Belajar dari Kisah Sahabat Nabi: Mengapa Lisan dan Amarah Bisa Meracuni Pahala Puasa Kita?

Ustadz Dr. Thoat Setiawan, S.H.I, M.H.I.
Ustadz Dr. Thoat Setiawan, S.H.I, M.H.I.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Tanpa landasan ilmu yang kuat, ibadah yang agung ini berisiko kehilangan ruhnya dan hanya menyisakan keletihan fisik semata. Penting bagi setiap Muslim untuk memahami bahwa kualitas puasa sangat ditentukan oleh sejauh mana seseorang mampu mengintegrasikan pemahaman agama ke dalam perilaku sehari-hari.

Ceramah tarawih yang inspiratif ini dilaksanakan di Masjid Al Falah Surabaya pada bulan Ramadhan 1447 Hijriah tepat pada Jum’at 19 Februari 2026, menghadirkan Ustadz Dr. Thoat Setiawan, S.H.I, M.H.I. Dalam ceramahnya yang bertema “Menyambut Ramadhan dengan Ilmu”, beliau menekankan bahwa ilmu adalah dasar utama bagi setiap hamba untuk menjalankan perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW secara sempurna.

Ustadz Thoat mengawali ceramah dengan mengingatkan jamaah akan sebuah hadis yang sangat populer namun penuh peringatan. Hadis tersebut menyebutkan bahwa banyak orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. Hal ini menjadi titik tolak penting untuk mengevaluasi kembali bagaimana cara kita menjalani ibadah di bulan suci ini.

Dalam paparannya, beliau mengisahkan asbabul wurud atau latar belakang munculnya hadis tersebut yang berkaitan dengan seorang sahabat perempuan di zaman Nabi. Kisah ini bermula dari seorang budak yang diutus majikannya untuk bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai amalan puasa. Namun, ada fakta mengejutkan di balik ibadah yang dilakukan oleh majikan perempuan tersebut.

Ternyata, meski menjalankan puasa secara fisik, majikan perempuan itu memiliki lisan yang tajam dan sering menyakiti orang lain melalui gibah atau membicarakan keburukan orang lain. Rasulullah SAW bahkan memerintahkan perempuan tersebut untuk memuntahkan makanannya sebagai simbol bahwa puasanya telah diracuni oleh perilaku buruknya sendiri.

Poin pertama yang ditekankan oleh Ustadz Thoat adalah bahaya sifat pemarah atau ghadbun. Beliau mengibaratkan orang yang mudah marah sebagai sosok dengan “sumbu pendek”. Di bulan Ramadan ini, sifat amarah tersebut harus dieliminasi dan dihapus dari dalam diri agar tidak merusak kesucian ibadah yang sedang dijalani.

Lebih lanjut, beliau merefleksikan sifat marah ini dalam kehidupan kontemporer, seperti saat kita terjebak kemacetan menjelang waktu berbuka. Suara klakson yang bersahut-sahutan dan kata-kata kasar yang keluar dari mulut adalah ujian nyata bagi kualitas puasa seseorang. Ilmu berperan sebagai pengontrol akal agar kita tetap sabar dalam situasi sulit sekalipun.

Poin kedua yang menjadi sorotan adalah pentingnya menjaga lisan dan perbuatan tangan. Di era digital saat ini, lisan tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga ketikan di media sosial. Ustadz Thoat mengajak jamaah untuk melakukan “puasa gadget” agar tangan kita tidak digunakan untuk menyebarkan keburukan atau menyakiti hati orang lain melalui gawai yang kita genggam.

Beliau mengingatkan kembali pesan Rasulullah SAW bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Jika tangan dan mulut kita tidak bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, maka mendiamkannya jauh lebih baik daripada membiarkannya menjadi sumber dosa yang menghapus pahala puasa.

Selanjutnya, penceramah menyoroti fenomena ibadah yang hanya bersifat ritualitas tanpa spiritualitas. Banyak umat Muslim yang berpuasa hanya untuk menggugurkan kewajiban secara hukum Islam, namun mengabaikan esensi transformasi batin. Puasa yang bermakna adalah puasa yang mampu membawa perubahan positif pada karakter dan kedekatan spiritual seseorang kepada Sang Pencipta.

Mengutip pandangan Imam Ad-Dailami, Ustadz Thoat menjelaskan bahwa ilmu agama adalah salah satu dari empat pondasi utama kokohnya kehidupan dunia, bangsa, dan negara. Dengan ilmu, seorang Muslim tidak akan tersesat dalam menjalankan ritual ibadahnya dan mampu memberikan kemaslahatan bagi lingkungan di sekitarnya.

Sebagai penutup, Ustadz Thoat memberikan pesan untuk menjadikan Ramadhan 1447 H sebagai momentum untuk memperbaiki diri dengan dasar ilmu yang benar. Harapannya, segala amal ibadah yang kita lakukan di bulan suci ini benar-benar diterima oleh Allah SWT dan memberikan keberkahan yang berkelanjutan dalam kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak.

Sumber: Ceramah tarawih di Masjid Al Falah Surabaya yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Thoat Setiawan, S.H.I, M.H.I. dengan tema “Menyambut Ramadhan dengan Ilmu”.

E-Buletin