada mengejek berargumen bahwa tidak mungkin ada tumbuhan yang bisa tumbuh di dalam kobaran api karena pasti akan hangus terbakar. Ia bahkan mengajak pengikutnya memakan kurma dan mentega sambil mengolok-olok ancaman Rasulullah SAW mengenai siksaan pohon tersebut di akhirat.
Jawaban atas logika sempit Abu Jahal ini dijawab dengan tegas oleh Ustadz Ali, bahwa pohon Zaqqum adalah pohon yang terlaknat dan diciptakan sebagai ujian bagi orang-orang zalim. Kekuasaan Allah tidak terbatas pada hukum alam duniawi yang kita kenal. Apa yang mustahil bagi akal manusia, sangatlah mudah bagi Sang Pencipta yang mampu menciptakan kehidupan di tengah kondisi yang paling ekstrem sekalipun.
Memasuki pembahasan tentang hari kebangkitan, kajian ini mengupas pertanyaan skeptis kaum musyrik mengenai tulang-belulang yang telah hancur dan menyatu dengan tanah. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin sesuatu yang sudah sirna bisa dirakit kembali menjadi manusia yang utuh. Keraguan ini dijawab dengan logika yang sangat telak oleh Al-Qur’an melalui penjelasan Ustadz Ali yang sangat mendalam dan sistematis.
Ustadz Ali menekankan bahwa menciptakan manusia dari ketiadaan (penciptaan pertama) secara logika jauh lebih menakjubkan daripada sekadar menghidupkan kembali yang sudah pernah ada. Jika Allah mampu mewujudkan manusia dari ketiadaan total, maka merakit kembali unsur-unsur yang pernah ada tentu merupakan hal yang sangat ringan bagi-Nya. Allah bahkan menantang manusia untuk menjadi batu atau besi sekalipun, Dia tetap sanggup membangkitkan mereka.
Kajian ini juga menyentuh misteri waktu terjadinya hari kiamat yang sering dipertanyakan dengan nada mengejek oleh orang kafir. Meskipun waktunya dirahasiakan, Al-Qur’an menegaskan bahwa saat itu sudah dekat (qoriba). Ustadz Ali menjelaskan bahwa dalam skala umur dunia, masa yang tersisa bagi umat manusia saat ini sangatlah singkat jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu yang berumur panjang.

Sebagai penutup, majelis ini menekankan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi hari kebangkitan dengan iman yang kokoh. Kajian di Masjid Riyadh Solo oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi ini tidak hanya memperkaya wawasan intelektual tentang tafsir, tetapi juga menyentuh sisi spiritual untuk senantiasa mensyukuri nikmat hidayah agar kita tidak termasuk golongan yang ditutup hatinya dari cahaya kebenaran.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang di Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi. membahas Tafsir Kitab Sofwatuttafasir karya Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni, khususnya pada bagian akhir Surah Al-Isra.