Kabarmasjid.id, Surabaya – Seringkali kita merasa hidup berjalan di tempat, terjebak dalam rutinitas yang menjemukan, atau bahkan merasa hampa di tengah gelimang materi. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: apakah hidup kita benar-benar sedang bergerak maju atau justru sedang mengalami penurunan kualitas spiritual? Kebangkitan hidup yang sejati ternyata tidak selalu diukur dari saldo rekening, melainkan dari sejauh mana ruh kita kembali hidup dan terhubung dengan Sang Pencipta.
Kajian Maghrib yang inspiratif bertajuk “Kebangkitan Hidup Adalah Kebangkitan Ruhiyah” ini dilaksanakan di Masjid Al Falah Surabaya pada Senin 16 Februari 2026. Menghadirkan Ustadz Drs. Akhmad Arqom, M.Pd., kajian ini mengupas tuntas bagaimana seorang Muslim seharusnya mengevaluasi kualitas hidupnya menjelang bulan suci Ramadhan. Beliau menekankan bahwa tanda-tanda kebangkitan hidup seseorang dapat dilihat dari empat indikator utama yang saling berkaitan.
Indikator pertama adalah munculnya rasa rindu dalam beribadah. Hidup yang mulai bangkit ditandai dengan perasaan ingin segera kembali bersujud dan menghadap Allah setelah satu ibadah selesai ditunaikan. Ibadah bukan lagi dianggap sebagai beban atau sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban, melainkan kebutuhan yang dirasakan semakin berkualitas dari waktu ke waktu.
Selanjutnya, kebangkitan hidup tercermin pada kesungguhan seseorang dalam memperbaiki karakter dan kepribadiannya. Ustadz Arqom menjelaskan bahwa semangat ibadah yang benar pasti berdampak pada akhlak, seperti menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan rendah hati. Orang yang hidupnya bangkit tidak akan pernah merasa cukup dengan akhlaknya saat ini, melainkan terus berusaha mengikis kesombongan dalam dirinya.
Tanda ketiga yang tidak kalah penting adalah semangat untuk terus memperlengkapi diri dengan ilmu pengetahuan. Hidup akan selalu mempertemukan kita dengan persoalan-persoalan baru yang membutuhkan solusi baru pula. Oleh karena itu, seseorang yang sedang mengalami kebangkitan hidup akan merasa perlu untuk terus belajar dan mengasah keahlian agar tetap relevan dan mampu memajukan kualitas hidupnya.
Indikator keempat adalah upaya menjaga kepercayaan, baik kepercayaan dari Allah maupun dari sesama manusia. Kepercayaan merupakan modal dasar yang sangat krusial dalam memulai segala urusan. Ketika seseorang menjaga amanah dengan baik, hal itu menjadi bukti bahwa ia sedang membangun fondasi hidup yang lebih kokoh dan bermartabat di mata pencipta maupun makhluk-Nya.
Dalam kajian ini, ditegaskan pula bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan materi. Ustadz Arqom mengambil contoh tokoh dunia yang memiliki kekayaan luar biasa namun mengaku tidak bahagia. Hal ini menunjukkan bahwa ada aspek spiritual atau ruhiyah yang seringkali terabaikan, yang jika tidak diperbaiki, akan membuat hidup terasa berjalan di tempat meski secara finansial nampak sukses.
Kunci untuk memulai kebangkitan ini adalah dengan memiliki cita-cita tinggi yang diikat melalui doa. Doa-doa harian, seperti doa di antara dua sujud, sebenarnya mengandung permohonan yang komprehensif mulai dari urusan ampunan, kasih sayang, derajat, hingga rezeki dan kesehatan. Namun, seringkali doa tersebut hanya lewat di lisan tanpa meresap ke dalam jiwa sebagai visi hidup yang nyata.
Kebangkitan hidup menuntut adanya kerja nyata selangkah demi selangkah. Kesadaran akan dosa harus diikuti dengan upaya menjauhi maksiat, dan keinginan untuk disayangi Allah harus dibuktikan dengan amal saleh. Tanpa tindakan konkret, cita-cita dan doa hanya akan menjadi angan-angan yang tidak akan mengubah keadaan hidup seseorang secara signifikan.
Selain itu, setiap individu harus menyadari kebebasan memilih yang diberikan Allah. Setiap pilihan, baik untuk menjadi pribadi yang lebih baik maupun sebaliknya, membawa konsekuensi masing-masing. Kebangkitan hidup terjadi saat seseorang berhenti menyalahkan keadaan atau orang lain atas kegagalannya, dan mulai mengambil tanggung jawab penuh atas masa depannya sendiri.
Sikap berbesar jiwa juga menjadi poin penting dalam proses ini. Setelah berikhtiar dan bekerja keras, seorang Muslim harus siap menerima apapun hasil yang ditetapkan Allah. Seringkali Allah menunda jawaban doa bukan karena tidak mendengar, melainkan karena kebijaksanaan-Nya yang lebih tahu kapan waktu terbaik bagi hambanya untuk menerima anugerah tersebut.
Sebagai penutup, Ustadz Arqom mengingatkan bahwa bulan Ramadhan selalu datang pada waktu yang sangat tepat, yakni saat jiwa manusia mulai merasa lelah dengan hiruk-pikuk dunia. Ramadhan menjadi wasilah atau sarana bagi kita untuk menumpahkan segala keluh kesah hanya kepada Allah, bukan di media sosial, sehingga optimisme hidup dapat kembali tumbuh dan rasa putus asa dapat sirna.
Dengan memahami bahwa kebangkitan hidup bersumber dari kebangkitan ruhiyah, kita diajak untuk memanfaatkan momen menuju Ramadhan ini sebagai titik balik. Semoga dengan memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, akhlak, dan ilmu, kita dapat merasakan kehidupan yang lebih bermakna, tenang, dan penuh keberkahan di masa yang akan datang.
Sumber: Kajian Maghrib Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz Drs. Akhmad Arqom, M.Pd dengan tema “Kebangkitan Hidup Adalah Kebangkitan Ruhiyah”