Meneladani Sabar dan Tauhid: Pesan Mendalam dari Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW

Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi
Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo –  Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut bulan suci Ramadan, suasana tenang dan khidmat menyelimuti Masjid Riyadh, Solo. Para jemaah berkumpul untuk mendalami lembaran sejarah mulia dalam kajian rutin yang membahas kitab Nurul Yaqin. Kajian ini mengajak kita kembali ke masa di mana fondasi peradaban Islam pertama kali diletakkan melalui peristiwa hijrah yang monumental.

Kajian Sirah Nabawiyah ini berlangsung di Masjid Riyadh Solo pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan menghadirkan Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi. Dalam pemaparannya, beliau membedah secara mendalam isi kitab Nurul Yaqin mengenai detail kepindahan Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah, yang dimulai dengan singgahnya beliau di sebuah desa subur bernama Quba.

Pada bagian awal pembahasan, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa Rasulullah tiba di Quba pada tanggal 20 September 622 Masehi. Beliau menetap di sana selama empat hari, sebuah durasi singkat namun memberikan dampak abadi bagi sejarah umat manusia. Di desa yang penuh kebun kurma ini, Rasulullah tidak sekadar beristirahat, melainkan langsung merumuskan langkah strategis bagi dakwah Islam di masa depan.

Salah satu momen paling krusial selama di Quba adalah peletakan batu pertama pembangunan Masjid Quba. Masjid ini tercatat dalam Al-Qur’an sebagai tempat yang didirikan atas dasar ketakwaan sejak hari pertama. Kehadiran masjid ini menjadi simbol bahwa titik tolak perjuangan Islam selalu dimulai dari pembinaan spiritual dan sujud kolektif kepada Allah SWT.

Ustadz Ahmad menekankan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan “Sunnah para Nabi”. Rasulullah SAW sebenarnya sedang menapaki jalan yang telah dilalui oleh saudara-saudaranya terdahulu, mulai dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Isa AS. Semua nabi pilihan Allah pernah mengalami penolakan di tanah kelahirannya sendiri sebelum akhirnya diperintahkan untuk berpindah demi menjaga Risalah Tuhan.

Sejarah mencatat bagaimana Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isa AS harus meninggalkan kaumnya demi ketaatan. Begitu pula kisah Nabi Yaqub dan anak-anaknya yang berhijrah ke Mesir untuk mendapatkan keamanan. Pola sejarah ini menunjukkan bahwa pengusiran bagi orang-orang baik bukanlah sebuah kehinaan, melainkan jembatan menuju kemuliaan yang lebih besar di sisi Allah.

Kajian ini juga menyentuh kisah Nabi Musa dan Harun yang membawa Bani Israil keluar dari penindasan di Mesir. Hijrah mereka bertujuan agar umat bisa menunaikan hak-hak Allah dalam beribadah secara merdeka. Hal ini paralel dengan kondisi umat Islam di Makkah yang selama 13 tahun hidup dalam tekanan berat sebelum akhirnya mendapatkan ruang bernapas di Madinah.

Menariknya, Ustadz Ahmad juga mengulas isi dakwah Nabi selama periode Makkah yang sangat mendasar. Seluruh ayat yang turun di Makkah (Makkiyah) fokus pada dua pilar utama: mengesakan Allah (Tauhid) dan keyakinan akan hari kebangkitan. Tanpa dua fondasi ini, seseorang akan sulit menjalankan norma adab dan akhlak karena hanya akan mengikuti hawa nafsu semata.

Pembahasan beralih pada perbedaan antara surat Makkiyah dan Madaniyah. Diinformasikan bahwa sebagian besar ayat Al-Qur’an turun di Makkah, kecuali sekitar 23 surat seperti Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa yang turun di Madinah. Pembagian ini bukan sekadar letak geografis, melainkan pergeseran fase dari penguatan akidah menuju pembentukan tatanan hukum masyarakat.

Satu hal yang menjadi perhatian dalam kajian ini adalah kesederhanaan infrastruktur di masa kenabian. Masjid Quba dan Masjid Nabawi pada awalnya dibangun dengan sangat bersahaja, menggunakan pelepah kurma dan dinding yang rendah. Fokus utama Rasulullah bukan pada kemegahan fisik bangunan, melainkan pada kebersihan hati dan kekhusyukan para jemaah di dalamnya.

Kesederhanaan tersebut membawa pesan kuat bagi umat masa kini agar tidak terjebak pada simbolisme semata. Di zaman di mana masjid-masjid dibangun dengan biaya miliaran dan ornamen mewah, kita diingatkan untuk kembali melihat esensi masjid sebagai pusat pembinaan jiwa dan ketaatan kepada Sang Pencipta, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah di Quba.

Sebagai penutup, Ustadz Ahmad memberikan refleksi mendalam bahwa setiap ujian dan pengusiran yang dialami pejuang kebenaran memiliki akhir yang manis jika dihadapi dengan sabar. Dengan memahami Sirah Nabawiyah, umat Islam diharapkan dapat memetik hikmah dari setiap langkah perjuangan Rasulullah untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini.

Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Siroh Kitab Nurul Yaqin Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi

E-Buletin