Menjemput Takwa di Sisa Ramadhan: Esensi Iman dan Tantangan Hedonisme Digital

Ustadz Drs. Muhammad Taufiq AB
Ustadz Drs. Muhammad Taufiq AB

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Memasuki fase sepuluh hari kedua di bulan suci Ramadhan, semangat spiritualitas umat Muslim diuji untuk tetap konsisten di tengah hiruk-pikuk aktivitas duniawi. Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah undangan eksklusif dari Sang Pencipta yang menuntut kesungguhan hati dan adab terbaik. Dalam sebuah kajian kultum tarawih yang khidmat di Masjid Al-Irsyad pada malam ke-11 Ramadhan 1447 H, Ustadz Drs. Muhammad Taufiq AB mengupas tuntas mengenai esensi keimanan dan tantangan menjaga kualitas ibadah di era modern.

Ustadz Drs. Muhammad Taufiq AB membuka ceramahnya dengan mengingatkan jamaah bahwa waktu Ramadhan sangatlah singkat, atau dalam istilah Al-Qur’an disebut ayyaman ma’dudat. Tak terasa, sepuluh hari pertama telah berlalu, dan kini umat berada di ambang fase pertengahan yang krusial. Beliau menekankan bahwa setiap detik di bulan ini adalah karunia besar yang belum tentu bisa dinikmati kembali di tahun-tahun mendatang, mengingat usia manusia adalah rahasia Allah.

Inti dari diterimanya ibadah Ramadhan, menurut beliau, terletak pada landasan imanan wahtisaba, yakni iman yang kuat dan pengharapan tulus akan rida Allah. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan harus disertai dengan rasa cinta (hubb), rasa takut (khauf), dan pengagungan (takzim). Ketika seseorang memiliki takzim yang tinggi, ia akan mempersiapkan diri dengan pakaian dan kondisi terbaik saat menghadap Allah di masjid, layaknya para sahabat Nabi dahulu.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa puasa memiliki tingkatan-tingkatan kualitas yang berbeda sebagaimana dirumuskan oleh Imam Ghazali. Tingkatan terendah adalah puasa orang awam yang hanya sekadar tidak makan dan minum. Sayangnya, banyak orang terjebak pada level ini sehingga puasa mereka tidak berdampak pada pembersihan dosa secara menyeluruh. Target setiap Muslim seharusnya adalah naik ke level puasa khusus atau bahkan khususil khusus.

Puasa khusus menuntut seseorang untuk tidak hanya menahan perut, tetapi juga menjaga seluruh panca indra. Lidah dijaga dari ghibah, mata dijaga dari pandangan yang tidak bermanfaat, dan hati dijaga dari penyakit batin. Sementara itu, puasa khususil khusus adalah puncaknya, di mana seseorang bahkan meninggalkan hal-hal mubah atau halal yang dianggap tidak memberikan manfaat untuk kepentingan akhiratnya demi menjaga kedekatan dengan Allah.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Taufiq juga menyoroti fenomena gaya hidup modern yang menjadi tantangan besar bagi kekhusyukan ibadah, yakni ketergantungan pada gadget dan media sosial. Beliau menyebut teknologi ini sebagai penemuan yang paling dahsyat karena mampu menguasai kehidupan manusia sepenuhnya. Jika tidak bijak, waktu berharga untuk tadarus atau zikir bisa habis hanya untuk menggulir layar (scrolling) tanpa arah.

Bahaya dari penggunaan media sosial yang tidak terkontrol selama Ramadhan adalah tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Beliau mencontohkan, seseorang mungkin berniat mencari ayat Al-Qur’an di internet, namun justru teralihkan oleh iklan atau konten yang tidak pantas. Hal inilah yang sering kali merusak pahala puasa dan membuat waktu Ramadan yang mahal menjadi terbuang sia-sia tanpa peningkatan kualitas ketakwaan yang nyata.

Ustadz Taufiq juga mengajak jamaah untuk merefleksikan kembali makna selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat bukan sekadar bacaan rutin, melainkan pernyataan komitmen untuk menjadikan Rasulullah sebagai panutan tunggal dalam segala aspek kehidupan. Dengan berselawat, seorang hamba sedang mengakui bahwa dirinya adalah pengikut setia yang akan membela dan menghidupkan ajaran-ajaran Nabi dalam keseharian, terutama di bulan penuh berkah ini.

Selain selawat, kekuatan doa menjadi poin penting yang disampaikan. Mengacu pada Surat Al-Baqarah ayat 186, Ustadz Taufiq menjelaskan betapa dekatnya Allah kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah berjanji akan mengabulkan doa setiap hamba yang memohon dengan tulus. Namun, syarat utamanya adalah pikiran dan hati harus hadir sepenuhnya saat berdoa, bukan sekadar komat-kamit sementara pikiran melayang ke urusan duniawi atau pekerjaan.

Beliau juga membagikan kisah inspiratif tentang Muadz bin Jabal, sahabat muda yang sangat dicintai Rasulullah. Muadz memiliki kesadaran spiritual yang sangat tinggi hingga ia mengatur tidurnya agar bernilai ibadah. Tidur bagi para sahabat bukan untuk bermalas-malasan, melainkan sebagai sarana untuk mengumpulkan energi agar bisa bangun malam dan beribadah dengan lebih segar di hadapan Allah, sebuah manajemen waktu yang patut ditiru manusia modern.

Menjelang akhir kajian, Ustadz Taufiq memberikan resep praktis agar Ramadan tahun ini menjadi yang terbaik, yakni dengan menjaga empat ibadah harian: salat yang khusyuk, interaksi intens dengan Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan konsistensi berselawat. Beliau mendorong jamaah untuk menghidupkan kembali tradisi iktikaf, terutama saat memasuki sepuluh malam terakhir, sebagai upaya sungguh-sungguh untuk menjemput keutamaan malam Lailatul Qadar.

Sebagai penutup, Ustadz Taufiq mengingatkan bahwa Ramadhan adalah hadiah luar biasa dari Allah yang harus direspons dengan kesungguhan. Tidak ada yang menjamin kita akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya, sehingga sisa waktu yang ada harus diisi dengan tobat dan perbaikan diri. Dengan memaksimalkan ibadah di sisa hari yang ada, diharapkan setiap Muslim keluar dari bulan suci dalam keadaan fitrah dan memiliki derajat ketakwaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Sumber: Kultum Tarawih yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Muhammad Taufiq AB di Masjid Al-Irsyad pada malam ke-11 Ramadan 1447 H.

E-Buletin