Meneladani Rasulullah: Mengapa Dzikir Harus Menjadi Nafas dalam Setiap Aktivitas Kita?

Ustadz Umar bin Husein Assegaf
Ustadz Umar bin Husein Assegaf

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Kajian Islam merupakan lentera bagi umat untuk memahami lebih dalam makna setiap ayat Al-Qur’an. Dalam suasana menyambut bulan suci, pemahaman mengenai sosok Nabi Muhammad SAW dan bagaimana kita berinteraksi dengan Sang Pencipta menjadi landasan penting bagi setiap mukmin.

Kegiatan Kajian Tafsir Al-Qur’an ini diselenggarakan pada tanggal 28 Februari 2026, bertempat di Masjid Jami’ Assegaf, dengan menghadirkan narasumber utama Ustadz Umar bin Husein Assegaf. Kajian yang mengangkat tema “Semarak Ramadhan 1447H” ini membedah secara mendalam beberapa ayat dalam Surat Al-Ahzab yang berkaitan dengan jati diri Rasulullah dan perintah berdzikir.

Ustadz Umar mengawali bahasannya dengan menjelaskan ayat ke-40 dari Surat Al-Ahzab yang menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW. Beliau menekankan bahwa secara hakikat, Nabi bukanlah ayah biologis dari laki-laki mana pun di antara umatnya. Penjelasan ini sangat penting untuk meluruskan sejarah mengenai status anak angkat di masa awal Islam.

Latar belakang turunnya ayat ini berkaitan erat dengan pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidatuna Zainab binti Jahsy. Kala itu, kaum munafik dan Yahudi melancarkan fitnah bahwa Nabi menikahi istri anaknya sendiri. Melalui ayat ini, Allah membantah tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa anak angkat memiliki status hukum yang berbeda dengan anak kandung.

Dalam aspek syariat, perbedaan ini berimplikasi pada hukum mahram, pernikahan, hingga pembagian waris. Ustadz menjelaskan bahwa hubungan anak angkat tidak menciptakan hubungan mahram sebagaimana anak kandung. Hal ini menunjukkan betapa detailnya Al-Qur’an dalam mengatur tatanan sosial dan kekeluargaan agar tidak terjadi kerancuan hukum di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, narasumber memaparkan fakta sejarah mengenai putra-putra Nabi. Beliau memiliki tujuh anak, di mana tiga di antaranya adalah laki-laki yaitu Qasim, Abdullah, dan Ibrahim. Namun, atas kehendak Allah, ketiganya wafat saat masih kecil, sehingga secara nyata Nabi tidak memiliki keturunan laki-laki yang sampai dewasa untuk menjadi pewaris nasabnya.

Pembahasan kemudian beralih pada gelar Nabi sebagai Khataman Nabiyyin atau penutup para nabi. Ustadz Umar menegaskan bahwa gelar ini secara otomatis mencakup peran beliau sebagai penutup para rasul. Beliau mengingatkan umat agar tidak tertipu oleh permainan kata-kata kelompok tertentu yang mencoba mengklaim adanya nabi atau rasul baru setelah masa Rasulullah SAW.

Setelah memahami sosok Rasul, kajian berlanjut pada perintah Allah kepada orang-orang beriman untuk memperbanyak dzikir (zikran katsira). Berdzikir kepada Allah bukan hanya dilakukan saat sedang duduk di atas sajadah, melainkan harus merasuk dalam setiap sendi kehidupan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam kesehariannya.

Ustadz menjelaskan bahwa setiap aktivitas manusia, mulai dari bangun tidur, memakai baju, masuk ke masjid, hingga keluar rumah, telah diajarkan doanya oleh Nabi. Dengan mengamalkan doa-doa harian ini, seorang mukmin secara otomatis masuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.

Bahkan dalam keadaan darurat seperti peperangan sekalipun, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk tetap teguh dan banyak berdzikir. Hal ini menunjukkan bahwa dzikir adalah sumber kekuatan batin yang luar biasa. dzikir menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah meskipun fisik sedang berada dalam tekanan yang berat.

Ustadz Umar juga membagikan kisah-kisah penuh hikmah tentang betapa luasnya rahmat Allah. Beliau mengutip kisah Imam Ghazali dan Imam Junaid yang mendapatkan ampunan Allah justru karena amal-amal yang mungkin dianggap sepele, seperti menyayangi seekor lalat atau mengerjakan dua rakaat salat malam dengan ringan namun ikhlas.

Sebagai penutup, Ustadz Umar mengingatkan bahwa tugas utama Rasulullah adalah sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan pelita yang bercahaya (Sirajan Munira). Beliau mengajak seluruh jemaah untuk memperbanyak selawat, agar kelak di hari kiamat diakui sebagai umat Nabi Muhammad dan mendapatkan syafaat serta rahmat yang tak terhingga dari Allah SWT.

Sumber: Kajian Tafsir Al-Qur’an Masjid Jami’ Assagaf oleh Ustadz Umar bin Husein Assegaf

E-Buletin