Bukan Sekadar Menahan Lapar, Inilah Alasan Mengapa Ramadan Disebut Sebagai ‘Aura Surga’ di Dunia

Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc.
Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Memasuki bulan suci Ramadan, setiap Muslim tentu mendambakan keberkahan dan ampunan yang dijanjikan oleh Allah SWT. Suasana spiritual yang kental terasa di setiap sudut masjid, membawa pesan kedamaian bagi siapa saja yang melangkahkan kaki untuk beribadah. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah siraman rohani melalui kultum tarawih yang memberikan panduan praktis dalam menjalani bulan mulia ini dengan kualitas iman yang lebih baik.

Kajian mendalam ini disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. dalam acara Kultum Tarawih 1447 H Malam ke-02 yang diselenggarakan di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada Kamis 19 Februari 2026. Dalam tausiahnya, beliau menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah momentum besar untuk meraih tiket menuju surga yang pintunya kini sedang dibuka lebar-lebar oleh Sang Pencipta.

Ustadz Sholeh Drehem mengawali kajian dengan mengingatkan keutamaan malam tersebut yang bertepatan dengan malam Jumat, sang Sayyidul Ayyam atau pemimpin hari-hari. Beliau menjelaskan bahwa berada di malam Jumat dalam dekapan bulan Ramadan adalah kemuliaan di atas kemuliaan. Kehadiran jemaah di masjid untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih merupakan langkah awal yang sangat berharga untuk menghidupkan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW di waktu yang mustajab.

Salah satu sunah yang sangat ditekankan dalam kajian tersebut adalah membaca Surah Al-Kahfi. Mengutip hadis Rasulullah SAW, beliau menjelaskan bahwa barang siapa membaca 10 ayat pertama atau 10 ayat terakhir dari Surah Al-Kahfi, maka ia akan mendapatkan jaminan keselamatan dari fitnah Dajjal yang keji. Amalan ini menjadi benteng spiritual yang kuat bagi setiap mukmin di tengah hiruk-pikuk fitnah akhir zaman yang semakin nyata.

Selain Al-Kahfi, Ustadz Sholeh Drehem juga menyoroti keistimewaan Surah Yasin yang disebut sebagai jantungnya Al-Qur’an. Beliau menganjurkan umat Islam yang sedang dirundung banyak masalah untuk rutin membaca dan meresapi makna Surah Yasin setiap hari. Tak hanya sebagai penenang hati, surah ini juga memiliki keutamaan luar biasa untuk membantu memudahkan seseorang dalam menghadapi sakaratul maut jika dibacakan di sisi mereka yang akan berpulang.

Poin sentral dalam kajian malam itu adalah pemahaman mengenai Ramadan sebagai “Aura Surga” di dunia. Beliau menjelaskan bahwa selama satu bulan penuh, pintu-pintu surga dibuka 24 jam dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Fenomena spiritual ini merupakan sinyal kuat dari Allah SWT bahwa tidak sepantasnya umat Muhammad masuk ke dalam bulan Ramadan namun gagal meraih surga-Nya karena kelalaian sendiri.

Penghormatan Allah kepada hamba-Nya di bulan ini juga ditunjukkan dengan dibelenggunya setan-setan yang bengis. Ust. Sholeh menegaskan bahwa ini bukanlah sekadar kiasan, melainkan bentuk cinta Allah agar manusia dapat menikmati ibadah tanpa gangguan luar yang berarti. Dengan dibelenggunya setan, manusia diberikan ruang seluas-luasnya untuk melatih nafsu dan fokus mengejar rida Ilahi dalam setiap sujud dan rukuknya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ciri utama ahli surga adalah bersihnya hati dari segala bentuk permusuhan. Di surga tidak ada rasa hasad, iri, maupun kedengkian antar sesama penghuninya. Oleh karena itu, Ramadan harus dijadikan ajang latihan untuk membuang semua penyakit hati tersebut. Seseorang tidak akan bisa merasakan kekhusyukan dalam salat tarawih jika hatinya masih menyimpan dendam atau ketidaksukaan terhadap orang lain.

Kajian ini juga mengajak jemaah untuk mengevaluasi hubungan horizontal dengan sesama manusia, terutama keluarga terdekat. Beliau menekankan pentingnya memperbaiki hubungan dengan orang tua, pasangan, dan kerabat sebagai syarat meraih keberkahan Ramadan. Harmonisasi rumah tangga dan hubungan baik dengan tetangga adalah cerminan dari akhlak ahli surga yang harus dipraktikkan sejak masih berada di dunia.

Ustadz Sholeh Drehem mengingatkan bahwa setiap detik di bulan Ramadhan memiliki nilai pembebasan dari api neraka. Setiap orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan menghidupkan malamnya dengan salat tarawih mendapatkan jaminan perlindungan dari pedihnya azab neraka. Beliau memotivasi jemaah untuk menjadi “orang cerdas”, yaitu mereka yang selalu berorientasi pada kehidupan akhirat dalam setiap tindakan dunianya.

Menjelang akhir tausiah, beliau mengajak seluruh jemaah untuk memasang niat yang kuat agar sisa hari-hari Ramadan ke depan dijalani dengan konsistensi tinggi. Harapannya adalah agar setiap Muslim tidak hanya akrab di dunia, tetapi juga kembali dikumpulkan oleh Allah di surga kelak dalam suasana yang penuh keakraban, saling mengunjungi, dan bernostalgia atas amal-amal saleh yang pernah dilakukan bersama selama di masjid.

Sebagai penutup, Ustadz Sholeh Drehem memberikan mendalam bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang kembali di tahun-tahun mendatang. Dengan menjaga kualitas ibadah dan kebersihan hati, setiap mukmin memiliki kepastian untuk meraih kemenangan. Mari kita manfaatkan sisa waktu yang ada untuk terus bersujud dan memohon ampunan agar kita benar-benar keluar dari bulan ini sebagai hamba yang bertaqwa dan dicintai-Nya.

Sumber: Kultum Tarawih 1447 H Malam ke-02 yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Drehem, Lc. di Masjid Al-Irsyad Surabaya

E-Buletin