Kabarmasjid.id, Solo – Seringkali kita terpaku pada rutinitas dunia hingga lupa memperhatikan bagaimana alam semesta bekerja dalam harmoni yang sempurna. Dalam sebuah kajian tafsir yang mendalam, terungkap bahwa setiap jengkal ciptaan Allah, mulai dari birunya langit hingga gemericik air, sebenarnya sedang melantunkan pujian kepada Sang Pencipta. Memahami hakikat tauhid bukan sekadar meyakini keberadaan Tuhan, melainkan menyadari bahwa keteraturan jagat raya ini mustahil terjadi tanpa adanya Esa yang mengatur segalanya.
Kajian kitab Shafwatut Tafasir ini disampaikan oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi atau yang akrab disapa Habib Ali pada Kamis, 26 Februari 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo. Dalam majelis Salaf Rouhah Siang tersebut, beliau membedah isi Surah Al-Isra, khususnya mengenai bantahan terhadap keyakinan kaum musyrikin dan rahasia di balik ketidaksanggupan seseorang menerima hidayah Al-Qur’an melalui pemaparan yang jernih.
Pada awal penyampaiannya Habib Ali Bin Hasan menekankan pada pembuktian logis tentang keesaan Allah. Habib Ali Bin Hasan menjelaskan bahwa jika di alam semesta ini terdapat lebih dari satu tuhan, maka akan terjadi kekacauan sistemik. Sebagaimana persaingan kekuasaan antara raja-raja di dunia yang saling menghancurkan, dua tuhan atau lebih pasti akan berebut kehendak, misalnya dalam menentukan waktu terbitnya matahari. Keteraturan alam yang kita nikmati hari ini adalah bukti otentik bahwa hanya ada satu kekuatan tunggal yang berkuasa.
Melanjutkan bahasan tafsir, beliau menjelaskan fenomena tasbih seluruh makhluk. Berdasarkan ayat 44 Surah Al-Isra, ditegaskan bahwa langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Namun, tasbih mereka seringkali tidak dipahami oleh manusia karena perbedaan “bahasa” dan dimensi. Makhluk tak bernyawa bertasbih melalui ketundukan total mereka pada hukum alam yang telah ditetapkan oleh Allah.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa tasbih makhluk dibagi menjadi dua jenis, yakni tasbih bil-qul (dengan lisan) dan tasbih bil-hal (dengan keadaan). Bagi benda mati, wujud dan keindahan mereka adalah saksi atas keagungan Tuhan. Saat kita melihat pohon yang rimbun atau mendengar kicauan burung yang merdu, sebenarnya mereka sedang menunjukkan takzimnya kepada Allah. Keindahan tersebut sekaligus menjadi wasilah bagi manusia yang berakal untuk ikut bertasbih karena rasa kagum.
Kajian ini juga menyentuh aspek psikologis dalam beragama, khususnya mengenai sifat Al-Halim dan Al-Ghafur. Allah disebut sebagai Zat yang Maha Santun karena tidak terburu-buru memberikan hukuman atau kiamat kepada hamba-hamba-Nya yang bermaksiat. Sebaliknya, Allah justru tetap melimpahkan nikmat-Nya sambil menunggu hamba tersebut bertaubat. Tanpa kasih sayang dan ampunan-Nya, tidak akan ada satu pun manusia yang tersisa di muka bumi karena beban dosa mereka.
Menariknya, Habib Ali Bin Hasan membahas mengapa ada orang yang sangat sulit menerima kebenaran meskipun ayat Al-Qur’an dibacakan dengan jelas di hadapan mereka. Hal ini berkaitan dengan “hijab” atau penutup yang Allah letakkan pada hati dan telinga mereka sebagai konsekuensi dari pengingkaran yang terus-menerus. Hijab ini membuat seseorang hanya mendengar suara lahiriah dari Al-Qur’an, namun gagal menangkap rahasia, hikmah, dan hidayah yang terkandung di dalamnya.
Dalam konteks sejarah, kajian menceritakan bagaimana kaum musyrikin Quraisy melakukan berbagai cara untuk menghalangi dakwah Rasulullah SAW. Mereka menugaskan orang untuk bertepuk tangan atau bersiul keras saat Al-Qur’an dibacakan agar pesannya tidak sampai ke telinga masyarakat. Upaya fisik ini dibarengi dengan serangan mental berupa fitnah, menyebut Nabi Muhammad sebagai penyihir atau orang gila agar orang-orang asing yang datang ke Makkah merasa takut untuk mendekat.
Habib Ali Bin Hasan juga memberikan perbandingan antara tokoh-tokis Quraisy seperti Abu Jahal, An-Nadr bin Harits, dan Abu Sufyan. Meski mereka duduk di majelis yang sama dan mendengar suara yang sama, respon hati mereka berbeda-beda. An-Nadr mengaku hanya melihat bibir Nabi bergerak tanpa bisa memahami isinya, sementara Abu Sufyan mulai merasakan adanya kebenaran dalam ucapan Nabi. Hal ini menunjukkan bahwa pendengaran fisik tidak menjamin sampainya hidayah ke dalam hati.
Kekuasaan Allah juga ditunjukkan melalui perlindungan-Nya kepada Nabi saat peristiwa hijrah. Dikisahkan bagaimana Allah bisa membuat mata yang sehat milik musuh menjadi “buta” sehingga tidak mampu melihat keberadaan Rasulullah yang berada tepat di depan mereka. Ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa segala indra yang kita miliki bekerja sepenuhnya di bawah kendali dan izin Allah, bukan semata-mata karena fungsi biologisnya.
Kajian ini ditutup dengan pesan yang menyejukkan hati bagi para pegiat dakwah. Ustadz Ali menekankan bahwa tidak semua penolakan adalah kegagalan dakwah, melainkan karena Allah memang belum menghendaki hidayah bagi orang tersebut. Tugas manusia hanyalah menyampaikan dengan sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhir berupa terbukanya pintu hati adalah hak prerogatif Sang Pencipta yang mengetahui niat tulus setiap hamba-Nya.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir Masjid Riyadh Solo oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi