Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjalani rutinitas ibadah sehari-hari sering kali membuat kita terjebak dalam formalitas tanpa benar-benar memahami posisi spiritual kita di hadapan Sang Pencipta. Apakah kita termasuk hamba yang hanya sekadar menggugurkan kewajiban, atau justru mereka yang telah melampaui batas standar ketaatan? Melalui bedah kitab klasik, kita diajak untuk bercermin mengenai kualitas hubungan kita dengan Tuhan maupun sesama manusia secara lebih mendalam.
Kajian kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali ini dilaksanakan di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Senin, 23 Februari 2026 bersama KH. Ahmad Asyhar Sofwan, M.Pd.I. Dalam sesi tersebut, beliau menjelaskan secara detail mutiara ilmu yang ditulis oleh Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Penjelasan ini menjadi panduan praktis bagi jamaah dalam menata niat dan perilaku, terutama di tengah kesibukan duniawi yang sering kali melalaikan.
Kyai Ahmad Asyhar menekankan bahwa setiap hamba Allah memiliki derajat yang berbeda dalam memenuhi hak agamanya. Imam Al-Ghazali membagi tingkatan ini menjadi tiga bagian: Salim, Rabih, dan Khasir. Pembagian ini bukan sekadar klasifikasi teoretis, melainkan cermin bagi setiap individu untuk mengukur sejauh mana kesungguhan dan konsistensi mereka dalam beragama.
Derajat pertama adalah Salim atau orang yang selamat. Kelompok ini adalah mereka yang mencukupkan diri dengan menjalankan ibadah fardu dan meninggalkan kemaksiatan yang diharamkan saja. Meskipun mereka dikatakan taat dan selamat dari siksa, posisi ini dianggap sebagai tingkatan “pas-pasan” karena belum memaksimalkan amalan-amalan sunah yang bisa memperkaya kualitas spiritual seorang hamba.
Tingkatan kedua yang lebih tinggi adalah Rabih atau orang yang beruntung (laba). Hamba pada derajat ini tidak hanya terpaku pada kewajiban fardu, tetapi juga aktif mengerjakan berbagai kesunahan dan ibadah tambahan (nawafil). Mereka diibaratkan sebagai pedagang yang mendapatkan keuntungan besar karena dedikasinya yang melampaui standar minimal dalam beribadah.
Sebaliknya, derajat terendah adalah Khasir atau orang yang merugi. Kelompok ini adalah mereka yang sembrono dan ceroboh dalam menjalankan kewajiban pokok, seperti sering meninggalkan salat atau puasa tanpa uzur yang jelas. Melalui kajian ini, beliau memberikan peringatan keras agar kita setidaknya berusaha sekuat tenaga mencapai derajat Salim jika belum mampu menjadi hamba yang Rabih.
Selain hubungan dengan Tuhan, KH. Ahmad Asyhar juga menyoroti hubungan antarmanusia yang juga terbagi dalam tiga tingkatan. Derajat tertinggi dalam interaksi sosial adalah manusia yang memiliki sifat seperti malaikat. Mereka adalah individu yang kehadirannya senantiasa memberikan manfaat, membantu kesulitan orang lain, dan berusaha memasukkan rasa bahagia ke dalam hati sesamanya.
Derajat sosial kedua diibaratkan seperti bahaim (binatang ternak) atau jamadat (benda mati). Orang dalam kelompok ini memang tidak menyakiti atau mengganggu orang lain, namun kehadirannya juga tidak memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Mereka hidup dalam zonanya sendiri tanpa memberikan kontribusi positif yang bisa dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.
Tingkatan sosial yang paling berbahaya adalah mereka yang disamakan dengan kalajengking, ular, atau binatang buas. Orang-orang ini adalah mereka yang kebaikannya tidak bisa diharapkan sama sekali, sementara kejahatan dan lisan mereka sangat ditakuti oleh orang lain. Menjadi manusia pada tingkat ini merupakan kerugian besar karena hanya akan menebar mudarat di muka bumi.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, KH. Ahmad Asyhar juga menekankan pentingnya mencari “Ilmu Nafi” atau ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang benar bukan sekadar menambah wawasan intelektual, melainkan ilmu yang mampu menambah rasa takut kepada Allah, membuat kita sadar akan kekurangan diri sendiri, serta meningkatkan kerinduan pada kehidupan akhirat.
Lebih lanjut, beliau memberikan tips praktis mengenai manajemen niat dalam setiap aktivitas. Pekerjaan duniawi, seperti mencari nafkah, sebaiknya diawali dengan niat talabul halal agar bernilai ibadah. Dengan pondasi niat yang kuat, seorang hamba akan memiliki “rem” otomatis untuk menjauhi hal-hal yang tidak diridai oleh Allah SWT selama ia berikhtiar di dunia.
Sebagai penutup, kajian ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih dengan menjaga keseimbangan hubungan transendental dan sosial. Dengan memahami klasifikasi hamba menurut Imam Al-Ghazali ini, diharapkan kita mampu terus naik kelas agar tidak hanya menjadi hamba yang “selamat”, tapi juga hamba yang “beruntung” dan dicintai oleh penduduk langit maupun bumi.
Sumber: Kajian Menjelang Berbuka Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya bersama KH. Ahmad Asyhar Sofwan, M.Pd.I